Tri Wiji Utami, S.Gz – Perhatian dunia terhadap penyakit tidak menular semakin meningkat seiring dengan peningkatan frekuensi kejadiannya. Dua dari sepuluh penyebab utama kematian di dunia disebabkan oleh penyakit tidak menular bahkan menjadi penyebab kedua teratas baik di negara maju maupun berkembang (WHO, 2014). Penyakit tidak menular (PTM) telah menjadi masalah besar di masyarakat Indonesia.

Penyakit tidak menular yang sering terjadi adalah penyakit kardiovaskular (penyakit jantung koroner, stroke), kanker, penyakit pernafasan kronik (asma dan penyakit paru obstruksi kronik) dan Diabetes Mellitus (Depkes RI, 2008). Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (American Diabetes Association, 2010). Insulin adalah hormon yang berperan penting pada metabolisme karbohidrat dalam tubuh. Jika insulin tidak ada atau berjumlah sedikit, maka glukosa tidak akan masuk ke dalam sel dan akan terus berada di aliran darah yang akan mengakibatkan keadaan hiperglikemia (Soegondo, 2009).

Berdasarkan data riskesdas 2018, prevalensi DM berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur >15 tahun meningkat menjadi 2% dibandingkan dengan Riskesdas 2013. Peningkatan prevalensi Diabetes Mellitus dipengaruhi oleh faktor risiko yang dapat di modifikasi / diubah khususnya akibat kurangnya aktivitas fisik, berat badan berlebih dan obesitas (WHO, 2014). Peningkatan obesitas di Indonesia dilihat dari IMT> 25 pada wanita umur >18 tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 sebesar 13,9%, selanjutnya tahun 2010 sebesar 15,5% dan tahun 2013 sebesar 32,9%, begitu juga pada laki-laki tahun 2007 sebesar 13,9%, tahun 2010 turun menjadi 7,8% dan meningkat kembali pada tahun 2013 sebesar 19,7%.

Obesitas adalah berat badan yang berlebih minimal 20% dari BB idaman atau indeks massa tubuh lebih dari 25 kg/m2. Obesitas merupakan suatu kondisi dimana tubuh seseorang memiliki kadar lemak yang terlalu tinggi. Kadar lemak yang terlalu tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Salah satu risiko yang dihadapi oleh orang yang obesitas adalah penyakit Diabetes Mellitus. Obesitas menyebabkan respon sel beta pankreas terhadap peningkatan glukosa darah berkurang, selain itu reseptor insulin pada sel di seluruh tubuh termasuk di otot berkurang jumlahnya dan kurang sensitif (Soegondo, 2009).

Menurut beberapa hasil penelitian, Diabetes Mellitus sangat erat kaitannya dengan obesitas. Pada penderita Diabetes Mellitus, pankreas menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup untuk mempertahankan kadar glukosa darah pada tingkat normal, namun insulin tersebut tidak dapat bekerja maksimal membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa karena terganggu oleh komplikasi-komplikasi obesitas, salah satunya adalah kadar lemak darah yang tinggi terutama kolesterol dan trigliserida (Olvista, 2011).

Diabetes Mellitus dapat dicegah dan dihindari sejak dini. Akan tetapi bagi orang yang sudah mengidap penyakit ini, maka harus ber’sahabat’ seumur hidup sehingga dibutuhkan perawatan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita mengambil langkah pencegahan untuk menghindari risiko berkembangnya penyakit ini. Salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga pola makan agar terhindar dari obesitas. Hal ini karena obesitas juga dapat dikaitkan dengan pola makan dan pola hidup yang monoton. Ada beberapa pilihan pengaturan makanan yang dapat diterapkan untuk mencegah dan menurunkan berat badan. Prinsipnya sama, yaitu rekomendasi jumlah kalori diet yang lebih rendah dibandingkan dengan total kebutuhan kalori  sehari. Fokus pengurangan kalori berasal dari lemak atau karbohidrat atau kombinasi keduanya.

Diet Defisit Seimbang (Balanced Deficit Diets)

Diet defisit seimbang yang dilakukan secara terus menerus dapat mencegah terjadinya obesitas. Komposisi diet defisit seimbang terdiri dari bahan makanan dan nutrisi yang seimbang, sama seperti yang direkomendasikan untuk populasi umum untuk menjaga kesehatan. Komposisi makronutriennya meliputi lemak sedang (20-30% kalori total) dengan pembatasan asupan lemak jenuh, cukup protein (15-20 % kalori total), cukup karbohidrat (55-60 %) dan tinggi serat (25-30 g/hari).

