Tim PKRS RSST – Sudah 7 (tujuh) bulan pandemi Virus Corona menerpa Indonesia. Bermacam usaha penanganan dan pencegahan penularan virus penyebab COVID-19 ini telah dilakukan.

Sampai dengan kondisi saat ini justru belum memperlihatkan tanda yang membaik. Setelah sebelumnya klaster-klaster seperti perkantoran dan tempat ibadah berhasil diidentifikasi, kini muncul klaster baru yang disebut klaster keluarga.

Munculnya klaster penularan baru COVID-19, yakni klaster keluarga, menimbulkan kekhawatiran baru di masyarakat.

Pemerintah mengingatkan bahwa COVID-19 dapat menular di rumah yang dihuni sebuah keluarga. Oleh karena itu, pemerintah meminta agar masyarakat berhati-hati dan tetap mematuhi protokol kesehatan saat berada di rumah. Hal ini penting dilakukan sebagai upaya mencegah meluasnya penularan lewat klaster keluarga.

Klaster keluarga menunjukkan bahwa COVID-19 sudah merambah ke unit terkecil dalam masyarakat. Ditambah dengan kebutuhan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti bekerja di luar rumah, sehingga kewaspadaan dan pengetahuan pencegahan penularan mutlak diperlukan.

Hal apa saja yang perlu diperhatikan dan yang harus dilakukan apabila ada keluarga serumah yang positif COVID-19?

Juru Bicara Satgas COVID-19 RS Universitas Sebelas Maret, Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila merasa diri sendiri bergejala, atau dinyatakan positif COVID-19. Hal pertama yang harus segera dilakukan adalah dengan isolasi mandiri sesuai dengan pedoman dari Kementerian Kesehatan RI.

Akan tetapi, apabila gejala yang dirasakan bertambah, segera hubungi rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih memadai. Hal tersebut juga dilakukan apabila terdapat anggota keluarga yang bergejala, atau dinyatakan positif COVID-19. Anggota keluarga yang sehat, mengambil peran kontak dan komunikasi ke pihak terkait. Kemudian memberikan pengawasan terhadap berjalannya isolasi mandiri anggota keluarga yang sakit.

Apabila ada anggota keluarga yang dinyatakan positif COVID-19 dan harus dirawat di rumah sakit, ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk dukungan meskipun tidak dapat menjenguk secara langsung.  Kedua hal tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Pertama, manfaatkan ponsel untuk tetap berkomunikasi dengan anggota keluarga yang sakit.
  2. Kedua, ada rumah sakit yang memfasilitasi komunikasi lewat CCTV ke ruang isolasi tempat keluarga sedang dirawat.

Selain itu kita juga dapat mengirimkan makanan, buah-buahan, atau apa pun yang disukai pasien, melalui perawat ruang isolasi. Selama tidak ada catatan khusus terkait kondisi pasien, maka makanan dapat diberikan.

Untuk isolasi mandiri atau perawatan di rumah dapat dilakukan terhadap orang yang bergejala ringan dan tanpa kondisi penyerta (komorbid). Tindakan ini dapat dilakukan kepada pasien dalam pengawasan, orang dalam pemantauan, dan kontak erat yang bergejala dengan tetap memperhatikan kemungkinan terjadinya perburukan.

Berikut adalah tata laksana isolasi mandiri :

  1. Perawatan
    • Tempatkan pasien dalam ruangan tersendiri yang memiliki ventilasi yang baik.
    • Batasi pergerakan dan minimalkan berbagi ruangan yang sama. Pastikan ruangan bersama (seperti dapur, kamar mandi) memiliki ventilasi yang baik.
    • Anggota keluarga yang lain sebaiknya tidur di kamar yang berbeda, dan jika tidak memungkinkan maka jaga jarak minimal 1 (satu) meter dari pasien (tidur di tempat tidur berbeda).
    • Batasi jumlah orang yang merawat pasien. Idealnya satu orang yang benar-benar sehat tanpa memiliki gangguan kesehatan lain atau gangguan kekebalan.
    • Pengunjung / penjenguk tidak diizinkan sampai pasien benar-benar sehat dan tidak bergejala.
  2. Kebersihan tangan
    • Lakukan cuci tangan segera setiap ada kontak dengan pasien atau lingkungan pasien.
    • Lakukan cuci tangan sebelum dan setelah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah dari kamar mandi, dan kapanpun tangan kelihatan kotor.
    • Jika tangan tidak tampak kotor dapat menggunakan hand sanitizer, dan untuk tangan yang kelihatan kotor menggunakan air dan sabun.
    • Jika mencuci tangan menggunakan air dan sabun, handuk kertas sekali pakai direkomendasikan. Jika tidak tersedia bisa menggunakan tisu.
  3. Penggunaan masker
    • Pasien menggunakan masker (masker bedah) jika berada di sekitar orang-orang yang berada di rumah atau ketika mengunjungi fasyankes untuk mencegah penularan melalui droplet.
    • Anak berusia 2 (dua) tahun ke bawah tidak dianjurkan menggunakan masker.
    • Orang yang memberikan perawatan menggunakan masker (masker bedah) terutama jika berada dalam satu ruangan dengan pasien.
    • Masker tidak boleh dipegang selama digunakan. Jika masker kotor atau basah segera ganti dengan yang baru.
    • Buang masker (masker bedah) dengan cara yang benar (jangan disentuh bagian depan, tapi mulai dari bagian belakang dengan memegang tali masker). Buang masker (masker bedah) segera dan segera cuci tangan.
    • Gunakan sarung tangan dan masker (masker bedah) jika harus memberikan perawatan mulut atau saluran nafas dan ketika kontak dengan darah, tinja, air kencing atau cairan tubuh lainnya seperti ludah, dahak, muntah dan lain-lain.
    • Cuci tangan sebelum dan sesudah membuang sarung tangan dan masker (masker bedah).
    • Jangan gunakan masker atau sarung tangan yang telah terpakai.
  4. Kebersihan rumah
    • Pisahkan alat makan untuk pasien (cuci dengan sabun dan air hangat setelah dipakai agar dapat digunakan kembali).
    • Bersihkan permukaan di sekitar pasien termasuk toilet dan kamar mandi secara teratur.
    • Cuci pakaian, seprai, handuk, masker kain pasien menggunakan sabun cuci rumah tangga dan air atau menggunakan mesin cuci dan keringkan.
    • Tempatkan pada kantong khusus dan jangan digoyang-goyang, dan hindari kontak langsung kulit dan pakaian dengan bahan-bahan yang terkontaminasi.
    • Menggunakan sarung tangan saat mencuci dan selalu mencuci tangan sebelum dan setelah menggunakan sarung tangan.
    • Sarung tangan, masker dan bahan-bahan sisa lain selama perawatan harus dibuang di tempat sampah di dalam ruangan pasien yang kemudian ditutup rapat sebelum dibuang sebagai kotoran infeksius
    • Ketika petugas kesehatan memberikan pelayanan kesehatan rumah, maka selalu perhatikan APD dan ikut rekomendasi pencegahan penularan penyakit melalui droplet. (Tn)

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/06/160500465/berkaca-dari-munculnya-klaster-klaster-keluarga-apa-sebab-dan-bagaimana?page=all.
  2. https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/07/140200965/banyak-klaster-keluarga-lakukan-ini-jika-saudara-anda-positif-covid-19?page=all.