Diana Trifi Yulianti, AM.Keb – ASI adalah sumber nutrisi terbaik bagi  bayi dan makanan yang ideal, aman, bersih, dan mengandung antibodi yang membantu melindungi dari berbagai penyakit. ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi. WHO dan UNICEF merekomendasikan agar bayi memulai menyusui dalam satu jam pertama kelahiran dan disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, artinya tidak ada makanan atau cairan lain yang diberikan.

Menyusui adalah salah satu cara paling efektif untuk memastikan kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Namun, hampir 2 dari 3 bayi tidak disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama selama 2 dekade ini. (WHO, 2020). Anak-anak yang disusui tampil lebih baik dalam tes kecerdasan, lebih kecil kemungkinannya untuk kelebihan berat badan atau obesitas dan resiko rendah terhadap diabetes di kemudian hari. Wanita yang menyusui juga memiliki penurunan risiko kanker payudara dan ovarium.

Periode awal menyusui sangat menentukan keberhasilan ASI Eksklusif, namun ada beberapa alasan yang membuat ibu memutuskan untuk berhenti memberikan ASI salah satunya yaitu karena produksi ASI yang dirasa kurang mencukupi. Pada periode awal ini, ibu masih fokus dengan kodisi dirinya tapi disisi lain dia harus segera menyusui bayinya. ASI yang dirasa kurang mencukupi menjadi kendala untuk mulai menyusui bayinya. Mereka menjadi bingung apakah akan menyusui sementara ASI belum  keluar, atau apakah ASI yang baru keluar sedikit cukup utuk kebutuhan bayi.  Jika dalam kodisi ini tidak ada dukungan terutama dari keluarga maka alternatif yang diambil adalah pemberian susu formula sehingga tidak tercapainya pemberian ASI Eksklusif.

Produksi ASI dipengaruhi oleh hormon Oksitosin dan Prolaktin. Saat ada refleks menghisap maka kelenjar hipotalamus di otak akan menerima sinyal untuk memproduksi ASI. Semakin sering bayi menghisap putting susu maka ASI yang diproduksi semakin banyak. hormon oksitosin berperan dalam refleks pengeluaran ASI (Let Down Refleks). Reflek pengeluaran ASI sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi dan perasaan ibu. Saat ibu merasa cemas atau stres terjadi pelepasan hormon adrenalin yang menyebabkan vasokonstriksi dari pembuluh dara alveoli, sehingga oksitosin yang dikeluarkan sedikit sehingga berpengaruh terhadap pengeluaran ASI. Dukungan psikologis yang diberikan akan membuat ibulebih percaya bahwa ibu dapat menghasilkan produksi ASI yang cukup untuk bayi.

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ASI dapat dilakukan dengan menggunakan terapi komplementer. Terapi komplementer adalah cara metode yang dilakukan sebagai pendukung pengobatan medis / konvensional yang diimaksudkan untuk melengkapi atau menyempurnakan bersifat non-invasif, murah, aman, dan berdasarkan eviden base (Altika, 2021). Beberapa terapi komplementer untuk meningkatkan produksi ASI adalah :

  • Akupresure

Teknik pemberian akupresure dapat memberikan perintah kepada hipofisis untuk mengeluarkan hormon prolaktin dan oksitosin, pemberian akupresure dilakukan dengan cara penekanan di beberapa titik tertentu yang kemudian akan memberikan rangsangan pada otak untuk mengeluarkan hormon prolaktin dan hormon oksitosin pada darah yang akhirnya akan membuat produksi ASI meningkat. (Wulandari et al., 2019).

Akupresur juga dapat meningkatkan perasaan rileks pada ibu postpartum, akupresur dapat meninkatkan kadar endorphin dalam darah, dan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kadar prolaktin titik yang digunakan untuk pijat akupresur ialah tangan, dan dititik lokal pada payudara sehingga membantu pengeluaran ASI secara maksimal (Khabibah & Mukhoirotin, 2019).

  • Aromaterapi

Aromaterapi   dapat diartikan  sebagai  suatu  cara  perawatan  tubuh  dan atau  penyembuhan  penyakit  dengan  menggunakan minyak esensial / essential oil (Kenia dan Taviyanda, 2013). Salah satu aroma terapi yang bisa digunakan adalah aromaterapi Lavender. Aromaterapi lavender adalah aromaterapi yang   menggunakain bunga lavendulan atau  biasa disebut lavender,  yang  memiliki  zat  aktif  berupa linalool acetate dan linalyl acetate yang dapat berefek sebagai analgesik. Sifat-sifat yang terkandung  dalam minyak esensial lavender yaitu sebagai antiseptik, antidepresan, meringankan stress dan sulit tidur. Menghirup aromaterapi lavender dapat menimbulkan efek relaksasi pada sistem syaraf pusat. Efek relaksasi pada system syaraf pusat membantu meningkatkan produksi hormone oksitosin yang berdampak terhadap meningkatnya produksi ASI.

  • Hypnobreastfeeding

Hypnobreastfeeding merupakan teknik relaksasi untuk membantu kelancaran proses menyusui. Caranya memasukkan kalimat-kalimat afirmasi yang positif yang membantu proses menyusui di saat ibu dalam keadaan rileks atau sangat berkonsentrasi pada suatu hal. Definisi hypnosis sendiri adalah suatu kondisi nirsadar yang terjadi secara alami, dimana seseorang mampu menghayati pikiran dan sugesti tertentu untuk mencapai perubahan psikologis, fisik maupun spiritual yang diinginkan. Dalam teknik ini, perubahan yang diinginkan adalah segala hal yang mempermudah dan memperlancar proses menyusui. Contoh kalimat sugestinya: ”ASI saya keluar lancar”, saya merasa bahagia bisa menyusui”, “saya bangga bisa ASI”, “saya selalu merasa tenang dan rileks” (Armini, 2016).

