Tim Promkes RSST – Mudik merupakan fenomena sosial di Indonesia yang terjadi setiap tahun. Mudik pada dasarnya dimaknai sebagai pulang ke kampung halaman, khususnya pada hari-hari besar seperti hari Lebaran. Fenomena mudik mulai menjadi tren sejak berkembangnya kota-kota besar di Indonesia pada awal tahun 1970-an (Somantri, 2007). Sejak tahun 70-an, kota-kota berkembang sebagai simpul sumber penghidupan sekaligus tempat singgah bagi para pendatang yang berasal dari berbagai daerah.

Warga kota, khususnya pendatang dari desa yang telah bermigrasi cukup lama ke kota biasanya melakukan aktivitas mudik pada hari libur kerja yang panjang dan bermakna kultural seperti Lebaran, Natal maupun Tahun Baru (Somantri, 2007). Namun, pada tahun 2021 ini, mudik menjadi hal yang mengkhawatirkan karena adanya pandemi COVID-19 yang juga melanda Indonesia.

Secara umum, masyarakat melakukan mudik karena alasan sentimental misalnya untuk mengunjungi orang tua dan keluarga di   kampung halaman setelah sekian tahun merantau, berziarah ke   makam keluarga hingga melihat warisan peninggalan keluarga di  kampung halaman. Ketiga hal itulah yang biasa menjadi alasan masyarakat yang merantau dikarenakan orientasi pemudik ialah kegembiraan, kebahagiaan dan untuk melepas rindu. Tetapi pada   tahun 2021 berbeda karena pada tahun ini seluruh dunia mengalami sebuah pandemi yaitu COVID-19 yang mengubah kebiasaan dalam kehidupan maupun budaya. Dengan alasan penyebaran COVID-19 menjadi pertimbangan para pemudik untuk memutuskan untuk mudik   ke kampung halaman atau tidak. Kebijakan pemerintah mengenai  pembatasan aktivitas sosialpun diberlakukan sehingga menjadi sebuah tantangan baru bagi masyarakat Indonesia untuk beradaptasi terhadap kondisi.

Kegiatan alternatif yang dilakukan masyarakat berdasarkan data yang  didapat yaitu melakukan komunikasi melalui teknologi digital dengan video call dan berkabar melalui grup keluarga  besar  dalam  platform social messenger. Kegiatan-kegiatan alternatif tersebut dinilai  mendukung keutamaan kesehatan masyarakat dan tetap mengurangi ruang aktivitas sosial sehingga mencegah penyebaran COVID-19. Hal tersebut mendukung keutamaan kesehatan masyarakat dan tetap mengurangi ruang aktifitas sosial sehingga mencegah penyebaran COVID-19.

Pandemi COVID-19 masih berlanjut dan angka penyebaran semakin tinggi. Agar upaya pemerintah dalam menekan laju penyebaran penyakit COVID-19 dan pencegahan bisa berjalan efektif, termasuk program vaksin yang telah ditargetkan, pemerintah pun akhirnya melarang mudik lebaran di tahun 2021.

Demi menjaga orang terkasih, alangkah bijaknya agar tetap menaati peraturan pemerintah dan tidak mudik di tahun ini. Tetapi, meski mudik dilarang, Anda dapat memanfaatkan momen ramadan dan lebaran di tempat tinggal Anda saat ini. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar setiap momen di bulan baik ini lebih ceria dan berkesan antara lain :

  1. Dukung pemerintah dengan ramadan dan merayakan hari raya lebaran di rumah aja.
  2. Beribadah di rumah.
  3. Video call untuk tetap menjalin silaturahmi.
  4. Melakukan aktivitas kekeluargaan (keluarga inti) yang biasa dilakukan. (Tn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Prasojo Purwanto Sarwo Ari¹, Yulinda Nurul Aini², Dwiyanti Kusumaningrum³. 2020. Potensi Pola Aliran Mudik Pada Masa Pandemi COVID-19. Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jurnal Kependudukan Indonesia Edisi Khusus Demografi dan COVID-19.
  2. Website https://ejurnal.kependudukan.lipi.go.id
  3. https://www.researchgate.net/publication/344863244_Dampak_Pandemi_COVID-19_terhadap_Kebiasaan_Mudik_Masyarakat_Provinsi_Jakarta