Terapi Gizi Pada Pasien Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD)

dr. Phitra Sekar Dianggra, Sp.GK – Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) atau sering disebut dengan penyakit perlemakan hati non-alkohol merupakan kelainan hati yang secara histopatologi mirip dengan gambaran kelainan hati yang disebabkan karena konsumsi alkohol. Penyakit perlemakan hati non-alkohol terjadi pada penderita dengan sedikit atau tanpa ada riwayat konsumsi alkohol.1,2 Prevalensi NAFLD semakin pesat, penelitian di negara-negara barat didapatkan angkat prevalensi sebanyak 20-30% dimana 50% di antaranya penderita diabetes mellitus dan sekitar 80% penderita obesitas.3 Populasi di Indonesia secara umum belum didapatkan data prevalensi. Pada populasi urban di Jakarta data penelitian Hasan dengan USG hepar didapatkan prevalensi NAFLD sekitar 30%.4

Berdasarkan data prevalensi tersebut di atas, didapat kesimpulan yaitu faktor risiko terjadinya NAFLD yaitu sindroma metabolik seperti : obesitas, obesitas sentral (lingkar perut wanita > 80 cm, pria > 90 cm), DM (Diabetes Mellitus) tipe 2, Hipertensi dan dislipidemia (Trigliserida > 150 mg/dl, HDL (< 40 mg/dl pada pria, < 50 mg/dl pada wanita), atau sedang dalam pengobata penurunan lemak).5 Pasien obesitas berisiko terkena NAFLD meningkat hingga 37%.6 Angka kejadian akan semakin meningkat seiring perkembangan pasar pangan dengan berbagai varian menu yang megandung tinggi kalori tetapi rendah zat gizi.

Terapi gizi dapat diterapkan untuk usaha pencegahan mauapun pengobatan NAFLD. Ada 3 cara yaitu : 7,8

Perubahan gaya hidup (lifestyle changes).

  1. Diusahakan tidur tidak larut malam.
  2. Stop merokok
  3. Stop konsumsi alkohol.

Diet sesuai anjuran dan perhitungan Dokter Gizi maupun Ahli Gizi.

  1. Penurunan berat badan (indeks massa tubuh < 25 kg/m2).
  2. Penurunan lingkar perut, wanita < 80 cm dan laki-laki < 90 cm.
  3. Diet sesuai dengan penyakit mendasari, misalkan pasien dengan sindroma metabolik, maka diet yang dapat diberikan yaitu :
  • Karbohidrat : 50-60% dari total kalori.

–      Diutamakan karbohidrat kompleks : nasi, kentang, ubi, biji-bijian, gandum, dan lain-lain.

–      Hindari karbohidrat simplek : gula, kue kering, permen, jus, krupuk.

–      Pilih karbohidrat yang mempunyai Indeks Glikemik (kadar glukosa) yang rendah (di bawah 55), contoh : beras merah, oat, roti gandum, buah, sayur-sayuran.

–      Perhatikan Glikemiks Load (muatan kandungan gula di setiap makanan). Jika suatu makanan mempunyai indeks glikemiks yang rendah, tetapi jumlah sekali makan banyak, maka glikemiks load menjadi tinggi. Sebaiknya tetap diperhatikan jumlah makanan yang akan dikonsumsi.

  • Protein : 10-20% dari total kalori.

–      Jika fungsi ginjal baik dapat diberikan minimal 0,8-1 g/hari sesuai berat badan ideal.

–      Jika mempunyai kelainan fungsi ginjal, jumlah protein akan disesuaikan dengan kadar kreatinin pasien.

–      Pemilihan protein : putih telur, ikan (tawar atau laut), ayam bagian dada tanpa kulit, daging sapi has dalam, tahu, tempe, tofu, dan lain-lain.

  • Serat/Fiber : 20-39 gram/hari.

Serat atau fiber bisa didapat dari buah-buahan dan sayur-sayuran.

  • Total lemak : 25-35% dari total kalori.

–      Pilih lemak tak jenuh tunggal seperti : minyak zaitun.

–      Hindari mentega, butter, krim, keju.

–      Cara memasak :

     Diusahakan jangan untuk menggoreng dalam jumlah banyak, dalam waktu yang lama dan berkali-kali.

     Dikukus atau dipepes.

  • Kolesterol : < 200 mg/hari.
  • Saturated fat : < 7% dari total kalori.

Untuk lebih sederhananya adalah hindari makanan siap saji, makanan yang mengandung banyak tepung, makanan dan minuman manis serta menghindari makanan dengan cara memasak digoreng (deep frying).

Peningkatan aktifitas fisik.

Aktifitas fisik mempunyai syarat yaitu :

  • Continous : teratur, dilakukan 4-5x/minggu selama 15-30 menit.
  • Rhythmical : gerakan teratur atau berirama.
  • Interval : bergantian/berselang seling (cepat-lambat).
  • Progresif : bertahap meningkatkan beban.
  • Endurance : latihan ketahanan.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Hamaguchi M, Kojima T, Ohbora A, Takeda N, Fukui M, Kato T. Aging is a risk factor of nonalcoholic fatty liver diases in premenopausal women. World J Gastroenterology. 2012;18(3):237-243.
  2. Alam S, Noor-E-Alam SM, Chowdhury ZR, Alam M, Kabir J. Nonalcoholic statohepatitis in nonalcoholic fatty liver disease patient of Bangladesh. World J Hepatol. 2013;5(5):281-287.
  3. Zelber-sagi S, Ratziu V, Oren R. Nutrition and physical activity in NAFLD : An overview of the epidemiological evidence. World J Gastroenterol. 2011 Agustust 7; 17(29):3377-3389.
  4. Hasan I, Machmud R. Prevalence and Risk Factors for Nonalcoholic Fatty Liver in Indonesia. Journal of Gastroenterohepatology. 2002;17(154).
  5. Chalasani N, Younossi Z, Laivine JE, Diehl AM, Brunt EM, Cusi K et al. The Diagnosis and Management of Non-Alcoholic Fatty Liver Disease: Practice Guideline by the American Association for the Study of Liver Disease, American College of Gastroenterology, and the American Gastroenterolgical Association. Official Journal of the American Association for the Study of Liver Disease. 2012;55(6):1-19.
  6. Eric Yan M, Durazo F, Tong M. Nonalcoholic Fatty Liver Disease : Pathogenesis , Identification , Progression , and Management. Nutrition in Clinical Care. 2007;1:376-84.
  7. Raymond JL, Couch SC. Medical Nutrition Therapy for Cardiovascular Diasease (Metabolic Syndome) in Krause’s Food and the Nutrition Care Process. 2012; 13: 753.
  8. Hoyas I, Leon Sanz M. Nutritional Challenges in Metabolic Syndrome. Journal of Clinical Medicine. 2019;8,1301.