Sebagian besar orang obesitas yang sedang menurunkan berat badan dengan mengurangi asupan 500 kkal per hari selanjutnya akan mengkonsumsi lebih dari 1500 kkal per hari (jumlahnya sedikit lebih banyak dari diet rendah kalori).

Metoda diet defisit seimbang mudah diterapkan karena hanya mengurangi porsi yang tercantum dalam piramida makanan. Metode diet ini mudah dilakukan oleh siapa saja oleh karena hanya diperlukan sedikit perubahan kebiasaan makan, dimana pada dasarnya hanya mengurangi sumber gula dan lemak. Namun kekurangan metode ini, penurunan berat badan yang diharapkan berjalan relatif lambat. Dengan asupan 1500-1800 kkal per hari hanya mampu menurunkan berat badan kurang dari 0,5 kg per minggu pada perempuan dan 0,5-1,0 kg per minggu pada laki-laki.

Hasil penelitian mengenai diet rendah kalori dibandingkan diet rendah lemak selama pengamatan enam bulan didapatkan bahwa diet rendah kalori lebih baik dibandingkan diet rendah lemak dengan perbedaan penurunan berat badan 1,1 kg dalam 12 bulan dan 3,7 kg dalam 18 bulan pengamatan walaupun tidak berbeda secara signifikan. Hasil penelitian lainnya diet rendah kalori dengan asupan lemak cukup lebih baik dibandingkan asupan lemak terbatas dan didapatkan perbedaan penurunan berat badan sampai 14 kg selama 14 bulan.

Bagaimana Mengatur Diet Ini?

  1. Makanlah aneka ragam makanan.

Tidak ada satu pun jenis bahan makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan orang agar dapat hidup sehat dan produktif. Makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Idealnya setiap kali makan terdiri dari 4 kelompok hidangan : makanan pokok, lauk-pauk, sayur dan buah. Contoh panduan yang paling terkini adalah ‘Isi Piringku’.

Sumber Zat Tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari. Sumber zat tenaga berasal dari makanan yang mengandung karbohidrat dan lemak. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat yang dianjurkan berasal dari karbohidrat kompleks antara lain : beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti, mie, bihun, dan lain-lain. Jumlah porsi yang dianjurkan berkisar 3-8 porsi/hari. Batasi sumber zat tenaga yang mengandung lemak dan gula murni. Hindari minuman beralkohol. Bahan makanan yang mengandung lemak antara lain : minyak, margarine, dan santan.

Sumber Zat Pembangun. Zat pembangun atau protein berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan penyembuhan. Sumber zat pembangun yang berasal dari nabati antara lain tempe, tahu, dan kacang-kacangan. Sedangkan yang berasal dari hewani antara lain telur, ikan, ayam, daging dan susu serta hasil olahnya. Jumlah porsi yang dianjurkan masing-masing 2-3 porsi sehari.

Sumber Zat Pengatur. Zat pengatur berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh. Makanan sumber vitamin dan mineral ini banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Mengkonsumsi sayur 3-5 porsi sehari dan 2-3 porsi sehari sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan serat harian.

  1. Makanlah secukupnya, penuhi kecukupan energi. Tidak berlebihan tapi juga tidak kekurangan. Kecukupan energi ditandai dengan berat badan normal. Cukup energi untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti bekerja, belajar, berolahraga dan kegiatan lain. Kurangi porsi makanan pokok secara bertahap, ganti dengan sumber serat seperti sayuran dan buah-buahan.
  2. Membiasakan makan secara teratur, yang terdiri dari 3 kali makan utama (pagi, siang, malam) dan 1-2 kali makanan selingan. Dianjurkan porsi makan malam lebih sedikit dibandingkan dengan porsi makan pagi dan siang.
  3. Konsumsi cairan dalam jumlah cukup. Pada kondisi dewasa sehat minum 8-10 gelas air putih dapat memenuhi kebutuhan cairan harian.

 

 

 

 

Referensi               :

  1. American Diabetes Association. 2010. Standards of Medical Care in Diabetes – 2010. Diakses melalui diabetesjournals.org pada 12 Juli 2018.
  2. Arisman. 2011. Diabetes Mellitus. Dalam : Arisman, ed. Buku Ajar Ilmu Gizi Obesitas, Diabetes Mellitus dan Dislipidemia. Jakarta : EGC Arsano S. 2005.
  3. Almatsier, Sunita. 2005. Penuntun Diet. PT Gramedia Pustaka. Utama. Jakarta.
  4. Escout, Sylvia. 2008. Nutrition And Diagnosis Related Care Edisi 6. Lipincout Wiliam Publisher. USA.