dr. Nur Dwita Larasati, M.Sc, Sp.DV – Pigmentasi adalah pewarnaan kulit seseorang. Bila seseorang tersebut sehat, maka warna kulitnya akan tampak normal. Dalam keadaan sakit atau mengalami cedera, kulit seseorang mungkin saja berubah warna, bisa menjadi lebih gelap (hiperpigmentasi) atau lebih terang (hipopigmentasi). Pigmentasi kulit biasanya bervariasi tergantung ras dan genetik seseorang juga paparan sinar matahari.

Umumnya bercak putih pada kulit membuat seseorang menjadi tidak percaya diri, karena warna kulit menjadi tidak merata, apalagi jika memiliki kulit yang gelap.

Beberapa penyebab bercak putih :

  1. Panu / pityriasis versicolor / tinea versicolor

Panu adalah infeksi jamur yang sering terjadi pada kulit area dada dan juga punggung. Diagnosis klinis ditegakkan berdasarkan adanya bercak putih atau kehitaman atau kemerahan yang berbatas tegas, tertutup sisik halus. Keadaan ini paling sering menyerang anak muda dan cenderung lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan wanita, serta pada orang yang sering berkeringat banyak. Penyebabnya adalah adanya pertumbuhan jamur dari genus Malassezia, yaitu mikroorganisme yang ditemukan pada kulit normal. Kondisi ini tidak menular dan lebih sering terjadi di iklim yang panas dan lembab, dibanding di iklim sejuk dan kering.

Terapi :

  • Pengobatan oles :

Pengobatan harus dilakukan secara menyeluruh, tekun dan konsisten. Obat yang dapat digunakan adalah :

  • Selenium sulfida 1,8% dalam bentuk shampoo, digunakan 2-3 kali seminggu. Obat dioleskan pada lesi dan didiamkan selama 15-30 menit sebelum mandi.
  • Turunan azol misalnya mikonazol, klotrimazol, isokonazol dan ekonazol dalam bentuk krim. Dioleskan sehari 2 kali setelah mandi.
  • Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20% dioleskan sehari 2 kali.
  • Larutan Tiosulfas natrikus 25%, dioleskan sehari 2 kali sehabis mandi selama 2 minggu.
  • Pengobatan sistemik

Pengobatan sistemik diberikan pada kasus pitiriasis versikolor yang luas atau jika pemakaian obat topikal tidak berhasil.

Obat yang dapat diberikan adalah :

–  Ketokonazol tablet 200 mg/hari selama 10 hari.

–  Itrakonazol 200 mg/hari selama 5-7 hari.

 

  1. Vitiligo

Vitiligo adalah adanya bercak putih pada kulit yang disebabkan oleh kurangnya melanin, yaitu pigmen di kulit. Bercak putih seperti putih kapur, bergaris tengah beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk bulat atau lonjong dengan tepi berbatas tegas dan kulit pada tempat tersebut normal tidak bersisik.

Dapat ditemukan di area kulit mana pun, namun paling sering terjadi pada wajah, leher, tangan, dan bagian lipatan kulit.

Bercak putih pada kulit yang disebabkan oleh vitiligo ini bersifat permanen, dan bukan merupakan penyakit menular.

Vitiligo terjadi ketika sel penghasil pigmen (melanosit) mati atau berhenti memproduksi melanin.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan dan meningkatkan risiko terjadinya vitiligo yaitu adanya gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang dan menghancurkan melanosit di kulit, adanya riwayat keluarga yang menderita vitiligo, serta beberapa hal lain seperti paparan sinar matahari, stres, dan juga paparan bahan kimia industri.

Terapi :

Penatalaksanaan vitiligo meliputi :

  • Tabir surya

Tujuan penggunaan tabir surya adalah untuk melindungi kulit yang terlibat agar tidak mengalami reaksi terbakar surya.

  • Kosmetik penutup

Tujuan penggunaan kosmetik penutup adalah untuk menyembunyikan lesi vitiligo sehingga tidak tampak. Biasanya warna disesuaikan dengan warna kulit dan tidak mudah hilang.

  • Kortikosteroid topikal

Pemakaian kortikosteroid topikal pada vitiligo berlandaskan pada teori autoimun. Jika tidak ada respon selama 2 bulan maka terapi dianggap tidak akan berhasil. Evaluasi perlu dilakukan setiap 2 bulan untuk mencegah timbulnya efek samping seperti atropi kulit dan telangiektasia.

