dr. Siswi Oktariani, M.Sc, Sp.PD – Jumlah penderita kanker yang terus meningkat merupakan masalah global. Data kanker dari Global Cancer 2018 menyatakan terdapat 18 juta pasien baru karena kanker dengan 9.6 juta kematian. Sedangkan sumber data yang sama untuk Indonesia menyatakan dengan kepadatan 266 juta penduduk diperkirakan ada 340 ribu pasien baru kanker dengan 240 ribu angka kematiannya. Penelitian mengenai terapi untuk kanker juga terus berkembang dalam rangka meningkatkan angka harapan hidup dan menekan kekambuhan kanker.

Kemoterapi merupakan salah satu modalitas terapi yang cukup penting pada banyak jenis kanker, selain tindakan operatif, radioterapi, terapi target dan imunoterapi. Salah satunya pada kanker payudara, penelitian Ma et al. tahun 2016 menyatakan peran kemoterapi dalam memperbaiki kesintasan umum maupun kesintasan bebas kambuh penderita. Tulisan berikut ini berupa tanya jawab yang menjelaskan seluk beluk kemoterapi yang perlu diketahui baik oleh pasien kanker, keluarganya maupun tenaga kesehatan yang terkait dengan penanganan kanker.

Apakah kemoterapi itu?

Kemoterapi adalah pengobatan untuk pasien kanker yang bertujuan untuk menghancurkan sel kanker. Kemoterapi bekerja pada sel target yang tumbuh dan membelah dengan cepat, seperti sifat sel kanker. Tidak seperti terapi pembedahan atau radiasi yang bekerja di area tertentu, efek kemoterapi bersifat sistemik yang dapat mengenai sel di seluruh tubuh. Kemoterapi juga akan mengenai sel yang membelah cepat selain sel kanker seperti sel kulit, rambut, usus, dan sumsum tulang. Paparan terhadap sel di luar sel kanker inilah yang muncul sebagai efek samping kemoterapi.

Bagaimanakah dokter menentukan jenis kemoterapi untuk pasien?

Secara prinsip, dasar pertimbangan dokter memilihkan jenis kemoterapi untuk pasien meliputi 3 hal yaitu berdasarkan bukti ilmiah yang ada, keputusan klinik dokter yang menangani dan keinginan pasien. Dokter akan mempertimbangkan antara manfaat dan kerugian kemoterapi untuk jenis kanker tertentu sesuai pengetahuan terkini, kondisi pasien, prediksi akhir penyakit dan ketersediaan obat. Dokter juga akan berdiskusi dengan pasien tentang bagaimana keinginan dan harapan pasien dan keluarga.

Bagaimanakah cara obat kemoterapi bekerja?

Dokter akan memberikan kemoterapi dengan tujuan yang berbeda, sesuai jenis dan stadium kankernya. Pada beberapa kasus, kemoterapi diharapkan dapat membunuh sel kanker hingga pasien dinyatakan sembuh. Pasien dinyatakan sembuh bila tidak ditemukan lagi sel kanker di tubuh melalui pemeriksaan fisik maupun penunjang dan diharapkan tidak kambuh lagi. Pada beberapa kasus yang lain tujuan kemoterapi adalah untuk menahan kanker agar tidak makin meluas atau memperlambat perkembangannya. Kadang-kadang kemoterapi tidak lagi bisa menyembuhkan atau mengontrol kanker namun diharapkan bisa mengecilkan ukuran tumor sehingga mengurangi nyeri akibat penekanan tumor. Pada kondisi yang terakhir ini kemungkinan besar kanker akan berkembang kembali.

Bagaimanakah cara pemberian kemoterapi kepada pasien?

Kemoterapi dapat digunakan secara tunggal namun juga dapat dikombinasi dengan terapi yang lain. Pada jenis kanker tertentu kemoterapi berperan sebagai terapi kombinasi dengan pembedahan, radioterapi atau terapi target. Kemoterapi yang digunakan sebagai terapi awal sebelum pembedahan atau radioterapi disebut terapi neoajuvan. Pemberian kemoterapi dengan cara ini bertujuan untuk mengurangi ukuran tumor sehingga memudahkan tindakan bedah dalam mencapai batas operasi bebas tumor. Pemberian kemoterapi neoajuvan juga meningkatkan keberhasilan terapi radiasi. Langkah pemberian kemoterapi yang lain, kemoterapi ajuvan adalah pemberian kemoterapi setelah dilakukan tindakan bedah atau radioterapi. Kemoterapi ini bertujuan membersihkan sel kanker setelah operasi atau radiasi.

Obat kemoterapi dapat dimasukkan ke tubuh pasien melalui beberapa teknik. Sebagian obat diberikan secara injeksi melalui pembuluh darah arteri atau vena atau otot. Obat kemoterapi yang lain dapat diberikan secara oral (obat minum), topikal (oles kulit), disuntikkan melalui rongga tubuh (peritoneum, vesika urinaria dan lain-lain) atau cairan serebrospinal.

Berapa lamakah pemberian kemoterapi?

