Corona Dalam Perspektif Psikologis Pasien dan Masyarakat

Tim Humas RSST – Bicara prosedur isolasi, pasien yang under investigation, suspect, atau bahkan sudah terjangkit Novel Coronavirus, harus ditempatkan di ruangan khusus rumah sakit yang menjadi rujukan. Ia juga harus mendapat pengawasan ketat tenaga medis. Pasien tidak diperbolehkan melakukan kontak dengan orang lain. Dengan demikian, interaksi dengan dunia luar harus terputus sementara. Hal tersebut berpengaruh terhadap kesehatan mental pasien dalam kasus wabah Virus Corona, tidak menampik kemungkinan pasien akan merasa cemas dan takut.

“Ketika manusia diisolasi, apalagi dalam kondisi yang tidak sehat, lalu dia tahu persis lewat berita bahwa Corona itu menjadi wabah dunia, sudah pasti sebagai individu dia merasa takut. Takutnya, ‘Aduh saya mati enggak, ya?’ Atau ‘penyakit ini akan bertambah parah atau tidak, ya?’.

Selain itu pasien juga akan merasa dirinya diasingkan saat berada di ruang isolasi. Lalu timbul perasaan kesepian dan rasa bersalah di benak mereka. Segala bentuk emosi tersebut kemudian akan memicu hormon dopamin pada otak. “Kalau hormon dopamin meningkat levelnya, maka akan menyebabkan kecemasan, trauma, dan yang paling parah bisa menyebabkan gejala psikotik”.

Gejala psikomatik yang dimaksud salah satunya seperti muncul halusinasi. Di saat hormon dopamin meningkat levelnya, kadar hormon serotonin justru menurun. Padahal, hormon serotonin berfungsi untuk menjaga tingkat stres seseorang. Pada tubuh, reaksi yang akan timbul ketika kadar hormon serotonin ini menurun bisa memengaruhi sistem pencernaan manusia. “Bisa dibayangkan, kalau terkena Virus Corona, sudah ada flunya, sesak napas, ditambah lagi perasaan seperti dikurung, diasingkan, lalu level serotoninnya rendah, kalau kena pencernaan? Bisa bertambah masalahnya”. Oleh karena itu, pasien yang diisolasi pastinya membutuhkan pendampingan seseorang agar tidak merasa kesendirian dalam ruang isolasinya, dalam hal ini peran seorang psikiater sangat dibutuhkan. Karena seseorang pasti butuh untuk mengekspresikan pikiran dan mencurahkan isi hatinya. Dengan adanya pendampingan diharapkan dapat menjadi obat penenang untuk meredakan kecemasan yang dialami pasien.

Selain dilihat dari sisi pasien, dampak psikologi juga bisa ditimbulkan dari maraknya pemberitaan yang tidak sesuai dalam masyarakat sehingga dapat menimbulkan kecemasan dalam masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang semula secara psikologis dalam keadaan baik, secara tiba-tiba menjadi turun secara mentalitasnya dikarenakan pemberitaan yang harusnya disikapi dengan cara yang biasa dan waspada, berubah menjadi kecemasan dan kepanikan yang luar biasa. (Dn)

 

 

 

Referensi :

  1. World Health Organization
  2. Kumparan.com