dr. Phitra Sekar Dianggra, Sp.GK – PCOS dan obesitas apakah berkaitan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus mengetahui dahulu apakah yang dimaksud dengan PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome) atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Sindrom Ovarium Polikistik. Per definisi PCOS adalah suatu kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya gangguan hormonal yang menyebabkan pembesaran pada ovarium dengan kista-kista kecil di sekitarnya.1 Tanda dan gejala PCOS yaitu : periode menstruasi yang tidak teratur atau tidak menstruasi, menstruasi yang abnormal (hanya bercak), jerawat serta kenaikan berat badan. Dampak dari PCOS salah satunya yaitu sulit mempunyai keturunan. Berikut merupakan faktor-faktor risiko terjadinya PCOS 2 :

  • Faktor genetik
  • Faktor lingkungan : pola hidup tidak sehat dan mediator infeksi.

Pola hidup yang tidak sehat yang dimaksud yaitu pola hidup sedentary, dengan bahasa kekinian yaitu mager (malas gerak). Pola hidup sedentary biasanya asupan kalori per hari berlebihan dari kebutuhan harian, selain itu kurangnya asupan serat dan kurangnya aktifitas fisik. Hal tersebut menyebabkan terjadinya penumpukan lemak di dalam tubuh sehingga lama kelamaan terjadi obesitas. Kriteria obesitas menurut WHO yaitu Indeks Massa Tubuh (IMT) > 25 kg/m2.

Penumpukan lemak tersebut akan menyebabkan resistensi insulin sehingga mengakibatkan terjadinya kelainan metabolisme, gangguan produksi androgen ovarium serta menyebabkan disfungsi (gangguan fungsi) ovarium. Hal tersebut menyebabkan terjadinya PCOS. Jadi menjawab pertanyaan apakah PCOS berkaitan dengan obesitas? Jawabannya adalah iya sangat berkaitan. Maka dari itu cara mensiasati terjadinya PCOS atau menurunkan angka PCOS salah satu caranya yaitu dengan menurunkan berat badan hingga IMT menjadi normal (18.5-22.9).3

Terapi gizi yang tepat untuk pasien PCOS dengan obesitas yaitu dengan modifikasi gaya hidup dengan diet, olahraga dan perubahan mindset. Modifikasi gaya hidup mulai dari memperbaiki pola tidur, untuk yang perokok berhenti merokok, konsumsi air putih yang cukup sesuai kebutuhan, menghindari stres / polusi, perubahan asupan makan dan olahraga.4

Pengaturan diet (pola makan) adalah bersifat individual yang akan disesuaikan dengan target perbaikan metabolik dan kebiasaan, yang terpenting adalah diet seimbang. Tujuan diet adalah untuk mendapatkan Berat Badan Ideal (BBI), dapat melalui komposisi tubuh, yaitu jumlah massa otot lebih besar dari jumlah persentasi lemak. Untuk mendapatkan penurunan Berat Badan (BB) direkomendasikan penurunan kalori sekitar 30% dari kebutuhan harian, dengan pemilihan makanan tinggi serat, rendah indeks glikemik (kadar gula) dan rendah lemak.5

Karbohidrat tetap dibutuhkan sekitar 45-50% dari total energi harian, dan dipilih jenis karbohidrat kompleks seperti gandum, beras, oat, umbi-umbian, sayuran dan buah. Kebutuhan protein tidak ada rekomendasi yang mengharusnya harus tinggi protein, jadi kebutuhan protein dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu. Pemilihan protein didapat dari ayam (bagian dada), telur, ikan, daging (tanpa lemak), tahu, dan tempe. Untuk pemilihan lemak diutamakan asupan MUFA (Monosaturated Fats) : minyak zaitun, alpukat dan asupan PUFA (Polyunsaturated Fats) : minyak sayur, kacang-kacangan (omega 6) dan minyak kedelai, kacang kedelai, human milk (omega 3).6 Diusahakan semua jenis makanan yang dikonsumsi real food, menghindari jenis yang kemasan atau diawetkan. Selain pengaturan diet, yang perlu dilakukan adalah olahraga / aktifitas fisik. Olahraga ada 2 (dua) jenis tergantung tujuannya 5 :

  • Pencegahan kenaikan BB

Dilakukan minimal 150 menit/minggu dengan intensitas sedang (18-64 tahun), atau 75 menit/minggu untuk intensitas berat, atau kombinasi dengan latihan otot 2 hari/minggu.

  • Penurunan BB

Dilakukan minimal 250 menit/minggu dengan intensitas sedang atau 150 menit/hari untuk intensitas berat atau kombinasi dengan latihan otot 2 hari/minggu.

Referensi        :

  1. Ndefo UA et al. Polycystic Ovary Syndrom  : A Review of Treatment Options With a Focus on Pharmacological Approaches. Volume 38 : 6. 2013.
  2. Ajmal N et al. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) and Genetic Presdisposition. European Journal of Obstetrics and Gynecology Reproductive Biology. Volume 3. 2019.
  3. Barber TM et al. Obesity And Polycystic Ovary Syndrome : Implications for Pathogenesis and Novel Management Strategies. Clinical Medicine Insights : Reproductive Health. Volume 13: 1 – 9. 2019.
  4. Papavasiliou K. Nutritional Support and Dietary Interventions For Women With Polycystic Ovaary Syndrome. Dovepress. Volume 2017:9 Pages 63 – 85. 2017.
  5. Helena J et al. Recommendations from International Evidence-Based Guideline for The Assessment and Management of Polycyst/Hariic Ovary Syndrome. 2018.
  6. Rolfes et al. Understanding Normal and Clinical Nutrition. 2009.