Pengobatan Asma

Tyas Kusuma Permana Sari, S.Farm, Apt – Ada 2 (dua) tujuan dalam pengobatan penyakit asma, yaitu meredakan gejala dan mencegah gejala kambuh. Untuk mendukung tujuan tersebut, diperlukan rencana pengobatan dari dokter yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Rencana pengobatan meliputi cara mengenali dan menangani gejala yang memburuk, serta obat-obatan apa yang harus digunakan.

Penting bagi pasien untuk mengenali hal-hal yang dapat memicu asma mereka agar dapat menghindarinya. Jika gejala asma muncul, obat yang umum direkomendasikan adalah inhaler pereda.

Apabila terjadi serangan asma dengan gejala yang terus memburuk (secara perlahan-lahan atau cepat) meskipun sudah ditangani dengan inhaler atau obat-obatan lainnya, maka penderita harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Meski jarang terjadi, serangan asma bisa saja membahayakan nyawa. Bagi penderita asma kronis, peradangan pada saluran napas yang sudah berlangsung lama dan berulang-ulang bisa menyebabkan penyempitan permanen.

Mengendalikan Penyakit Asma

Jika kebetulan mengidap asma atau hidup dengan asma sejak lama, jangan cemas dengan kondisi ini karena asma merupakan penyakit yang masih dapat dikendalikan asalkan :

  • Mengenali dan menghindari pemicu asma.
  • Mengikuti rencana penanganan asma yang dibuat bersama dokter.
  • Mengenali serangan asma dan melakukan langkah pengobatan yang tepat.
  • Menggunakan obat-obatan asma yang disarankan oleh dokter secara teratur.
  • Memonitor kondisi saluran napas.

Jika penggunaan inhaler pereda asma reaksi cepat makin meningkat, segera konsultasikan kepada dokter agar rencana penanganan asma disesuaikan kembali.

Selain itu, disarankan untuk melakukan vaksinasi influenza dan pneumonia secara teratur untuk mencegah memburuknya penyakit asma yang disebabkan kedua penyakit tersebut.

Penggolongan Obat Asma

Bronkodilator

Bronkodilator adalah kelompok obat yang digunakan untuk melegakan pernapasan, terutama pada penderita penyakit asma. Penderita asma akan mengalami penyempitan dan penumpukan lendir atau dahak di saluran pernapasan. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan berupa batuk, sesak napas, dan mengi. Untuk meredakan kondisi tersebut, dapat diberikan obat bronkodilator. Selain untuk meredakan asma, bronkodilator juga dapat digunakan untuk meredakan gejala penyakit obstruktif paru kronis.

Bronkodilator bekerja dengan cara melebarkan bronkus (saluran pernapasan) dan merelaksasi otot-otot pada saluran pernapasan sehingga proses bernapas menjadi lebih ringan dan lancar. Obat ini sering diberikan pada orang yang memiliki keluhan napas berat.

Ada tiga jenis obat bronkodilator yang umum digunakan, di antaranya :

  • Antikolinergik, contohnya ipratropium dan glycopyrronium.
  • Agonis beta-2, contohnya salmeterol, salbutamol, procaterol, dan terbutaline.
  • Methylxanthines, contohnya teofilin dan aminofilin.

Berdasarkan waktu kerjanya, bronkodilator dibagi menjadi dua, yaitu reaksi cepat dan reaksi lambat. Bronkodilator reaksi cepat diberikan untuk seseorang yang mengalami gejala sesak napas secara tiba-tiba. Sedangkan bronkodilator reaksi lambat biasanya ditujukan untuk mengontrol gejala sesak napas pada penderita penyakit paru-paru kronis atau asma.

Peringatan :

  • Jangan menggunakan bronkodilator bersamaan dengan obat-obatan lainnya tanpa petunjuk dari dokter, karena dikhawatirkan dapat menyebabkan efek samping yang membahayakan.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah menggunakan bronkodilator, segera temui dokter.
  • Ibu hamil, ibu menyusui, atau wanita yang sedang merencanakan untuk hamil, disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter sebelum menggunakan obat bronkodilator.

