Siti Nurrochmah Bayuningsih, S.Gz – Saat ini arah pembangunan kesehatan di Indonesia berfokus pada upaya promotif preventif atau promosi kesehatan dan pencegahan masalah kesehatan. Perbaikan gizi masyarakat difokuskan pada 1000 hari pertama kehidupan dan usia remaja menjadi salah satu komponen pembangunan kesehatan yang selanjutnya sebagai investasi dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing. Permasalahan kesehatan dan gizi saaat remaja akan mempengaruhi kualitas hidup pada usia selanjutnya.

Indonesia masih dihadapkan pada beban ganda masalah gizi dengan prevalensi yang tinggi yaitu stunting, wasting, dan obesitas serta kekurangan zat gizi mikro seperti anemia. Anemia merupakan dampak kelanjutan dari  kekurangan zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein, lemak dan kurang zat gizi mikro yaitu vitamin dan mineral. Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi anemia pada remaja sebesar 32%, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia.

Anemia merupakan suatu keadaan dimana kadar Hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah dari nilai normal untuk kelompok orang menurut umur dan jenis kelamin, pada wanita remaja hemoglobin normal adalah 12-15 g/dl dan pria remaja 13-17 g.  World Health Organization (WHO) (2017) menyebutkan anemia adalah suatu kondisi jumlah sel darah merah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh. Kebutuhan fisiologis seseorang bervariasi berdasarkan usia, jenis kelamin, tempat tinggal, perilaku merokok dan tahap kehamilan.

Dampak dari kejadian anemia pada remaja dapat menurunkan konsentrasi dan prestasi belajar, serta mempengaruhi produktivitas di kalangan remaja. Di samping itu juga dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi dan petumbuhan menjadi terhambat. Anemia dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang.

Penyebab langsung terjadinya anemia antara lain, defisiensi asupan gizi dari makanan (zat besi, asam folat, protein, vitamin C, riboflavin, vitamin A, seng dan vitamin B12), konsumsi zat-zat penghambat penyerapan besi seperti teh, penyakit infeksi, malabsorpsi, perdarahan dan peningkatan kebutuhan.

Akibat dari jangka panjang penderita anemia gizi besi pada remaja putri yang nantinya akan hamil, maka remaja putri tersebut tidak mampu memenuhi zat–zat gizi pada dirinya dan janinnya sehingga dapat meningkatkan terjadinya risiko kematian maternal, prematuritas, BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), dan kematian perinatal. Dampak rendahnya status besi (Fe) dapat mengakibatkan anemia dengan gejala pucat, lesu atau lelah, sesak nafas dan kurang nafsu makan.

Berbagai penelitian menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada remaja puteri secara umum meliputi :

  1. Pengetahuan Gizi

Pengetahuan gizi yang rendah atau kurang menyebabkan sebagian remaja tidak memahami apakah makanan sehari-hari yang dikonsumsi sudah memenuhi syarat menu seimbang atau belum.

  1. Pola Konsumsi

Ada beberapa zat gizi dalam makanan yang dapat meningkatkan ketersediaan / daya guna / penyerapan Fe, yaitu vitamin C, 3 beberapa asam amino, dan protein makanan pada umumnya. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah, dari darah ke jaringan-jaringan, salah satu yang diangkut oleh protein adalah zat besi. Kekurangan protein menyebabkan gangguan pada absorpsi atau penyerapan dan transportasi atau pengakutan zat gizi. Kejadian anemia selain dipengaruhi oleh asupan protein juga dapat dipengaruhi oleh asupan vitamin C. Vitamin C merupakan pendorong yang kuat untuk absorpsi besi non-heme yang pada umumnya berasal dari sumber nabati. Mekanisme absorpsi ini termasuk mereduksi ferri menjadi bentuk ferro dalam lambung.

Kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi teh dan kopi juga menjadi faktor lain yang menyebabkan banyaknya 83% penderita anemia. Makanan di Indonesia banyak mengandung inhibitor atau zat penghambat seperti phytate dan polyphenols. Sumber inhibitor atau zat penghambat tersebut antara lain : beras, protein kedelai, kacang tanah, kacang-kacangan, teh, kopi dan bayam. Kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya adalah mengkonsumsi teh setiap pagi dan setelah makan. Teh mempunyai banyak manfaat kesehatan, namun ternyata teh juga diketahui menghambat penyerapan zat besi. Hasil penelitian melaporkan bahwa teh hitam dapat menghambat penyerapan zat besi non-heme sebesar 79- 94% jika dikonsumsi secara bersama-sama. Kalsium yang terdapat pada olahan susu dan keju juga dapat menjadi inhibitor absorbsi besi.

Ketidakcukupan asupan gizi ini disebabkan karena pola konsumsi masyarakat Indonesia yang masih menggunakan sayuran sebagai sumber utama zat besi, masih sering konsumsi inhibitor penyerapan zat besi dan kurang konsumsi Vitamin C.

  1. Sosial Ekonomi

Kondisi sosial ekonomi keluarga memiliki pengaruh pada pola konsumsi pangan secara makro, dimana jika pendapatan keluarga semakin besar maka semakin beragam pola konsumsi masyarakat. Pendapatan keluarga merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga, hal ini juga akan berpengaruh pada uang saku anak dan kebiasaan anak untuk makan.

  1. Status Kesehatan

Infeksi penyakit yang memperbesar risiko anemia adalah infeksi cacing dan malaria karena dapat menghambat pembentukan hemoglobin. Diare dan ISPA juga dapat mengganggu nafsu makan sehingga berakibat pada penurunan konsumsi gizi. Status gizi adalah salah satu parameter untuk mengukur status kesehatan, karena status gizi merupakan cerminan akumulasi konsumsi zat gizi dari masa ke masa. Status gizi mempunyai korelasi positif dengan kadar Hb. Remaja puteri yang memiliki status gizi kurus / kurang memiliki resiko 1,4 kali untuk menderita kukurangan Hb atau anemia dibandingkan dengan yang memiliki status gizi normal.

  1. Aktifitas Fisik

Aktivitas fisik manusia mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah. Individu yang secara rutin berolahraga kadar hemoglobinnya akan naik. Hal ini disebabkan karena jaringan lebih banyak membutuhkan O2 ketika melakukan aktivitas. Tetapi aktifitas fisik yang terlalu ekstrim dapat memicu terjadinya ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan sistem pertahanan antioksidan tubuh, yang dapat memudahkan sel eritrosit mengalami hemolisis, yaitu terjadinya lisis pada membran eritrosit yang menyebabkan Hb terbebas dan pada akhirnya menyebabkan kadar Hb mengalami penurunan.

  1. Pola Menstruasi

Salah satu penyebab anemia adalah kehilangan darah, dan wanita mengalami siklus kehilangan darah secara alami ini tiap bulan. Jumlah kehilangan darah dipengaruhi oleh siklus serta lamanya haid. Kehilangan darah yang banyak dapat mengakibatkan anemia.

  1. Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan dan pengobatan anemia dapat ditentukan dengan memperhatikan faktor-faktor penyebabnya, jika penyebabnya adalah masalah nutrisi, penilaian status gizi dibutuhkan untuk mengidentifikasi zat gizi yang berperan dalam kasus anemia. Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan konsumsi besi.

Upaya pertama meningkatkan konsumsi besi dari sumber alami melalui pendidikan atau penyuluhan gizi kepada masyarakat, terutama makanan sumber hewani yang mudah diserap, juga makanan yang banyak mengandung vitamin C, dan vitamin A untuk membantu penyerapan besi dan membantu proses pembentukan hemoglobin.

Kedua, melakukan fortifikasi bahan makanan yaitu menambah besi, asam folat, vitamin A, dan asam amino essensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran.

Ketiga melakukan suplementasi besi folat secara rutin kepada penderita anemia selama jangka waktu tertentu untuk meningkatkan kadar hemoglobin penderita secara cepat.

