dr. Puska Primi Ardini, Sp.OG (K) – Seorang ibu yang akan melahirkan, pasti menginginkan dapat melahirkan secara normal, karena meskipun prosesnya memakan waktu, karena harus menunggu sampai pembukaan lengkap, tetapi rasa nyeri dan proses penyembuhan lebih cepat, dibandingkan dengan bedah sesar.

Tetapi jika ada indikasi medis, yang dimaksud adalah indikasi pada ibu atau janinnya, maka bedah sesar menjadi pilihan utama. Bedah sesar adalah proses melahirkan bayi yang dilakukan dengan cara menyayat bagian perut hingga rahim ibu.

Sayatan pada perut tersebut merupakan jalan keluarnya bayi dari dalam rahim. Dokter biasanya membuat sayatan memanjang dengan arah horizontal tepat di atas tulang kemaluan.

Kadang ibu sudah merasa ketakutan dulu sebelum bedah sesar itu sendiri terjadi. Beberapa opini di masyarakat tentang bedah sesar di antaranya :

  • Penyembuhan luka yang memakan waktu lama.
  • Nyeri saat beraktifitas.
  • Tidak dapat langsung menyusui.
  • Tidak dapat langsung hamil lagi.
  • Jika sudah pernah sesar, selanjutnya jika melahirkan harus sesar lagi.
  • Tidak boleh makan makanan tertentu supaya jahitannya tidak basah.
  • Nyeri punggung bekas anastesi tidak hilang-hilang.
  • Sering pusing kepala.
  • Dan lain sebagainya.

Beberapa kondisi yang mengharuskan dilakukan bedah sesar :

  • Kesejahteraan janin terganggu, janin kekurangan oksigen.
  • Pertumbuhan janin terhambat.
  • Anhidramnion (ketuban habis sama sekali).
  • Keracunan kehamilan (pre-eklampsia) dengan komplikasi.
  • Letak plasenta menutupi jalan lahir, sehingga berpotensi timbulnya perdarahan.
  • Letak lintang / letak sungsang.
  • Tali pusat menumbung (tali pusat keluar lebih dulu dan tertahan kepala janin).
  • Ada ketidaksesuaian antara ukuran panggul ibu dan kepala janin (panggul sempit).
  • Dan lain sebagainya.

Dokter akan menjelaskan mengapa harus dilakukan bedah sesar, sekaligus bagaimana prosedur operasinya, sehingga ibu tidak galau, dan mantap untuk menjalankannya. Begitu juga dengan metode anestesinya, ibu akan diberikan suntikan penghilang rasa nyeri sementara melalui punggung. Ada sedikit rasa tidak nyaman, tetapi kemudian akan berganti dengan rasa seperti kesemutan di daerah kedua belah kaki sampai dengan pusar, sampai kemudian tidak merasakan rasa nyeri. Ibu akan dipasang infus dan kateter sebelum operasi sampai dengan 2 – 3 hari pasca operasi. Sayatan sepanjang 10 – 15 cm dilakukan di atas tulang kemaluan, untuk mengeluarkan janin dan plasenta.

Pasca operasi,  2 – 3 jam kemudian, efek anestesi berangsur-angsur akan menghilang, rasa nyeri sedikit demi sedikit mulai terasa, tetapi tenang saja, karena biasanya dokter sudah memberikan obat anti nyeri melalui infus sehingga ibu tidak begitu merasakannya.

Kakipun sudah mulai dapat digerakkan, sehingga diharapkan beberapa jam setelah operasi, ibu sudah dapat melakukan mobilitas pasif, yaitu menggerak-gerakkan kaki, miring kanan kiri, sehingga luka daerah operasi pun menjadi lentur.

Jangan takut untuk bergerak, karena justru dengan bergerak, rasa nyeri akan segera hilang, otot-otot sekitar luka operasi menjadi lentur, dan penyembuhan justru akan lebih cepat.

Tetap mengkonsumsi makan bergizi dan tinggi protein dan menjaga hidrasi. Karena masih banyak mitos yang justru menyebutkan untuk tidak mengkonsumsi makanan tertentu, karena ditakutkan jahitan operasi tidak jadi. STOP yaa… tidak lagi percaya mitos.

Pasca operasi :

  • Boleh makan ikan bakar dok? Bole..
  • Ayam goreng? Boleh banget…
  • Telur balado? Sikaat…
  • Minum susu segar? Srupuuuut…
  • Capcay? Bakso? Soto? Yaaaaah… cepetan beli…
  • Apel, jeruk, pisang, buah pir, buah naga, dan teman-temannya yang lain…
  • Dan lain sebagainya.

Jangan lupa selalu berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan setempat, tetap harus jaga kebersihan diri, jaga imunitas diri, dan jaga diri baik-baik… karena kita masih dalam masa pandemi…

Sehat selalu bumil dan calon debay nya… Kalian luar biasa!