dr. Adika Mianoki, Sp.S – Aneurisma otak adalah kondisi di mana pembuluh darah di otak menggelembung akibat melemahnya dinding pembuluh darah di suatu titik. Aneurisma otak disebut juga aneurisma serebral atau aneurisma intrakranial.

Aneurisma otak merupakan aneurisma yang paling sering terjadi selain aneurisma pada aorta abdominal. Aneurisma yang tidak pecah berpotensi menimbulkan gejala klinis dan jika ruptur atau pecah akan dapat mengancam jiwa.

Faktor Risiko Aneurisma Otak

Penyebab dan faktor risiko aneurisma otak, antara lain :

  • Berusia lebih dari 40 tahun
  • Memiliki gangguan pembuluh darah otak sejak lahir
  • Wanita
  • Memiliki hipertensi atau tekanan darah tinggi
  • Memiliki riwayat trauma kepala
  • Mengidap kanker atau tumor kepala dan leher
  • Memiliki riwayat keluarga dengan aneurisma otak
  • Mengonsumsi alkohol
  • Merokok
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang

Gejala Aneurisma Otak

Pada umumnya tidak akan ada gejala yang muncul jika aneurisma pada otak tidak mengalami ruptur atau pecah. Hal tersebut membuat pengidapnya seringkali tidak menyadari adanya kelainan ini. Aneurisma otak umumnya diketahui dari pemeriksaan medis rutin (medical check up). Pada beberapa aneurisma yang cukup besar dapat menekan jaringan atau saraf sekitar sehingga akan timbul berbagai keluhan, seperti :

  • Nyeri kepala
  • Pandangan buram atau ganda
  • Nyeri di atas dan di belakang mata
  • Gangguan komunikasi
  • Kelemahan dan baal pada sebagian wajah

Aneurisma otak dapat menimbulkan gejala yang serius dan menjadi kondisi yang gawat darurat jika pecah sehingga menyebabkan perdarahan sub arakhnoid. Gejala yang muncul antara lain :

  • Nyeri kepala tiba-tiba
  • Rasa kencang dan kaku di leher
  • Mual dan muntah
  • Gangguan keseimbangan, sehingga sulit berjalan
  • Nyeri saat melihat terang
  • Kejang
  • Kehilangan kesadaran

Cara Mendiagnosis Aneurisma Otak

Penegakkan diagnosis aneurisma otak akan dilakukan oleh dokter, khususnya dokter spesialis saraf. Pertama-tama, pengidap akan ditanyakan mengenai gejala, riwayat penyakit terdahulu dan riwayat penyakit dalam keluarga, serta kebiasaan sehari-hari. Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis jika ada kecurigaan ke arah aneurisma otak. Berikut ini beberapa pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan, seperti :

  1. CT Scan kepada disertai CTA (CT Angiography)
  2. MRI kepala disertai MRA (MR Angiography)
  3. Digital Substraction Angiography (DSA) serebral, yang merupakan alat diagnosis standar baku emas untuk mendeteksi aneurisma otak.

Pengobatan Aneurisma Otak

Berdasarkan tahapannya (belum pecah dan sudah pecah) terapi aneurisma otak dapat dibagi menjadi dua.

  • Pada aneurisma yang berukuran kecil, belum pecah, dan tidak menimbulkan gejala, maka terapi yang dapat dilakukan adalah dengan observasi rutin serta melakukan tindakan pencegahan agar aneurisma tidak semakin membesar dan mudah pecah.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan, seperti :

  • Tidak mengonsumsi obat-obatan stimulan (baik yang legal maupun terlarang)
  • Tidak merokok
  • Menjaga tekanan darah normal
  • Mengonsumsi makanan yang tidak berlemak tinggi
  • Membiasakan pola makan yang sehat
  • Membatasi konsumsi kafein karena dapat meningkatkan tekanan darah
  • Menghindari mengangkat berat
  • Mengurangi berat badan

Dianjurkan untuk melakukan tindakan pembedahan kepada pengidap aneurisma otak yang berisiko untuk pecah.

  • Jika aneurisma otak pecah, maka hal ini merupakan kondisi gawat darurat dan harus dilakukan tindakan pembedahan yang segera. Terapi ini bertujuan untuk mencegah darah mengalir ke tempat pecahnya aneurisma. Prosedur yang dapat dilakukan, antara lain :
    • Terapi endovaskular (coilling atau tindakan intervensi lainnya).
    • Pembedahan (clipping atau tindakan bedah lainnya).

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala yang sesuai dengan aneurisma otak yang disebutkan di atas, hendaknya segera periksakan ke dokter spesialis saraf. Adapun jika mengalami kondisi kegawatan seperti nyeri kepala hebat, mual muntah, kejang, penurunan kesadaran maka harus segera dibawa ke unit gawat darurat.

Referensi :

  1. Konsensus Nasional Neurointervensi. Kelompok Studi Neurointervensi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2020.
  2. Web MD. Brain Aneurysm : Symptoms, Causes, Diagnosis, & Treatments. 2020.