  • Yoga

Yoga merupakan seni meditasi yang berarti penyatuan tubuh dengan pikiran, dan jiwa untuk mencapai kebahagian, keseimbangan hidup. Yoga dapat meningkatkan produksi ASI dengan cara mempengaruhi sistem hormon tubuh (Susan, 2010). Ada beberapa gerakan yoga yang juga dapat meningkatkan produksi ASI seperti Gerakan Pranayama dan Asana latihan ini yang dapat mempengaruhi sistem hormon tubuh, dalam melakukan yoga ini dapat meningkatkan hormon prolaktin maka akan terjadinya peningkatan produksi ASI (Yesia Aprillia, 2011).

  • Pijat Oketani, Pijat Woolwich, dan Massage rolling

Pijatan Oketani dapat menstimulasi kekuatan otot pektoralis yang bertujuan untuk meningkatkan produksi ASI dan kualitas ASI, dan membuat bayi mudah menghisap karna payudara ibu yang lembut dan elastis (Mutiar et al., 2020). Pijat Oketani juga dapat memberikan rasa lega dan nyaman serta mencegah puting lecet dan memperbaiki masalah-masalah laktasi yang disebabkan oleh puting rata (flat nipple) serta puting yang masuk ke dalam.

Metode Pijat Wolwich, akan mempengaruhi kerja saraf vegetative dan jaringan bawah kulit yang untuk melemaskan jaringan sehingga memperlancar aliran darah pada sistem duktus, sehingga sisa-sisa sel system duktus akan dibuang agar tidak menghambat aliran ASI melalui ductus lactiferus sehingga aliran ASI akan menjadi lancar (Badrus, 2018). Pijat Wolwich dilakukan pada area sinus lactiferous tepatnya 1 – 1,5 cm di atas areola mamae, dengan tujuan untuk mengeluarkan ASI yang ada pada sinus laktiferus.

Rolling Massage yang dilakukan pada ibu setelah melahirkan agar membantu kerja hormon oksitosin dalam pengeluaran produksi ASI, yang berpengaruh pada syaraf parasimpatis menyampaikan sinyal ke otak bagian belakang untuk merangsang kerja oksitosin dalam produksi ASI agar keluar (Ridawati & Susanti, 2020).

Telah banyak penelitian tentang cara meningkatkan produksi ASI dengan terapi komplementer, dimana metode ini murah dan mudah dilakukan oleh masyarakat khususnya ibu menyusui. Dengan adanya terapi komplementer ini diharapkan dapat mensukseskan keberhasilan ibu menyusui dan ASI Eksklusif.

Referensi                    :

  1. Altika S, Kasanah U. 2021. Survei Implementasi Pelayanan Kebidanan Komplementer Dalam Mengurangi Intervensi Medis. Community of Publishing In Nursing (COPING), p-ISSN 2303-1298, e-ISSN 2715-1980.
  2. Aprilia , Yesie. 2011. Hipnostetri : Rileks, Nyaman, dan Aman Saat Hamil & Melahirkan. Jakarta : Gagas Media.186 Halaman.
  3. Armini, N W. 2016. Hypnobreastfeeding Awali Suksesnya Asi Eksklusif. Jurnal Skala Husada Volume 13 Nomor 1 April 2016 : 21-29.
  4. Badrus, A. R. 2018. Perbedaan Massage Woolwich dan Massage Rolling (Punggung) Terhadap Peningkatan Produksi Asi Pada Ibu Postpartum. J-HESTECH (Journal of Health Educational Science and Technology), 1(1), 43.
  5. Kenia,   Ni   Made,   dan   Dian   Taviyanda. 2013. Influence  of  Relaxation  Therapy  (Rose Aromatherapy) Towards Blood Pressure Change of The Elderly With Hypertension.” Jurnal Penelitian Stikes Kediri6(1): 84-98.
  6. Khabibah, L., & Mukhoirotin, M. 2019. Pengaruh Terapi Akupresur dan Pijat Oksitosin Terhadap Peningkatan Produksi ASI pada Ibu Postpartum di RSUD Jombang. JURNAL EDUNursing, 3(2), 68-77.
  7. Mutiar, A., Dynyyah, N., Nurhayati, N., & Noorhayati, S. 2020. Efektivitas Pijat Oketani Terhadap Breset Engorgenemet Pada Ibu Postpartum : Literature Review. 3(2), 93-107.
  8. Ridawati, I. D., & Susanti, N. H. 2020. Asuhan Keperawatan Back Rolling Massage untuk Mengatasi Ketidakefektifan Menyusui Padaibu Post Partum Nursing Care Back Rolling Massage to Overcome Ineffective Breastfeeding in the Post Partum Mothers. Konsep Dasar Keperawatan.
  9. Wulandari, A. S., Hasanah, O., & Sabrian, F. 2019. Pengaruh Akupresur Terhadap Produksi Air Susu Ibu (ASI). Jurnal Ners Indonesia, 9(2), 51.
  10. WHO. 2021. Breastfeeding. https://www.who.int/health-topics/breastfeeding.
  11. Yuliani N R, Larasati N, Setiwandari. 2021. Peningkatan Produksi Asi Ibu Menyusui Dengan Tatalaksana Kebidanan Komplementer. Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian Ke-III (SNHRP-III 2021).