Bronkodilator tipe agonis beta-2 harus digunakan secara hati-hati oleh penderita :

  • Hipertiroidisme
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Diabetes
  • Tekanan darah tinggi
  • Aritmia
  • Pembesaran kelenjar prostat (Benign prostate hyperplasia)
  • Glaukoma
  • Sumbatan pada saluran kemih
  • Penyakit liver
  • Epilepsi
  • Tukak lambung

Dosis Bronkodilator

Berikut ini adalah jenis-jenis obat yang termasuk ke dalam golongan obat penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor). Untuk mendapatkan penjelasan secara lebih detail mengenai efek samping, peringatan, atau interaksi dari masing-masing obat ACE inhibitor, silakan lihat pada halaman Obat A-Z.

Glycopyrronium

Obat dalam bentuk inhaler yang direkomendasikan adalah 1 kali hirup dalam sehari, satu kali hirup mengandung 50 mikrogram (mcg) glycopyrronium.

Ipratropium

  • Meredakan asma dan penyakit paru obstruktif kronis.

Dewasa : sebagai inhaler 20-40 mcg, 3-4 kali sehari.

Jika diperlukan, dapat ditingkatkan menjadi 80 mcg dalam sekali penggunaan. Digunakan dalam alat nebuliser : 250-500 mcg, 3-4 kali sehari.

  • Anak-anak di bawah 6 tahun : 20 mcg, 3 kali sehari.
  • Anak-anak 6-12 tahun : 20-40 mcg, 3 kali sehari.

Salmeterol

  • Meredakan asma kronis.

Dewasa : sebagai inhaler : 50 mcg, 2 kali sehari.

Anak-anak 4-12 tahun : sebagai inhaler : 50 mcg, 2 kali sehari.

  • Mencegah terjadinya serangan asma saat melakukan aktivitas fisik.

Dewasa : sebagai inhaler : 50 mcg, digunakan 30 menit sebelum melakukan aktivitas fisik.

  • Anak-anak di atas 4 tahun : sama seperti dosis dewasa.
  • Meredakan gejala penyakit paru obstruktif kronis

Dewasa : sebagai inhaler : 50 mcg, 2 kali sehari.

Salbutamol

  • Melebarkan saluran pernapasan (bronkus) yang menyempit.

Dewasa : diberikan melalui nebuliser : 2,5-5 mg, hingga 4 kali sehari.

Sebagai inhaler : 90-100 mcg, 1-2 kali semprot. Dapat diberikan hingga 4 kali sehari. Dosis maksimum adalah 800 mcg per hari.

Obat minum : 2-4 mg, 3-4 kali sehari. Jika diperlukan, dapat ditingkatkan menjadi 8 mg, 3-4 kali sehari. Untuk lansia 2 mg, 3-4 kali sehari.

Anak-anak di atas 4 tahun : sama seperti dosis dewasa. Dosis maksimum adalah 400 mcg per hari. Obat minum : 1-2 mg per hari.

  • Mencegah serangan asma yang dipicu aktivitas fisik.

Dewasa : sebagai inhaler : 2 kali hirup per hari. Tiap hirup mengandung 90-100 mcg. Diberikan 10-15 menit sebelum melakukan aktivitas fisik.

Anak-anak 6-12 tahun : sebagai inhaler : 1 kali hirup, diberikan 10-15 menit sebelum melakukan aktivitas fisik. Satu hirup berisi 90-100 mcg.

Teofilin

  • Melebarkan saluran pernapasan (bronkus) yang menyempit.

Dewasa : obat minum : 5 mg/kgBB.

Anak-anak : sama seperti dosis dewasa.

Lansia : lebih rendah dari dosis orang dewasa.

Menggunakan Bronkodilator Dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan obat-obatan bronkodilator sebelum menggunakannya.

Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Usahakan untuk menggunakan bronkodilator pada jam yang sama setiap harinya, agar hasil pengobatan maksimal.

Bagi pasien yang lupa menggunakan bronkodilator, abaikan dosis yang terlewat. Jangan menambahkan atau menggandakan dosis pada jadwal penggunaan berikutnya.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Bronkodilator

Sama seperti obat-obat lain, bronkodilator berisiko menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang dapat terjadi setelah menggunakan bronkodilator adalah :

  • Gemetar, terutama di tangan
  • Kram otot
  • Sakit kepala
  • Jantung berdebar (palpitasi) atau aritmia
  • Sulit buang air kecil
  • Insomnia
  • Batuk
  • Sulit menelan
  • Sakit tenggorokan
  • Sembelit
  • Mulut kering
  • Mual
  • Diare