Tim Promkes RSST – Mudik merupakan fenomena sosial di Indonesia yang terjadi setiap tahun. Mudik pada dasarnya dimaknai sebagai pulang ke kampung halaman, khususnya pada hari-hari besar seperti hari lebaran. Fenomena mudik mulai menjadi trend sejak berkembangnya kota-kota besar di Indonesia pada awal tahun 1970-an (Somantri, 2007). Sejak tahun 70-an, kota-kota berkembang sebagai simpul sumber penghidupan sekaligus tempat singgah bagi para pendatang yang berasal dari berbagai daerah.

Fenomena sosial yang terjadi hampir di setiap tahunnya ini, merupakan sebuah fenomena yang sangat berarti bagi seorang perantau yang jauh dari kampung halaman, rindu akan suasana kampung halaman dan juga rindu sanak saudara, tetangga dan juga mungkin kenangan di masa lampau. Kita ketahui mudik dari tahun ke tahun, mudik tidak pernah menjadi hal yang mengkhawatirkan selain persoalan kemacetan. Namun, pada tahun 2020 sampai saat ini, mudik menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan karena adanya pandemi COVID-19 yang juga melanda Indonesia saat ini dan juga belum adanya kemungkinan untuk menurun.

Pada masa pandemi COVID-19, kota-kota besar tidak hanya menjadi simpul kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi simpul penyebaran COVID-19. Mobilitas manusia yang tinggi di wilayah perkotaan kini menjadi faktor utama dalam penyebaran COVID-19. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mobilitas manusia sangat berperan dalam penyebaran wabah. (Hisi dkk., 2019; Merler & Ajelli, 2012; Universitat Rovira i Virgili, 2018)

Dalam hal ini, fenomena mudik dipandang sangat mengkhawatirkan karena berpotensi menyebarkan COVID-19. Kita ketahui bersama, bahwa Pulau Jawa menjadi wilayah yang paling rentan karena memiliki aktivitas mudik yang tinggi dibandingkan dengan wilayah lain. Hal ini juga terlihat dari padatnya penduduk Pulau Jawa.

Pandemi COVID-19 tidak menjadi penghalang bagi penduduk untuk melakukan kegiatan mudik di samping soal kultur masyarakat, motivasi mudik yang dimiliki sebagian penduduk pada tahun ini juga disebabkan oleh beberapa alasan, di antaranya karena adanya ketidakpastian atau hilangnya pekerjaan akibat dampak COVID-19, berpisah dari keluarga, perubahan lingkungan sosial, dan takut tertular virus. (Ivakhnyuk, 2020)

Mudik menjadi sangat mengkhawatirkan karena membuka potensi bahaya lainnya karena pemudik belum tentu 100 % bebas dari virus. Pemudik sangat berpotensi menjadi carrier atau pembawa virus dari daerah yang telah terpapar COVID-19 sehingga dapat menjadi sumber penularan dan memperluas wilayah keterpaparan COVID-19. Potensi virus menginfeksi lebih banyak orang semakin besar sehingga episentrum COVID-19 bisa muncul akibat tingginya aliran mudik ke suatu wilayah. Hal ini terbukti dengan fakta bahwa Jatim dan Jateng sebagai wilayah yang diperkirakan menjadi wilayah terbesar sebagai penerima pemudik kini telah menjadi episentrum baru penyebaran COVID-19 dan menempati 5 besar wilayah dengan jumlah kasus positif tertinggi di Indonesia (Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, 2020).

Potensi pola aliran mudik dan penularan yang telah diulas sangat mungkin terjadi baik pada tahun ini maupun pada tahun berikutnya jika pandemi belum usai. Intervensi pemerintah sangat diperlukan dalam mengantisipasi penyebaran COVID-19, salah satunya dengan mengeluarkan larangan mudik dan juga mengatur kebijakan transportasi darat dan udara untuk membatasi mobilitas penduduk seperti yang telah dilakukan pada tahun ini. Di samping itu, larangan mudik juga harus didukung dengan kesadaran dan kedisiplinan masyarakat serta koordinasi yang baik antar pemerintah daerah agar antisipasi penyebaran COVID-19 dapat berjalan Optimal. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Hisi, A. N. S., Macau, E. E. N., dan Tizei, L. H. G. 2019. The Role of Mobility In Epidemic Dynamics. Physica A : Statistical Mechanics and Its Applications, 526, 1-8. https://doi.org/10.1016/j.physa.2019.03.028
  1. Ivakhnyuk, I. 2020. Coronavirus Pandemic Challenges Migrants Worldwide and In Russia. Population and Economics, 4 (2), 49-55. https://doi.org/10.3897/popecon.4.e53201
  1. Merler, S., dan Ajelli, M. 2012. Human Mobility and Population Heterogeneity In The Spread of An Epidemic. Procedia Computer Science, 1 (1), 2237-2244. https://doi.org/10.1016/j.procs.2010.04.250
  2. Somantri, G. R. 2007. Kajian Sosiologis Fenomena Mudik. Universitas Indonesia. http://staff.ui.ac.id/system/files/users/gumilar.r 09/publication/kompilasi-buku.pdf
  3. Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. 2020. Peta Sebaran. Retrieved 4 Juni 2020.
  4. Universitat Rovira i Virgili. 2018. Mobility Patterns Influence The Spread and Containmen of An Epidemic : Mathematical Model Predicts The Spread of Diseases In Situations Of Recurring Mobility. Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2018/01/180118101224.htm
  5. Jurnal Kependudukan Indonesia | Edisi Khusus Demografi dan COVID-19, Juli 2020 | 21-26.