dr. Hesty Lusinta, Sp.MK – Penyakit Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB), yang paling sering menginfeksi paru-paru (TB paru), namun dapat juga menginfeksi organ lain (TB ekstra paru), seperti kulit, usus dan organ lainnya. Sampai saat ini, TB masih merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi masalah kesehatan global dan nasional yang sangat mengkhawatirkan. Di samping itu, saat ini penyakit TB juga diperberat dengan adanya TB Resisten Obat (TB-RO). Rendahnya penemuan kasus dan lamanya penegakan diagnosis TB menjadi masalah yang dihadapi dalam menanggulangi TB.

Metode deteksi yang banyak digunakan adalah dengan pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis memiliki keunggulan murah dan cepat, namun kekurangannya adalah sensitivitas yang rendah, tidak dapat mendeteksi kepekaan terhadap obat dan mempunyai kualitas yang berbeda-beda oleh karena hasilnya sangat dipengaruhi oleh tingkat ketrampilan teknisi dalam melakukan pemeriksaan / pembacaan. Sementara itu, metode konvensional yang digunakan untuk mendeteksi adanya TB-RO adalah dengan biakan dan uji kepekaan terhadap obat. Pemeriksaan biakan ini membutuhkan waktu yang lama, yaitu 3 – 4 bulan, dan menggunakan prosedur khusus, sehingga tidak dapat dilakukan pada semua laboratorium yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini menyebabkan pasien mungkin mendapatkan obat yang kurang sesuai sehingga meningkatkan risiko kejadian resistensi dan penyebaran.

Untuk mengatasi masalah tersebut, saat ini telah ada pemeriksaan dengan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan Xpert MTB/RIF. Hasil penelitian skala besar yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa pemeriksaan dengan TCM ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas untuk diagnosis TB yang jauh lebih baik dibandingkan pemeriksaan dengan metode mikroskopis dan mendekati kualitas diagnosis dengan pemeriksaan biakan.

Pemeriksaan TCM merupakan metode deteksi molekuler berbasis nested real-time PCR. Penggunaan TCM menjadi prioritas pemeriksaan TB oleh karena mempunyai beberapa kelebihan, di antaranya :

  1. Sensitivitas tinggi
  2. Cepat : hasil dapat diketahui dalam waktu kurang lebih 2 jam.
  3. Dapat mendeteksi secara simultan / bersamaan adanya bakteri MTB dan resistensi terhadap rifampisin, yang merupakan salah satu obat anti tuberkulosis yang paling sering digunakan.

Untuk mendiagnosis TB paru, spesimen yang digunakan pada pemeriksaan TCM adalah dahak, baik yang didapat dengan berdahak langsung ataupun dengan diinduksi. Namun pada anak-anak dapat juga digunakan spesimen bilasan lambung ataupun feses. Sedangkan untuk TB ekstra paru, menggunakan spesimen sesuai dengan lokasi infeksi, yang akan ditentukan oleh dokter yang merawat.

Dalam upaya menanggulangi penyakit TB, pemerintah membuat kebijakan melalui Permenkes No. 67 tahun 2016 tentang Penanggulangan TB dan Rencana Aksi Nasional Penanggulangan TB Melalui Penguatan Laboratorium TB 2016 – 2020, yang mengatur penggunaan TCM untuk mendiagnosis TB, baik yang sensitive obat maupun yang resisten obat. Alat TCM tersebut ditempatkan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang telah melalui proses seleksi kelayakan. RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro merupakan salah satu rumah sakit yang telah dinilai layak oleh pemerintah untuk memberikan pelayanan pemeriksaan dengan TCM dan menjadi rumah sakit rujukan di kabupaten Klaten dan sekitarnya.

Oleh karena pemeriksaan ini merupakan program nasional dalam penanggulangan TB, maka untuk saat ini pemeriksaan TCM tidak dikenakan biaya (GRATIS), namun harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Terkait prosedur pemeriksaan TCM, masyarakat dapat menghubungi bagian informasi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.