Posted by Bagian Pendidikan dan Penelitian at April 23, 2019 2:53 pm Informasi Kesehatan

SURVEI  BUDAYA KESELAMATAN PASIEN

SEBAGAI MODAL DASAR  PENINGKATAN MUTU

DAN KESELAMATAN PASIEN

DI RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMITE MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN

RSUP DR SOERADJI TIRTONEGORO

KLATEN

2018

 

 

 

K

 

ABSTRAK

SURVEI  BUDAYA KESELAMATAN PASIEN

SEBAGAI MODAL DASAR

PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN

DI RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN

 

Muslikhah Yuni Farkhati, Wachid Faozi Rochmad,  Siswi Oktariani

Komite Mutu dan Keselamatan Pasien

RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten

 

Abstrak

.

Tujuan :  Mengetahui gambaran budaya keselamatan pasien di tingkat rumah sakit dan unit kerja di RSUP dr Soeradji Tirtonegoro ( RSST )

Metode : Penelitian potong lintang dengan menggunakan kuesioner Hospital Survey on Patient Safety Culture ( HSoPSC) yang telah terstandarisasi terhadap seluruh pegawai yang memenuhi kriteria secara stratified random sampling.

Hasil : Sebanyak 310 dari 331 responden telah diikutkan dalam penelitian (response rate 93,95%). Nilai budaya positif di RS adalah 63,47% dengan dimensi dukungan manajemen , kerjasama dalam unit dan perbaikan berkesinambungan  memiliki nilai > 75%, sedang sisanya masih membutuhkan perbaikan. Pada unit yang berhubungan dengan pasien 88,3% diantaranya mempunyai nilai budaya positif kurang dari standar. Satunya – satunya faktor yang berhubungan dengan pelaporan insiden adalah jenis profesi ( p 0,023 )

Kesimpulan: Budaya keselamatan pasien di tingkat rumah sakit maupun unit kerja di RSST belum sesuai dengan standar

 

Kata kunci : survei , budaya keselamatan pasien , rumah sakit

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

 

Rumah sakit merupakan tempat yang sangat kompleks, terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur, berbagai alat dan teknologi, bermacam profesi dan non profesi yang memberikan pelayanan pasien selama 24 jam secara terus-menerus, dimana keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik dapat terjadi kejadian tidak diharapkan ( KTD ) , dimana KTD merupakan kejadian yang akan mengancam keselamatan pasien ( Depkes RI,2006 ).

Upaya peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit akan sangat berarti dan efektif bilamana keselamatan pasien menjadi budaya kerja sehari-hari dari setiap unsur di rumah sakit termasuk pimpinan, pelaksana pelayanan dan staf penunjang   (Bea, 2013). The Institute of Medicine ( IOM ) menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam gerakan perubahan menuju sistem pelayanan kesehatan yang lebih aman adalah mengubah budaya keselamatan pasien,  di mana sebuah kesalahan dianggap sebagai kesempatan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan mencegah insiden keselamatan pasien ( Doweri dkk,  2015). Sebagai respon terhadap rekomendasi IOM tersebut, organisasi pemberi layanan kesehatan sejak tahun 2006  mulai berfokus pada budaya keselamatan di unit kerjanya. Langkah pertama adalah dengan menetapkan status budaya keselamatan di rumah sakit (Sammer, CE dkk. 2010 ). Konsep budaya keselamatan pasien didefinisikan sebagai produk dari nilai – nilai, sikap, persepsi, kompetensi dan pola perilaku individu maupun kelompok yang akan mempengaruhi komitmen dan kemampuan organisasi dalam mengatur manajemen keselamatan. Budaya positif telah dikaitkan dengan peningkatan keselamatan pasien ( Fujita,dkk. 2014 )

RSUP dr Soeradji Tirtonegoro ( RSST ) sebagai salah rumah sakit vertikal milik Kementerian Kesehatan telah tersertifikasi secara paripurna dalam Akreditasi Rumah Sakit KARS pada tahun 2015. Sertifikasi ini memberikan sebuah tanggung jawab bagi RS untuk selalu melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkesinambungan melalui metode Plan-Do-Study- Action ( PDSA ) terhadap seluruh aspek pelayanan berfokus pasien, dengan tujuan utama adalah peningkatan mutu dan keselamatan pasien.  Meskipun kegiatan berfokus pada keselamatan pasien telah dicanangkan sejak tahun 2008, namun   belum tampak adanya perbaikan dalam penurunan  angka  insiden keselamatan  pasien  dan pencapaian indikator mutu keselamatan pasien.  Selama tahun  2015 didapatkan  laporan insiden keselamatan pasien sebanyak 222,   lebih tinggi 73 % dibanding tahun sebelumnya dengan 9% diantaranya adalah Kejadian Tidak Diharapkan (KTD). Meskipun sebagian besar laporan adalah insiden Kejadian Potensial Cedera (KPC), namun masalah yang terjadi adalah adalah masalah yang sama dan berulang pada bulan – bulan sebelumnya.   Salah satu alternatif langkah pertama yang mendasar dalam menerapkan standar pelayanan berbasis keselamatan pasien di RSST  adalah dengan mengetahui gambaran budaya keselamatan pasien  pada civitas  hospitalia RSST.

