dr. Lucia Hetty Pujiastuti, Sp.M – Retinopati of Prematurity (ROP) merupakan salah satu penyebab kebutaan bayi dan anak di dunia, termasuk di Indonesia yang sebetulnya bisa dicegah. Kemajuan teknologi di bidang perinatologi memungkinkan bayi prematur dengan berat lahir rendah dan usia gestasi yang sangat muda dapat hidup. Namun seiring dengan meningkatnya angka kehidupan tersebut menyebabkan kejadian ROP meningkat. Untuk itu diperlukan skrining pada bayi prematur untuk mendeteksi dini ROP, sehingga dapat dilakukan terapi yang sesuai.

Hasil workshop ROP tahun 2010 memperoleh data dari bayi yang diskrining di 21 fasilitas kesehatan Indonesia, dari 613 bayi prematur terdapat 32 bayi yang mengalami ROP (5,05%), yang juga merefleksikan masih tingginya angka kematian bayi prematur / berat badan lahir (sangat) rendah pada umumnya, khususnya dengan fasilitas dan perawatan neonatologis yang belum optimal.

Perkembangan pembuluh darah retina yang normal, vaskularisasi berlangsung dari diskus optikus ke arah tepi mata. Vaskularisasi menjadi lengkap pada usia 40 minggu. Pada bayi prematur vaskularisasi retina belum lengkap, yang disebut retina imatur. Proses ini dapat berkembang secara normal, atau berhenti dan menjadi ROP. Stadium berat ringannya ROP diperiksa pada perbatasan retina avaskular dan area vaskular. ROP menyebabkan pembuluh darah tumbuh secara acak, tidak normal dan menjadi lebih mudah bocor atau berdarah, melukai jaringan parut retina (lapisan saraf mata utama untuk optimalisasi penglihatan). Pada saat bekas luka menutup retina akan tertarik dan terlepas, robek dari bagian belakang mata (ablasi retina).

Stadium pada ROP : stadium 1 ditemukan sedikit pembuluh darah yang abnormal di retina mata yang hanya perlu observasi dan kontrol karena bisa membaik seiring dengan bertambahanya usia. Stadium 2 dan 3 pembuluh darah abnormal yang lebih banyak dan awal timbulnya pembuluh darah liar. Stadium 4 robekan retina awal, dan stadium 5 robekan retina total yang berisiko kebutaan.

Terdapat stadium khusus yaitu ROP posterior agresif merupakan bentuk yang jarang terjadi, tapi perjalanannya progresif dan berat  dan membutuhkan terapi segera kurang dari 72 jam.

Kebanyakan ROP dapat mengalami fase perbaikan spontan melalui proses involusi atau evolusi dari fase proliferatif ke fase fibrotik dengan observasi kontrol yang teratur. Salah satu tanda stabilisasi ROP adalah kegagalan retinopati berprogresi ke stadium selanjutnya.

Dalam International National workshop of ROP yang menjadi faktor risiko terjadinya ROP adalah : sepsis atau infeksi berat dengan gangguan hemodinamik, penggunaan O2 > 7 hari atau O2 konsentrasi tinggi, tranfusi darah berulang, penyakit sistem pernafasan, apneu, asfiksia, kecil masa kehamilan, displasia bronkopulmoner, patent duktus arteriosus, perdarahan intraventrikuler, riwayat keluarga prematur atau dengan ROP.

Kapan diperiksa setidaknya satu kali pemeriksaan sebelum pulang dari rumah sakit. Pemeriksaan diulang, evaluasi tiap beberapa minggu tergantung dari maturitas retina atau keparahan ROP yang terjadi dan sampai retina tumbuh penuh di bagian tepi mata atau telah mencapai resiko rendah dan perbaikan stadium (regresi) ROP.

ROP berat membutuhkan terapi relatif jarang terjadi, dan membutuhkan prosedur terapi yang sifatnya spesialistis, penanganan oleh dokter spesialis mata yang memiliki kompetensi.

Terapi lini pertama pada ROP adalah Laser Indirect Opthalmoscopy (LIO). Pada ROP stadium 4-5 dengan ablasi retina traksional dilakukan tindakan pembedahan vitrektomi, terapi lain pada stadium 1 atau 2 yang tidak terjadi perbaikan bisa dilakukan injeksi anti VEGF intravitreal.

Penilaian paska terapi penting untuk mengawasi regresi penyakit dan menentukan apakah diperlukan terapi ulang.

Pemeriksaan Digital Imaging System

Salah satu komplikasi yang sering dari ROP yang signifikan baik yang diterapi, perbaikan atau resolve sendiri adalah miopia (mata minus), yang bisa jadi berat (ukuran minus yang tinggi). Yang menyebabkan terjadinya ambliopia (mata malas) yang jika terjadi asimetris menjadi mata juling. Pada penanganan yang terlambat bisa menimbulkan ablasi retina atau jika terjadi stadium 5 bisa menyebabkan katarak, glaukoma, dan ptisis bulbi bola mata mengkerut / mengecil) yang berisiko kebutaan.

Dibutuhkan deteksi dini dan penatalaksanaan yang tepat agar dapat mengurangi angka kebutaan pada anak yang terjadi pada ROP stadium 5, dengan cara bekerja sama dengan bagian ilmu Kesehatan Anak (terutama divisi tumbuh kembang dan perinatologi) dan mengadakan sosialisasi lewat media apa saja kepada masyarakat luas terutama para orang tua tentang ROP. Pemeriksaan skrining, diagnosis dan tatalaksana  yang tepat merupakan kunci keberhasilan penanganan ROP.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Sitorus R., Djatikusumo A., Andayani G., Barliana G. 2011. Pedoman Nasional Skrining dan Terapi ROP Pada Bayi Premature di Indonesia. Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).
  2. American Academy of Ophthalmology Pediatric Ophthalmology and Strabismus. 2016.
  3. Saubig A. 2019. Hubungan Antara Umur Gestasi, Berat Badan Lahir, dan Terapi Oksigen Dengan Kejadian Retinopati Prematuritas.
  4. Kanski J.J. 2011. Clinical Opthalmology a Systematic Approach Philadelphia : Butterworth-Heinemann.
  5. Lukitasari A. Retinopati Pada Prematuritas. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala 2012; 12: 118-121.