dr. Rinaras Anggraini, M.Sc., Sp.S – Seringkali seseorang dengan nyeri kepala yang didiagnosa sebagai migrain sesungguhnya bukan migrain biasa. Sering kali juga didapatkan diagnosa nyeri kepala / migrain yang sesungguhnya merupakan ictal headche (bangkitan berupa nyeri kepala) atau visual seizure (bangkitan visual). Atau justru merupakan sebuah bangkitan yang dicetuskan oleh nyeri kepala itu sendiri. Untuk itu harus dipahami jenis nyeri kepala yang mana yang diderita, karena untuk memberikan terapi yang tepat, maka perlu ditegakkan diagnosa nyeri kepala yang tepat.

Bangkitan merupakan istilah untuk semua tanda atau gejala yang muncul, yang diakibatkan oleh lepasnya muatan listrik secara sinkron dan berlebihan dari sekelompok saraf otak. Istilah bangkitan sering kita pakai saat membahas mengenai Epilepsi.

Misdiagnosis antara epilepsi dan migrain semestinya dapat dihindari mengingat perbedaan pandangan klinis keduanya. Masalahnya terletak pada kesulitan pemaparan gejala individual dibanding analisanya.

Migralepsy merupakan terminologi dari migrain dan epilepsy. Menurut The International Classification of Headache Disorders (ICHD-3), migralepsy atau migraine-triggered seizure, merupakan juga suatu serangan epilepsi yang terjadi dalam rentang satu jam setelah suatu migrain dengan aura”. Dalam ICHD-3 Migraine-triggered seizure ini dikelompokkan sebagai komplikasi  migrain.

Nyeri kepala dan Epilepsi dibedakan dari adanya serangan selintas gangguan fungsi otak. Manifestasinya bisa bermacam-macam, baik visual, kognitif, sensorik maupun gejala motorik. Saat ini dengan adanya perekaman EEG memungkinkan untuk menyatakan apakah suatu nyeri kepala kronis yang diderita menggambarkan suatu kondisi epilepsi dan apakah nyeri kepalanya merupakan suatu ictal epileptic headache (IEH).

Kriteria diagnostik Nyeri Kepala Epilepsi (IEH):

A.  Nyeri kepala* berlangsung menit, jam atau berhari-hari.

B.  Nyeri kepala satu sisi atau kontralateral dengan kelaian EEG ictal (jika kelainan EEGnya pada satu sisi).

C.  Ada bukti suatu epileptiform (fokal**, lateralisasi atau general) pada perekaman EEG.

D.  Nyeri kepala dan kelainan EEGnya membaik segera (dalam beberapa menit) setelah terapi injeksi antiepilepsi. (I.v)

*Nyeri kepala dapat berupa migrain dengan maupun tanpa aura, nyeri kepala tipe tegang (TTH) dan sebagainya.

**dapat pada semua lokasi (baik frontal, temporal, parietal maupun oksipital).

 

Migraine-trigered seizure (migralepsy) dideskripsikan sebagai suatu bangkitan yang dicetuskan oleh migrain aura, harus memenuhi kriteria diagnostik :

A.  Sebuah bangkitan yang memenuhi kriteria diagnosis suatu bangkitan epilepsi, dan kriteria B berikut :

B.  Terjadi pada pasien dengan 1.2 Migrain dengan aura dan selama / dalam 1 (satu) jam sesudah suatu aura migrain.

Migrain dan epilepsi merupakan suatu contoh yang menggambarkan iritasi otak paroksismal. Meskipun nyeri kepala yang menyerupai migrain ini lebih sering terlihat pada periode Post Ictal Epilepsi.

Kapan diperlukan pengobatan profilaksis migrain? Menurut Guideline PERDOSSI 2018  yaitu bila :

  1. Serangan migrain berdampak sangat buruk pada kehidupan sehari-hari meskipun telah mendapat pengobatan akut, perubahan pola hidup dan menghindari faktor pencetus.
  2. Frekuensi serangan terlampau sering : risiko ketergantungan obat migrain akut : drug overused.
  3. Serangan moderate-severe lebih dari 3x per bulan dengan pengobatan akut tidak efektif.
  4. Serangan lebih dari 8x per hari meskipun pengobatan akutnya efektif : drug overused.
  5. Serangan berulang >2x per minggu mengganggu aktivitas, meskipun telah diberikan pengobatan akut yang adekuat.
  6. Nyeri kepala yang sering atau berlangsung > 8 jam.
  7. Pegobatan akut gagal / tidak efektif.
  8. Ada kontra indikasi obat, efek samping obat akut muncul.
  9. Munculnya gejala gejala dan kondisi yang luar biasa : migrain basiler hemiplegik, aura yang memanjang, atau
  10. Keinginan penderita sendiri.

Divalproate, topiramate, metoprolol, propanolol, dan timolol efektif untuk prevensi migrain sebagai obat prevensi lini pertama.

Sedangkan untuk fase akut ringan hingga sedang digunakan NSAID sebagai lini pertama dan Triptans untuk derajat sedang hingga berat.

Nyeri kepala dapat merupakan suatu serangan awal dari epilepsi. Dengan kata lain, seizure (serangan) yang tampak seperti “migrain-like” mungkin merupakan suatu kejadian epilepsi yang diawali dengan ictal headache (diikuti oleh gejala bangkitan sensoris / motorik / otonom yang lain).  Gambaran nyeri kepala epileptik pun tidak spesifik, dapat berupa migrain dengan maupun tanpa aura, TTH maupun yang lain. Dan dapat berlangsung detik hingga berhari hari dengan bukti kelainan EEG namun juga dapat bermacam macam pola EEG dengan respon maupun tanpa respon terhadap cahaya (photoparoxysmal respon) dalam perekamannya.

Akhirnya, direkomendasikan pada pasien-pasien yang mengalami baik prolonged migrain / nyeri kepala maupun epilepsi untuk dilakukan EEG pada saat serangan, meskipun hal ini tidak selalu memungkinkan.  Terutama pada kasus kasus migrain / nyeri kepala yang tidak berespon terhadap obat anti migrain. Namun bukan merupakan pemeriksaan rutin pada nyeri kepala. Hal ini diperlukan untuk mengetahui patofisiologi yang mendasari episode gejala-gejala penyakit dan juga untuk menegakkan apakah terjadi suatu “ictal epileptic headache”.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Verrotti A, Coppola G, Di Fonzo A, Tozzi E, Spalice A, Aloisi P, Bruschi R, Lannetti,P, Villa PM, Parisi, P : Should “migralepsy” be considered an obsolete concept? A multicenter restropective clinical/EEG study and review of the literature. Epilepsy & Behaviour 2011; available from elsevier.com.
  2. The International Classification of Headache Disorders, 3rd edition. Headache Classification Commitee of the International Headache Society (IHS), 2018.
  3. Schwedt T, Chong CD CurrOpinNeurol.2015;28.265-270.2.
  4. Parisi P, Paolino MC, Raucci U, Vecchia ND, Belcastro V, Villa MP, Striano P, Ictal Epileptic Headache : When Terminology Is Not a Moot Question, 2019.
  5. The International Classification of Headache Disorders, 3rd edition. Headache Classification Commitee of the International Headache Society (IHS), 2018.
  6. Konsensus Nasional V, Pokdi Nyeri Kepala Perdossi, 2018.