Waspadai Penyakit Thypoid?

PKRS RSST – Thypoid atau demam Tifoid (penyakit Tipes) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaaan dan gangguan kesadaran. Thypoid adalah penyakit infeksi sistematik akut yang disebabkan infeksi Salmonella tyhpi dan dapat ditularkan melalui berbagai cara yaitu food (makanan), fingers (jari tangan / kuku), vomitus (muntah), flies (lalat) dan feses. Organisme Salmonella tyhpi ini masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh feses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman Salmonella.

Demam Tifoid banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat.  Penyakit Tifoid berkaitan dengan hygiene pribadi dan sanitasi lingkungan seperti hygiene perorangan yang rendah, lingkungan yang kumuh, kebersihan tempat-tempat umum (rumah makan, restoran) yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup sehat. Sumber penularan utama demam Tipoid adalah penderita itu sendiri dan carrier, mereka dapat mengeluarkan berjuta-juta kuman Samonella typhi dalam tinja dan tinja inilah yang menjadi sumber penularan. Debu yang berasal dari tanah yang mengering, membawa bahan-bahan yang mengandung kuman penyakit yang dapat mencemari makanan.

Penularan penyakit ini adalah melalui air dan makanan yang terinfeksi Salmonella typhi. Kuman Salmonella dapat bertahan lama dalam makanan. Dengan adanya penularan tersebut dapat dipastikan hygiene makanan dan hygiene personal sangat berperan dalam masuknya bakteri ke dalam makanan. Demam Tifoid dapat berakibat fatal jika tidak dirawat. Penyakit ini dapat berlangsung selama tiga minggu sampai sebulan.

Beberapa masyarakat kurang memperhatikan pola makan yang sehat seperti makanan kurang dari 3 kali sehari, sering membeli jajanan di luar rumah yang belum tentu terjaga kebersihannya. Sampai saat ini penyakit demam Tifoid masih merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis termasuk Indonesia dengan angka kejadian sekitar 760 sampai 810 kasus pertahun dan angka kematian 3,1 sampai 10,4%.

Prevalensi demam Tifoid di Jawa Tengah sebesar 1,6% dan tersebar di seluruh Kabupaten/Kota dengan rentang 0,2 – 3,5%. Menurut data SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon), sepanjang tahun 2016 di Jawa Tengah tercatat sebagai provinsi dengan kasus penyakit suspek demam Tifoid tertinggi yaitu sebanyak 244.071 kasus yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah.

Pola makan adalah kebiasaan makan yang dikonsumsi sehari-hari. Pola makan terdiri dari frekuensi, jenis dan jumlah. Jenis makanan terdiri dari makanan pokok dan makanan selingan/jajan. Untuk memperkecil kemungkinan tercemar Salmonella typhi maka setiap individu sebaiknya memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Kecendrungan membeli makanan sendiri atau jajanan untuk di konsumsi sehari-hari merupakan penularan Tifoid dapat terjadi dimana saja dan kapan saja biasanya terjadi melalui konsumsi makanan di luar rumah atau di tempat-tempat umum, apabila makanan atau minuman kurang bersih. Dengan pola makan yang sehat, kondisi fisik tubuh akan lebih terjamin sehingga tubuh akan dapat melakukan aktifitas dengan baik pula.

Terjadinya peningkatan jumlah kasus demam Tifoid disebabkan karena demam Tifoid merupakan penyakit yang multifaktorial artinya banyak faktor yang dapat memicu terjadinya demam Tifoid antara lain umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, sanitasi lingkungan, personal hygiene serta tempat tinggal penderita yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit tersebut.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terserang Tifoid antara lain sanitasi buruk, tidak membersihkan tangan sebelum makan atau kurang bersih dalam mencuci makanan, mengonsumsi sayur-sayuran yang menggunakan pupuk dari kotoran manusia yang terinfeksi, mengonsumsi produk susu atau olahannya yang telah terkontaminasi, menggunakan toilet yang sudah terkontaminasi bakteri.

Agar terhindar dari penyakit Tifoid, disarankan untuk menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan dengan baik. Kebersihan lingkungan memegang peran yang sangat penting dalam penularan demam Tifoid. Sebaiknya tidak mengonsumsi makanan yang diduga tercemar atau yang kebersihannya patut dipertanyakan. (Tn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Nurdin Erpi. 2018. Hubungan Cemaran Bakteri Salmonella typhi pada Feses Anak Terhadap Personal Higiene di Kelurahan Kampung Makassar Timur Kota Ternate. Poltekkes Kemenkes Ternate. Jurnal Kesehatan Poltekkes Ternate Volume 11 Nomor 1, hlm. 48-49. Website : ejournal.poltekkesternate.ac.id
  2. Djamaludin Djunizar dan Setiawati. 2018. Penyuluhan tentang Demam Tifoid di SMA Negeri 01 Kotabumi Lampung Utara. PSIK Fakultas Kedokteran, Universitas Mahalayati, Bandar Lampung. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 1 Nomor 2, hlm. 63-65. Website : http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kreativitas/article/download/31/pdf.
  1. Ulfa Farissa dan Oktia Woro Kasmini Handayani. 2018. Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Pagiyanten. Epidemiologi dan Biostatistik Jurusan Ilmu
  1. Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Higeia Journal of Public Health Research and Development. Higeia 2 (2), hlm. 227-228. Website : http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia.
  2. https://hellosehat.com/infeksi/infeksi-virus/penyakit-musim-hujan-orangindonesia/#gref
  3. https://www.alodokter.com/tifus