  • Pemakaian psoralen dengan UVA

Psoralen secara topikal ataupun sistemik yang diikuti oleh pajanan terhadap sinar UVA (PUVA) menyebabkan proliferasi sel-el pigmen di dalam umbi rambut dan perpindahan sel-sel pigmen tersebut kedaerah kulit yang putih (hipopigmentasi)

  • Minigrafting

Minigrafting dapat digunakan pada vitiligo segmental yang stabil dan tidak dapat diobati dengan tehnik yang lain.

  • Bleaching

Terapi ini digunakan untuk vitiligo yang luas, gagal dengan terapi PUVA, atau menolak PUVA. Yang digunakan adalah Monobenzylether of hydroquinon 20% cream, dioleskan 2 kali sehari. Biasanya dbutuhkan waktu 9-12 bulan agar terjadi depigmentasi.

 

  1. Pityriasis alba / buras

Bercak putih pada kulit yang disebabkan oleh pityriasis alba belum diketahui apa penyebab utamanya, namun hal ini dikaitkan paparan sinar matahari dan kulit kering.

Lesi berbentuk bulat atau oval. Pada mulanya lesi berwarna merah muda atau sesuai warna kulit dengan sisik halus di atasnya. Setelah kemerahan menghilang lesi yang dijumpai hanya hipopigmentasi / bercak putih dengan sisik halus. Bercak biasanya multipel.

Lesi umumnya asimtomatik tetapi dapat juga terasa gatal dan panas.

Bercak putih akibat kelainan ini sering muncul pada pipi, dagu, leher, dan bahu. Kelainan ini sering terjadi pada anak-anak dan juga remaja.

Bercak putih pada kulit akibat pityriasis alba lebih terlihat pada anak-anak dengan kulit yang gelap.

Kelainan kulit ini tidaklah menular, dan juga dapat hilang dengan sendirinya.

Terapi :

Terapi pityriasis alba kadang tidak memuaskan namun penyakit ini dapat menyembuh sendiri, namun pernah dilaporkan lesi yang menetap hingga dewasa.

Terapi yang dapat diberikan berupa kortikostroid topical, menghindari paparan sinar matahari, untuk lesi yang luas dapat digunakan PUVA.

 

  1. Lepra atau kusta

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bercak putih yang terdapat pada penderita kusta mempunyai ciri-ciri khas yaitu mati rasa. Lesi dapat satu atau banyak, berbatas tegas dengan ukuran bervariasi. Terdapat penebalan saraf perifer.

Terapi :

Jika tegak kusta diberikan terai kusta selama 12 bulan.

 

  1. Hipopigmentasi post inflamasi / bercak putih akibat peradangan

Berbagai proses inflamasi / peradangan pada penyakit kulit dapat pula menyebabkan hipopigmentasi misalnya lupus eritematosus diskoid, dermatitis atopik, psoriasis, parapsoriasis gutata kronis, dan lain-lain.

Predileksi dan bentuk kelainan hipopigmentasi yang terjadi sesuai dengan lesi primernya. Hipomelanosis terjadi segera setelah resolusi penyakit primer dan mulai menghilang setelah beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit yang berhubungan sebelumnya. Jika diagnosis belum berhasil ditegakkan maka dapat dilakukan pengambilan jaringan kulit pada lesi hipomelanosis / biopsy, dan hasilnya histopatologi akan menunjukkan gambaran penyakit kulit primernya.

Terapi :

Terapi biasanya sesuai dengan penyakit dasarnya. Setelah proses inflamasi menyembuh maka warna kulit yang asli akan perlahan kembali. Hal ini mungkin dapat dipercepat dengan paparan sinar matahari.

 

  1. Progressive Macular Hipomelanosis

Progressive Macular Hipomelanosis (PMH) adalah suatu kondisi yang sering dijumpai di India Barat ditandai dengan makula hipopigmentasi yang menyebar cepat pada badan.

Ditemukan terutama pada usia muda terutama wanita usia 18-25 tahun. Sering disangka sebagai panu atau buras.

Lesi berbentuk makula hipopigmentasi dengan batas tidak tegas, tidak bersisik, berbentuk bulat dengan predileksi di badan bagian muka dan punggung belakang.

Patogenesis PMH belum diketahui. Beberapa hipotesis telah diajukan yaitu terjadi karena campuran gen kulit hitam dan putih yang berasal dari orang tua penderita. Dugaan ini timbul karena kelainan ini banyak dijumpai pada ras campuran.

Kelainan ini tidak memberikan respon terhadap pengobatan apapun tapi dapat menyembuh secara spontan dalam waktu 3 bulan hingga 4 tahun.