Agen kemoterapi diberikan kepada pasien secara berkala dengan interval tertentu dimana setiap pemberian disebut siklus. Sebagai contoh pada kanker payudara direncanakan kemoterapi sebanyak 6 siklus dengan interval 3 minggu. Artinya kemoterapi diberikan pada minggu pertama dan istirahat pada minggu ke-2 dan ke-3. Selanjutnya kemoterapi akan diberikan kembali pada minggu ke-4 dan seterusnya sampai 6 kali pemberian. Masa istirahat ini bertujuan untuk memulihkan sel tubuh yang sehat akibat pemberian kemoterapi, mengingat efek kemoterapi juga mengenai sel sehat yang tumbuh dan membelah dengan cepat. Lama pemberian kemoterapi akan bergantung pada jenis kanker, jenis kemoterapi, tujuan dan respon tubuh terhadap kemoterapi.

Bagaimanakah efek yang dirasakan selama dan setelah kemoterapi?

Efek yang dirasakan tubuh pasien akibat kemoterapi sangat bervariasi pada tiap individu. Keluhan yang dirasakan tiap pasien tergantung pada kondisi kesehatan, jenis kanker, jenis kemoterapi, dosis obat, lama mendapatkan kemoterapi dan faktor genetik. Efek samping kemoterapi dapat menimbulkan bermacam-macam keluhan, yang tersering di antaranya mual muntah, rambut rontok, tidak menstruasi, terasa lelah, nyeri otot dan sendi, kesemutan, diare, serta penurunan sel darah merah atau sel darah putih.

Kemoterapi memberikan efek mual dan muntah dengan derajat yang berbeda-beda. Beberapa kemoterapi golongan tertentu termasuk obat dengan risiko tinggi terjadi mual dan muntah. Dokter akan memberikan obat anti muntah yang kuat untuk menurunkan keluhan itu. Pasien diharapkan tetap minum yang cukup serta makan porsi kecil dan sering. Efek samping yang lain seperti rambut rontok sangat sering dikeluhkan pasien karena mengganggu penampilan. Namun efek samping ini bersifat sementara yang muncul kira-kira 2-3 minggu setelah kemoterapi tertentu. Rambut akan tumbuh kembali pada 2-3 minggu setelah kemoterapi selesai.

Pasien dapat mengalami keluhan karena gangguan saraf tepi akibat kemoterapi. Pasien dapat merasa kesemutan di tangan atau kaki, rasa terbakar, kebas / mati rasa, nyeri saat berjalan maupun kelemahan otot. Keluhan ini diharapkan membaik setelah selesai kemoterapi. Pada beberapa pasien keluhan ini berkurang namun tetap meninggalkan gejala sisa. Dokter dapat membantu memberikan obat anti nyeri bila dibutuhkan. Selain efek samping di atas, pasien juga dapat mengalami keluhan psikologi. Pasien merasa frustrasi, tak berdaya, kesepian dan gelisah. Setelah menerima kemoterapi, pada umumnya pasien membutuhkan istirahat untuk beberapa hari. Pada prinsipnya aktivitas harian dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi pasien.

Apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi efek samping kemoterapi?

Dalam menghadapi efek samping kemoterapi, ada beberapa hal yang bisa dicoba untuk meringankan gejala. Selain berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan terapi medikamentosa, pasien dapat memulai berolahraga meski ringan. Beberapa pasien menyatakan keluhan terasa lebih baik setelah berolah raga seperti berjalan, naik sepeda atau yoga. Pasien juga diharapkan bersikap santai / rileks dan punya ruang diskusi dengan sesama pasien di peer group. Pasien juga dapat berperan sebagai relawan yang memberi bantuan untuk pasien yang lain.

Demikianlah penjelasan mengenai seluk beluk kemoterapi. Sebagai informasi terakhir, perlu pembaca ketahui bahwa penanganan kanker harus melibatkan suatu tim yaitu sekelompok dokter dengan berbagai bidang yang memberi layanan kanker. Tim kanker secara ideal terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi dan onkologi medik, bedah onkologi, patologi anatomi, radiasi onkologi dan dokter spesialis lain yang terllibat. Tim ini akan bekerja secara terpadu untuk menentukan tatalaksana yang tepat demi kesembuhan dan kesintasan pasien kanker yang lebih baik.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Bray et al., 2018. Global Cancer Statistics 2018 : GLOBOCAN Estimates of Incidence and Mortality Worldwide for 36 Cancers in 185 Countries. Ca Cancer J Clin. 2018. Volume 00. 1 – 31.
  2. Ma RM, Chen CZ, Zhang W, You J, Huang DP, Guo G.L. Prognostic value of chemotherapy-induced neutropenia at the first cycle in invasive breast cancer. Medicine. 2016. Vol. 95; 13.
  3. Chemotherapy: How It Works and How You’ll Feel?. Web MD Medical Reference. Reviewed by Gabriela Pichardo. 2020.

https://www.webmd.com/cancer/chemotherapy-what-to-expect.

  1. Support for People with Cancer : Chemotherapy and You. U.S. Department of Health & Human Services. National Institutes of Health. 2018.