Penyakit Kusta atau Lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit infeksi kronis atau penyakit kulit menahun yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang pertama menyerang saraf tepi selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran nafas bagian atas, mata, otot, tulang kecuali susunan saraf pusat.

Berdasarkan data WHO Asia Tenggara menempati peringkat pertama penderita Kusta terbanyak di tahun 2015. Di dunia, Indonesia menduduki peringkat 3 (tiga) jumlah penderita Lepra (Kusta) terbanyak setelah India dan Brazil.

Di Indonesia, 12 provinsi termasuk wilayah yang dinyatakan belum eliminasi Kusta. Di Klaten masih ditemukan kasus baru Kusta yaitu 31 kasus di tahun 2018 dan  28 kasus di tahun 2019.

Sampai saat ini penyakit Kusta merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.  Masalah Kusta ini diperberat dengan kompleksnya epidemiologi dan banyaknya penderita Kusta yang mendapat pengobatan ketika sudah dalam keadaan cacat sebagai akibat masih adanya stigma dan kurangnya pemahaman tentang penyakit Kusta di masyarakat.

Sebagai akibat keterlambatan pengobatan tersebut akan terjadi penularan yang terus berjalan sehingga kasus baru banyak bermunculan. Mengingat kondisi tersebut diperlukan adanya sistem pemberantasan secara terpadu dan menyeluruh yang meliputi penemuan penderita sedini mungkin, pengobatan yang tepat, rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial serta rehabilitasi karya mantan penderita Kusta.

Penyakit Kusta karena kecacatannya memberi stigma yang sangat besar di masyarakat sehingga pasien Kusta menderita tidak hanya karena penyakitnya saja tetapi juga dijauhi atau dikucilkan oleh masyarakat. Cacat tubuh tersebut sebetulnya dapat dicegah apabila diagnosis dan penanganan  dilakukan secara dini.

Cara penularan penyakit Kusta dapat ditularkan dari penderita Kusta tipe MB / Multi Basiler kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Cara penularan pasti belum diketahui tetapi sebagian besar ahli berpendapat bahwa penyakit Kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit. Sumber penularan adalah penderita penyakit Kusta yang belum diobati melalui kontak yang erat dan lama.

Tujuan utama program pemberantasan Kusta adalah memutus rantai penularan untuk menurunkan insidensi penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita serta mencegah timbulnya kecacatan. Pengobatan ditujukan untuk mematikan kuman Kusta sehingga tidak berdaya merusak jaringan tubuh dan tanda-tanda penyakit menjadi kurang aktif sampai akhirnya hilang.

Untuk komplikasi dari penyakit Kusta yang paling banyak adalah kecacatan. Cacat Kusta terjadi karena gangguan saraf pada mata tangan atau kaki. Semakin panjang waktu penundaan dari saat pertama ditemukan tanda dini hingga dimulainya pengobatan, maka mungkin besar risiko timbulnya kecacatan akibat terjadinya kerusakan saraf yang progresif. Dengan alasan inilah maka diagnosis dini dan pengobatan harusnya dapat mencegah terjadinya komplikasi jangka panjang. Pencegahan cacat Kusta jauh lebih baik dan ekonomis dari pada penanggulangannya. Pencegahan ini harus dilakukan sedini mungkin baik oleh petugas kesehatan maupun oleh pasien sendiri dan keluarganya.

Peran masyarakat dalam upaya penanggulangan penyakit Kusta sangat besar baik dalam program pelaksanaan pemberantasan penyakit Kusta maupun mewujudkan kemandirian penderita Kusta dalam program masyarakat. Hal ini akan dapat diwujudkan apabila penyuluhan Kusta terhadap masyarakat dilaksanakan secara intensif dan terpadu. Dalam program pemberantasan Kusta, masyarakat antara lain dapat membantu penemuan penderita baru. Selain itu masyarakat diharapkan tidak menjauhi dan mengasingkan penderita Kusta akan tetapi sebaliknya mendorong dan memberikan semangat agar penderita mau memeriksakan diri sedini mungkin dan berobat secara teratur.

Untuk meningkatkan pengetahuan tentang penyakit Kusta maka Tim PKRS bersama dengan dr. Nur Dwita Larasati, M.Sc, Sp.KK melakukan kegiatan siaran kesehatan di Radio Sentral RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro. Diharapkan dengan informasi kesehatan tersebut dapat bermanfaat bagi pasien dan pengunjung pasien RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro.