dr. Kanina Sista, Sp.F, M.Sc – Sejak pertama kali diketahui adanya kasus Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di Wuhan, terjadi peningkatan kasus COVID-19 di seluruh dunia dengan sangat cepat termasuk di Indonesia. Pada tanggal 14 Juli 2020, Kementerian Kesehatan melansir terdapat total 78.572 kasus terkonfirmasi COVID-19 dengan jumlah kematian sebanyak 3,710 kasus, terhitung sejak pertama kali ditemukan di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020. Dari berbagai penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa keparahan penyakit COVID-19 meningkat pada pasien dengan obesitas.

Obesitas merupakan penyakit yang terjadi akibat penimbunan jaringan lemak yang berlebihan. Dewasa ini lebih dari 1 miliar orang dewasa mengalami obesitas yang prevalensinya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. World Health Organization menyatakan kriteria seseorang dikatakan mengalami obesitas jika nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) orang tersebut mencapai lebih dari 30, dimana IMT normal adalah antara 18,5-24,9. Seperti yang dilansir dari jurnal Diabetes, Metabolic Syndrome and Obesity : Targets and Therapy, obesitas dapat disebabkan oleh pola makan, kurangnya aktifiktas fisik, gaya hidup, genetik dan lain-lain. Obesitas memiliki dampak terhadap kesehatan, antara lain meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung koroner, stroke, diabetes mellitus, hipertensi serta gangguan reproduksi.

Pengaruh obesitas terhadap penyakit COVID-19

Studi serial kasus yang dilakukan terhadap 383 pasien di Shenzhen, China mendapatkan bahwa pasien dengan obesitas cenderung memiliki gejala batuk dan demam sebagai gejala awal serta diketahui bahwa pasien obesitas, terutama pada laki-laki akan meningkatkan risiko keparahan penyakit pada COVID-19.

Sebuah penelitian yang melibatkan 3615 pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dengan usia <60 tahun di New York, mendapatkan hasil bahwa sebanyak 21% pasien memiliki IMT 30-34 sedangkan 16% pasien memiliki IMT > 35. Dalam analisisnya diketahui bahwa pasien dengan usia <60 tahun dengan IMT 30-34 memiliki risiko 2 kali lebih tinggi untuk dirawat di ruang rawat intensif/ICU jika dibandingkan dengan pasien dengan IMT <30. Risiko ini akan meningkat menjadi 3,6 kali lebih tinggi pada pasien dengan IMT > 35.

Dari  penelitian Arthur Simonnet, dkk yang dilakukan di Perancis, diketahui bahwa proporsi pasien yang membutuhkan ventilator mekanik invasif meningkat pada pasien obesitas dengan IMT > 30 dan >35 dibandingkan dengan pasien dengan IMT <25.

Obesitas meningkatkan risiko keparahan penyakit pada COVID-19

Kunci penting pada infeksi COVID-19 adalah sistem kekebalan tubuh. Pada obesitas, terjadi ketidakseimbangan sistem kekebalan tubuh dan diketahui terjadi peningkatan petanda peradangan pada pasien dengan obesitas sehingga obesitas sering dikaitkan dengan keadaan inflamasi kronis tingkat rendah. Peradangan pada jaringan lemak menyebabkan disfungsi metabolik yang berpotensi menyebabkan dislipedemia – kondisi dimana kadar lemak dalam darah meningkat, resistensi insulin, diabetes mellitus tipe 2, hipertensi dan penyakit jantung dan pembuluh darah. Terganggunya sistem kekebalan tubuh akan menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan penyakit secara efektif.

Seperti yang dikutip dari obesity and its implications for COVID-19 mortality, obesitas juga diketahui dapat menurunkan volume cadangan ekspirasi, kapasitas fungsional dan penyesuaian sistem respirasi. Pada pasien dengan penumpukan lemak pada perut, fungsi paru-paru semakin menurun ketika posisi terlentang karena diafragma naik sehingga akan mengalami kesulitan bernapas.

Faktor-faktor tersebut dianggap dapat memediasi perkembangan penyakit menjadi lebih berat dan mengalami kegagalan organ, sehingga pada orang dengan obesitas akan meningkatkan risiko menderita penyakit COVID-19 yang lebih parah.

Cara pencegahan obesitas :

Terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk mencegah obesitas, di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Menjalankan pola makan yang benar.

Prinsip pengaturan diet adalah dengan pemberian diet seimbang sesuai dengan Requirement Daily Allowances (RDA). Mengkonsumsi makanan beranekaragam, idealnya saat setiap kali makan terdiri dari empat kelompok makanan yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah. Konsumsi makanan diutamakan bersumber dari karbohidrat kompleks seperti padi-padian dan umbi-umbian. Protein, sayur dan buah dikonsumsi 2-3 porsi perhari dengan membatasi konsumsi lemak, minyak dan gula. Makanan olahan sebaiknya dihindari karena biasanya ditambahkan garam, gula, lemak dan tinggi kalori.

  1. Meningkatkan aktivitas fisik.

Peningkatan aktivitas fisik diharapkan dapat mencegah obesitas karena berpengaruh terhadap penggunaan energi dan meningkatkan laju metabolisme tubuh.  Salah satu yang penting dilakukan adalah olahraga teratur minimal 3 kali seminggu dengan durasi minimal 30 menit per sesi olahraga.  Olahraga atau latihan fisik yang dapat direkomendasikan adalah aktivitas aerobik seperti jalan cepat atau berlari; penguatan otot (muscle strengthening) seperti senam atau push-up; serta penguatan tulang (bone strengthening) seperti lompat tali atau berlari.

  1. Modifikasi perilaku

Beberapa cara perubahan perilaku berdasarkan metode food rules adalah melakukan pengawasan terhadap berat badan, melakukan kontrol terhadap rangsangan – misalnya pada saat sedang menonton televisi, mengubah perilaku makan, memberi penghargaan dan melakukan pengendalian diri. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur lebih mungkin menjadi gemuk, sehingga waktu tidur yang cukup dapat membantu kestabilan berat badan. Durasi tidur yang direkomendasikan adalah 8 jam.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Cai Q, Chen F, Wang T, Luo F, Liu X, Wu Q, et al. Obesity and COVID-19 Severity in a Designated Hospital in Shenzhen, China. Diabetes Care. 2020;43(7):1392-8.
  2. Dietz W, Santos-Burgoa C. Obesity and Its Implications for COVID-19 Mortality. Obesity. 2020;28(6):1005.
  3. Finer N, Garnett SP, Bruun JM. COVID19 and Obesity. Clin Obes. 2020;10(3):1-2.
  4. Kassir R. Risk of COVID-19 for Patients with Obesity. Obes Rev. 2020;21(6):10-1.
  5. Lighter J, Phillips M, Hochman S, Sterling S, Johnson D, Francois F, et al. Obesity in patients younger than 60 years is a risk factor for COVID-19 hospital admission. Clin Infect Dis. 2020;(Xx Xxxx):2019-20.
  6. Pereira-Lancha LO, Campos-Ferraz PL, Lancha AH. Obesity : Considerations about etiology, metabolism, and the use of experimental models. Diabetes, Metab Syndr Obes Targets Ther. 2012;5:75-87.
  7. Ryan DH, Ravussin E, Heymsfield S. COVID 19 and the Patient with Obesity – The Editors Speak Out. Obesity. 2020;28(5) : 847.
  8. Sattar N, McInnes IB, McMurray JJ V. Obesity a Risk Factor for Severe COVID-19 Infection : Multiple Potential Mechanisms. Circulation. 2020;4-6.
  9. Simonnet A, Chetboun M, Poissy J, Raverdy V, Noulette J, Duhamel A, et al. High Prevalence of Obesity in Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) Requiring Invasive Mechanical Ventilation. Obesity. 2020;28(7):1195-9.
  10. Stefan N, Birkenfeld AL, Schulze MB, Ludwig DS. Obesity and impaired metabolic health in patients with COVID-19. Nat Rev Endocrinol [Internet]. 2020;16(7):341-2. Tersedia pada : http://dx.doi.org/10.1038/s41574-020-0364-6.
  11. Zheng KI, Gao F, Wang XB, Sun QF, Pan KH, Wang TY, et al. Obesity as a risk factor for greater severity of COVID-19 in patients with metabolic associated fatty liver disease. Metabolism. 2020;108:154244.