Posted by Sub Substansi Hukormas at April 6, 2022 3:01 pm Informasi Rumah Sakit

Saat ini, Indonesia masih menjadi negara dengan beban penyakit tuberkulosis (TBC) terbesar ketiga di dunia. Menurut Global TB Report 2021, WHO, estimasi TBC mencapai 824.000 kasus dengan kematian sebanyak 13.110 dan hanya 47% kasus yang terlaporkan.. TBC juga menjadi penyebab komplikasi terbesar pada orang dengan HIV yaitu 18.000 kasus orang menderita TBC-HIV. Sementara itu, kematian akibat TBC pada Orang dengan HIV adalah 4.800 jiwa.
Secara nasional, data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan cakupan pengobatan TBC mengalami penurunan dari 67% di tahun 2019 menjadi 42% di tahun 2020. Disisi lain, Pandemi COVID-19 yang melanda 2 tahun terakhir, menambah beban dalam upaya penanggulangan TBC berbasis masyarakat mengalami hambatan yang signifikan.
Mengingat tingginya kasus dan beban kematian akibat tuberkulosis, dunia telah berkomitmen untuk bebas TBC pada tahun 2050, sementara itu Indonesia berkomitmen untuk eliminasi TBC pada tahun 2030. Apabila tidak mendapatkan perhatian dan komitmen yang serius untuk mengakselerasi eliminasi TBC, target Indonesia untuk eliminasi TBC di 2030 dapat tidak tercapai. Permasalahan TBC ini tidak dapat selesai jika hanya dibebankan pada sektor kesehatan saja, akan tetapi perlu koordinasi lintas sektor untuk menyelesaikan permasalahan TBC di Indonesia dan menempatkan TBC sebagai isu utama di semua sector.
Hari Tuberkulosis Sedunia Tahun 2022 diperingati pada tanggal 24 Maret. Guna membantu pemerintah dalam eliminasi dan eradikasi Tuberkolosis dan juga meningkatkan penguatan jejaring dan refreshing kepada PPK I, PPK II, dan Fasyankes terkait penatalaksaan tuberculosis, maka pada hari rabu 6 April 2022 RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten menyelenggarakan Webinar dengan tema PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT (TB RO) yang diikuti oleh ratusan peserta dari Puskesmas, dokter keluarga, Rumah Sakit Kabupaten Klaten dan sekitarnya, civitas hospitalia RSUP dr Soeradji Tirtonegoro, dan Pemerhati penyakit Tuberkulosis.
Acara dibuka oleh direktur utama dr. Endang Widyaswati, M. Kes. Sebagai narasumber dr. M. Husein Prabowo, MPH mengawali materi webinar dengan mengetengahkan kode etik kedokteran. Dilanjutkan oleh dr. Juli Purnomo, Sp.P MPH dengan tema Tata Laksana TB RO, kemudian dilanjut oleh dr. Arif Hendriarsa dengan tema Tata Laksana TB anak. Di Sesi kedua, dokter Indah Juliana, Sp. P M. Kes mengetengahkan tentang efek samping OAT dan dr. Subandrio, Sp. BTKV membawakan tema Tata laksana bedah pada kasus TB. Sebagai moderator Webinar adalah dr. Zakiah Novianti, Sp. P, M. Kes dan dr. Kurniyanto, Sp. P, Onk (K).

Situasi pandemi memberikan tantangan baru bagi pemangku kepentingan program TBC untuk memulihkan upaya-upaya mengejar Eliminasi TBC secara lebih efektif. Akses terhadap pelayanan kesehatan untuk TBC yang menurun di masa pandemi dapat ditingkatkan dengan upaya promosi kesehatan secara digital. Upaya promosi kesehatan merupakan salah satu intervensi utama dalam Strategi Nasional Penanggulangan TBC 2020-2024 yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis (Perpres No. 67/2021).