dr. Adika Mianoki, Sp.S – Sekitar 50-60 % pasien stroke akan mengalami kesulitan dalam makan dan minum. Gangguan ini disebut dengan disfagia. Disfagia disebabkan oleh gangguan koordinasi otot atau tonus otot menelan yang dihubungkan dnegan gangguan fungsi hemisfer, nukelar, dan serabut saraf otak yang mempersarafi otot-otot mengunyah dan menelan. Pada umumnya, disfagia pada pasien stroke akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Namun pada beberapa kasus didapatkan bahwa disfagia memerlukan waktu lebih lama untuk membaik atau bahkan tidak membaik sama sekali.

Disfagia disebut akut bila terjadi dalam 1-5 hari setelah kejadian serangan stroke, dan disebut sub akut bila terjadi 21-28 hari pasca stroke. Kejadian disfagia dihubungkan dengan meningkatnya morbiditas (kecacatan) dan mortalitas (kematian) setelah kejadian serangan stroke.

Disfagia lebih banyak ditemukan pada pasien stroke perdarahan dibandingkan stroke sumbatan. Menurut American Stroke Association, disfagia didapatkan pada sekitar 65% pasien stroke. Disfagia yang bersifat sementara terjadi pada hampir 50% pasien stroke.

Mendeteksi Disfagia

Penting untuk mendeteksi gejala disfagia pada pasien yang mengalami serangan stroke sedari awal. Penderita stroke dengan disfagia dapat mengalami salah satu dari gejala klinis berikut :

  • Batuk dan tersedak ketika mencoba menelan makanan atau minuman.
  • Makanan lengket di dalam mulut atau kerongkongan.
  • Nyeri waktu menelan.
  • Liur menetes atau drooling.
  • Makanan maupun cairan tumpah ke hidung (nasal regurgitation).
  • Memerlukan waktu yang lebih lama untuk menghabiskan makanan dan minuman.
  • Suara terdengar basah dan tersedak setalah makan atau minum.
  • Jika makanan masuk ke saluran napas, terjadi infeksi paru dengan keluhan kesulitan bernapas dan demam.

Penanganan Disfagia

Penanganan disfagia pada stroke bertujuan untuk menurunkan risiko aspirasi, memperbaiki kemampuan makan dan menelan, serta mengoptimalkan status gizi. Strategi terapi menurut Agency for Health Care Research and Quality antara lain sebagai berikut :

  • Modifikasi Diet
    • Terapi ini digunakan jika pasien hanya mengalami aspirasi ketika menelan. Tes ini bertujuan untuk menilai konsistensi makanan yang dapat ditoleransi.
    • Pada pasien stroke dengan disfagia yang berat dan kemungkinan mengalami kurang gizi atau dehidrasi, dapat digunakan NGT (nasogastric tube), yaitu selang yang dimasukkan melalui lubang hidung melewati kerongkongan, dan masuk ke perut untuk membantu memasukkan minuman / makanan cair. 
  • Terapi Menelan, meliputi :
    • Compensatory techniques : teknik ini mengajarkan pasien untuk mengubah posisi (postural maneuver) untuk mengimbangi kesulitan menelan.
    • Indirect swallow therapy : teknik ini mengajarkan pasien untuk menjalani latihan untuk memperkuat otot yang lemah untuk mengatasi kesulitan menelan.
    • Direct swallow therapy : teknik ini mengajarkan pasien untuk melakukan latihan proses menelan.
    • Pada pasien stroke yang dirawat dan mengalami disfagia, biasanya dokter saraf akan mengkonsultasikan dengan dokter spesialis gizi klinik (Sp.GK) untuk pemberian diet yang sesuai dan mengkonsultasikan juga dengan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.KFR) untuk mendapat fisioterapi / latihan menelan yang sesuai.

Referensi : Salim Harris, Al Rasyid. Disfagia Pada Stroke. Stroke Komplikasi Medis dan Tatalaksana. Badan Penerbit FK UI : 2015.