Talkshow Kesehatan “Penyakit Mata Penyebab Utama Kebutaan di Indonesia” di Radio Candi Sewu Klaten

Klaten (16/10) – World Sight Day (Hari Penglihatan Sedunia) merupakan kegiatan kampaye global tahunan di seluruh dunia pada setiap kamis pekan kedua di Bulan Oktober untuk meningkatkan kewaspadaan kita semua terhadap kebutaan dan gangguan penglihatan. Pertama kali diinisiiasi pada tahun 2000 oleh Lions Club Internasional Foundation. WSD tahun ini jatuh pada tanggal 10 Oktober. Tema tahun ini : “VISION FIRST”.

Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) telah mendukung kegiatan WSD ini dalam upaya percepatan pencapaian target penanggulangan gangguan kebutaan (PGP) melalui advokasi secara nasional pada tahun 2018. Indonesia mengikuti tema yang dianjurkan oleh WHO dan IAPB (Badan Internasional untuk Pencegahan Kebutaan) untuk peringatan WSD 2019 yang bertema “Vision First” atau tema nasional “Mata Sehat, SDM Unggul”. Hal ini berarti kesehatan mata hendaknya menjadi perhatian dan kepedulian kita semua karena tanpa kesehatan mata yang baik penglihatan akan terganggu, yang berdampak negatif terhadap kualitas hidup dan produktivitas ekonomi.

Setiap 5 (lima) detik ditemukan 1 (satu) orang di dunia menderita kebutaan. Diperkirakan oleh WHO terdapat lebih dari 7 juta orang menjadi buta setiap tahun. Saat ini diperkirakan 180 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan penglihatan, dari angka tersebut terdapat antara 40-45 juta menderita kebutaan dan 1 di antaranya terdapat di South East Asia. Oleh karena populasi yang terus bertambah dan oleh faktor usia, jumlah ini diperkirakan akan bertambah 2 (dua) kali lipat di tahun 2020. Berdasarkan Global Data On Visual Impairment, WHO (2012) penyebab terbanyak kebutaan di dunia adalah Katarak (51%), Glaukoma (8 %), dan AMD (5%).

Katarak merupakan penyakit degenerasi yang ditandai oleh kekeruhan pada lensa mata. Survei nasional 2014 di laporkan prevalensi katarak 1,8 % (kasus terbanyak ditemukan di South East Asia). Insiden 0,1% kebutaan tiap tahun. Sebagian besar berada di daerah dengan ekonomi rendah. Penduduk Indonesia menderita katarak 15 tahun lebih awal dibandingkan penduduk negara maju. Kebutaan akibat katarak dapat diatasi dengan operasi.

dr. Poppy Setiati Hadiningsih, Sp.M; dokter spesialis mata di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten (RSST) menjadi narasumber dalam live talkshow kesehatan di Radio Candi Sewu Klaten pada Rabu, 16 Oktober 2019 pukul 10.00 – 11.00 WIB dengan tema “Penyakit Mata Penyebab Utama Kebutaan di Indonesia”.

Talkshow kesehatan berlangsung selama 60 menit dengan metode dialog interaktif. Masyarakat dapat mengajukan pertanyaan seputar tema kepada narasumber melalui line telepon, WA maupun SMS ke nomor Radio Candi Sewu Klaten.

Talkshow kesehatan terbagi menjadi 5 (lima) segmen. Dari mulai segmen 3 (tiga) hingga segmen 4 (empat), ada 2 (dua) sobat pendengar talkshow kesehatan di Radio Candi Sewu Klaten yang mengajukan pertanyaan seputar tema ini.

Dalam talkshow kesehatan ini, dr. Poppy Setiati Hadiningsih, Sp.M juga menyampaikan bahwa survei indra penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996 disusun masterplan Kesehatan Mata Nasional periode 1996-2005. Tanggal 15 Februari 2000, Megawati Soekarnoputri (waktu itu Wakil Presiden RI) mencanangkan program Vision 2020 – Right to Sight di Indonesia. Dalam master plan itu, ditargetkan tahun 2005 angka kebutaan turun menjadi 1,2 persen, 1 persen di tahun 2010, dan 0,5 persen di tahun 2020. Tahun 2003, Departemen Kesehatan RI bersama organisasi profesi Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) menyusun Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (Renstranas PGPK) yang menjadi pedoman Program Kesehatan Indera Penglihatan bagi semua pihak.