dr. Angelika Lestari Siregar, M.Biomed, Sp.S – Nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan atau potensi kerusakan jaringan. Salah satu bentuk nyeri yang paling sering dikeluhkan adalah nyeri kepala. Nyeri kepala merupakan sensasi tidak nyaman pada daerah atas kepala yang memanjang dari orbita / rongga mata sampai ke daerah belakang kepala. Rasa nyeri ini terjadi karena perangsangan struktur peka nyeri di kepala atau leher. Secara umum nyeri kepala dibagi menjadi nyeri kepala primer dan sekunder. Nyeri kepala primer adalah nyeri kepala yang tidak menandakan adanya kelainan pada otak. Dalam kebanyakan kasus nyeri kepala primer bisa mereda dengan sendirinya, tetapi bisa juga memberat dan menjadi berkepanjangan. Sebaliknya, nyeri kepala sekunder menandakan adanya kelainan di otak. Kelainan pada otak terkait nyeri kepala sekunder bisa disebabkan oleh infeksi otak (meningitis), tumor otak, trauma kepala maupun gangguan pembuluh darah otak (aneurisma otak, perdarahan otak, penyumbatan pembuluh darah otak).

Nyeri kepala sekunder biasanya disertai dengan tanda bahaya yang harus diwaspadai yang disebut dengan red flag yaitu beberapa keadaan (gejala dan tanda pada penderita nyeri kepala) yang perlu diwaspadai dan dievaluasi lebih lanjut oleh ahli. Tanda bahaya atau red flag pada nyeri kepala tersebut adalah :

  • Nyeri kepala yang disertai gejala sistemik seperti demam, penurunan berat badan.
  • Adanya faktor risiko sekunder seperti HIV, penyakit kanker.
  • Adanya gejala dan tanda gangguan saraf seperti bingung, penurunan atau perubahan tingkat kesadaran, kelemahan / kesemutan separuh tubuh, pandangan kabur, pandangan ganda, kejang.
  • Awitan (onset) nyeri kepala yang mendadak atau secara progresif semakin berat.
  • Awitan (onset) nyeri kepala yang pertama kali dirasakan di atas umur 50 tahun atau di bawah umur 10 tahun.
  • Nyeri kepala yang pertama kali dirasakan dan sangat parah (thunderclap headache).
  • Nyeri dengan peningkatan frekuensi dan tingkat keparahan.
  • Selalu terjadi di satu sisi.
  • Muncul setelah cedera kepala.
  • Nyeri dicetuskan dengan adanya perubahan posisi, aktivitas dan peregangan.

Penderita nyeri kepala dengan tanda bahaya atau red flag disarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis saraf. Poliklinik saraf RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro dilayani oleh beberapa dokter spesialis saraf yang siap memberikan konsultasi dan pemeriksaan komprehensif terkait keluhan nyeri kepala. Saat menjalani konsultasi, dokter spesialis saraf akan melakukan wawancara (anamnesis) untuk menelusuri riwayat keluhan dan gejala penyerta lain serta melakukan pemeriksaan fisik. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dokter akan merekomendasikan satu atau beberapa pemeriksaan penunjang modern / canggih yang sudah tersedia di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro seperti CT scan kepala / otak, MRI kepala / otak, EEG (Electroencephalography) dan atau pemeriksaan laboratorium untuk membantu pelacakan penyebab nyeri kepala yang dialami. Selain itu, dokter spesialis saraf juga akan memberikan terapi berupa obat-obatan untuk mengurangi frekuensi dan intensitas nyeri kepala.

Sebagai kesimpulan, nyeri kepala adalah kondisi yang umum terjadi berupa rasa sakit atau tidak nyaman di kepala. Sebagian besar nyeri kepala tidak parah dan bisa diatasi sendiri dengan minum obat pereda sakit, minum air putih yang cukup dan beristirahat. Namun ada beberapa kondisi yang dikenal dengan red flag yaitu kondisi yang menunjukkan penyakit yang serius dan memerlukan penanganan lebih lanjut.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Ahmed F. Headache Disorders : Differentiating and Managing The Common Subtypes. British Journal of Pain. 2012;6(3):124-132.
  2. Ceron JM, Careaga VM, Pena L, Mutis J and Ortiz G. Headache at The Emergency Room : Etiologies, Diagnostic Usefulness of The ICHD 3 Criteria, Red and Green Flags. PLOS One. 2019:14(1):1-8.