  1. Pendidikan atau Penyuluhan

Pendidikan gizi secara 86 komprehensif yaitu pada anak anemia, guru dan orang tua diberikan dengan harapan pengetahuan gizi anak, guru dan orang tua serta pola makan makan anak akan berubah sehingga asupan makan terutama asupan besi anak akan lebih baik. Dengan asupan besi yang lebih baik, maka kadar hemoglobin anak akan meningkat.

  1. Peran Tokoh Masyarakat

Koordinasi antara guru dan tokoh masyarakat dengan petugas kesehatan atau Puskesmas agar selalu ditingkatkan untuk menanggulangi masalah anemia gizi pada remaja puteri dan wanita. Salah satu cara pemerintah dalam mengurangi angka kejadian anemia khususnya pada remaja putri adalah dengan memberikan tablet tambah darah. Upaya ini dilakukan sebagai usaha pemerintah membangun SDM melalui pemenuhan gizi seimbang bagi remaja.

Faktor yang menyebabkan terjadinya kesehatan remaja yang tidak prima salah satunya adalah kasus anemia. Pengertian dan pemahaman tentang anemia, dan akibat serta penyebabnya serta cara pencegahan dan penanggulangannya masih harus terus disosialisasikan pada seluruh lapisan masyarakat, utamanya untuk para remaja puteri karena kasus anemia dengan prevalensi anemia tertinggi terjadi pada kelompok usia remaja. Sosialisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melalui pendidikan gizi dan kesehatan reproduksi remaja serta pendidikan gizi bagi berbagai komunitas yang sudah ada, serta fortifikasi makanan dan pemberian tablet tambah darah. Upaya pencegahan anemia pada remaja melalui suplementasi Tablet Tambah Darah pada remaja putri merupakan intervensi spesifik yang sangat strategis, untuk mempersiapkan calon ibu yang sehat melahirkan generasi penerus yang berkualitas. Peran seluruh masyarakat baik  guru sebagai pendidik, orang tua, dan para tokoh masyarakat yang terlibat di dalam peningkatan kesehatan masyarakat secara menyeluruh sangat diperlukan.

Indonesia membutuhkan remaja yang produktif, kreatif, serta kritis demi kemajuan bangsa itu sendiri, dan remaja dapat mencapai produktifitas dan kreativitas yang maksimal serta mempunyai pemikiran yang kritis, apabila mereka sehat. Remaja sehat bukan hanya dilihat dari fisik, tetapi juga kognitif, psikologis, dan sosial. Perkembangan saat remaja, sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa.

Meskipun saat ini Indonesia masih dihadapkan pada situasi pandemi COVID-19, berbagai upaya modifikasi pelayanan kesehatan termasuk pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja puteri diharapkan tetap dapat dilakukan. Umumnya TTD remaja puteri didistribusikan melalui sekolah, namun dengan kebijakan belajar di rumah selama pandemi, pemberian TTD dapat dimodifikasi sesuai kebijakan daerah.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Fadila, Ila, dan Heny Kurniawati. 2018. Upaya Pencegahan Anemia Pada Remaja Puteri Sebagai Pilar Menuju Peningkatan Kesehatan Ibu. Universitas Terbuka. Diakses dari http://repository.ut.ac.id/7795/1/FMIPA2018-07.pdf tanggal 21 Januari 2021 jam 11.44 WIB.
  2. Julaecha. 2020. Upaya Pencegahan Anemia pada Remaja Putri. Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol.2 No.2, Juni 2020 Doi : 10.36565/jak.v2i2.105 p-ISSN: 2655-9266 e-ISSN: 2655-9218 109-112. Submitted : 22/03/2020 Accepted : 09/04/2020 Published : 16/06/2020 109.112. Diakses dari http://jak.stikba.ac.id/index.php/jak/article/view/105 tanggal 21 Januari 21 jam 10.00 WIB.
  1. https://promkes.kemkes.go.id/buku-panduan-hari-gizi-nasional-hgn-61-tahun-2021. Diakses tanggan 21 januari 2021 jam 09.40 WIB.
  1. https://www.kemkes.go.id/article/view/18112300003/pesan-untuk-remaja-putri-indonesia-cantik-itu-sehat-bukan-kurus.html. Diakses tanggal 21 Januari jam 09.00 WIB.