Survei budaya keselamatan pasien telah dilakukan sejak tahun 2000. Sebagian besar penelitian dilakukan   terhadap beberapa rumah sakit dalam wilayah tertentu   diantaranya adalah di Belgia ( Hellings  et al, 2007 ), Virginia  (Chtistine et al,2008), United States  (Singer et al, 2009 ),  Netherland ( Smiths et al, 2009 ), Saudi Arabia ( Alahmadi, 2010 ) , Lebanon (El Jardali dan Jafar , 2010) dan  Jepang ( Fujita S et al, 2014). Penelitian yang lain dilakukan di satu rumah sakit  diantaranya yaitu  di Riyadh  ( El Jardali , 2014),  China ( Gu dan Itoh, 2011),  Taiwan ( Chen dan Li, 2010) ,  RS  Hasan Sadikin ( Bea  IF,  Pasinringi AS, Noor B, 2013)  dan RS Masmitra  ( Puspitasari M, 2012).  Meskipun pada penelitian tersebut sebagian besar sampel terdiri dari berbagai profesi yang dianggap mewakili  seluruh komponen RS, namun hanya satu penelitian yang menyebutkan dengan jelas cara pengambilan sample secara strafified random sampling (Davoodi et al, 2013).  Sisanya dengan cara simple random sampling dan convenient sampling . Beberapa penelitian tidak menyebutkan cara pengambilan sampelnya.  Di RSST sendiri  penelitian seperti ini  belum pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini bermaksud untuk  mendapatkan data mengenai budaya keselamatan pasien di RSST.

 

 

 

 

 

  1. Perumusan Masalah

 

Berdasarkan  latar  belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai  berikut: Bagaimana gambaran budaya keselamatan pasien di  RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten?

 

  1. Tujuan Penelitian

 

  1. Tujuan umum

Mengetahui gambaran budaya keselamatan pasien di RSUP dr Soeradji Tirtonegoro Klaten

  1. Tujuan khusus
    1. Mengetahui gambaran budaya keselamatan pasien di unit kerja di RSST yang langsung berhubungan langsung dengan pasien
    2. Mengetahui gambaran budaya keselamatan pasien dalam masing – masing dimensi budaya keselamatan pasien
    3. Mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pelaporan insiden keselamatan pasien di RSST

 

  1. Manfaat Penelitian

 

  1. Manfaat bagi pasien, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien
  2. Manfaat bagi rumah sakit, penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dan sekaligus evaluasi pelaksanaan keselamatan pasien di RSST  sehingga dapat digunakan sebagai dasar bagi pembuatan kebijakan keselamatan pasien di RSST

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Budaya Keselamatan Pasien

Keselamatan pasien merupakan komponen penting dari kualitas kesehatan. Bahkan dengan kewaspadaan terus menerus, penyedia layanan kesehatan menghadapi banyak tantangan di lingkungan perawatan kesehatan dalam usaha  untuk  selalu menjaga pasien tetap aman.  Studi tentang keselamatan pasien sekarang menjadi subjek yang diharapkan  untuk dapat memberikan umpan balik melalui penerapan langkah-langkah perbaikan berdasarkan identifikasi masalah. Evolusi kesehatan yang berjalan terus menerus meningkatkan kepedulian tentang pentingnya membangun dan mempertahankan budaya keselamatan pasien. Budaya keselamatan pasien didefinisikan sebagai  sebuah produk dari nilai-nilai individu dan kelompok, sikap, persepsi, kompetensi dan pola perilaku yang menentukan komitmen dan gaya serta kemampuan untuk mengatur kesehatan dan keselamatan dalam organisasi ( Sammer , 2010 ). Oleh karena itu penelitian pada budaya keselamatan dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran tentang peran budaya dalam  mempromosikan lingkungan yang aman (Doweri et al, 2013).

Hellings et al ( 20017) menjelaskan bahwa bahwa tantangan terbesar kearah sistem kesehatan yang lebih aman adalah mengubah budaya dari menyalahkan seseorang karena kesalahan/error yang dianggap sebagai kegagalan individu menjadikannya sebagai peluang untuk memperbaiki sistem dan mencegah cedera. Dengan demikian  mengembangkan budaya keselamatan merupakan salah satu pilar bagi kegiatan keselamatan pasien. Penerapan dari hal tersebut harus tersurat didalam organisasi, menjadi prioritas utama dalam kegiatan dan didorong oleh prinsip kepemimpinan ( Sammer et al, 2010 ).

Keselamatan pasien adalah sebuah transformasi budaya, dimana budaya yang diharapkan adalah budaya keselamatan, budaya tidak menyalahkan, budaya lapor dan budaya belajar. Dalam proses ini diperlukan upaya transformasional yang menyangkut intervensi multi tingkat dan multi dimensional yang terfokus pada misi dan strategi organisasi, leadership style, serta budaya organisasi (Kirk et al, 2010).

Menurut Carthey &Clarke (2010),  organisasi kesehatan akan memiliki budaya keselamatan pasien yang positif, jika memiliki dimensi budaya sebagai berikut :

  1. Budaya keterbukaan (open culture)

Budaya ini menggambarkan semua staf RS merasa nyaman berdiskusi tentang insiden yang terjadi ataupun topik tentang KP dengan teman satu tim ataupun dengan manajernya. Staf merasa yakin bahwa fokus utama adalah keterbukaan sebagai media pembelajaran dan bukan untuk mencari kesalahan ataupun menghukum. Komunikasi terbuka dapat juga diwujudkan pada saat serah terima pasien, briefing staff maupun morning report.

  1. Budaya keadilan (just culture)

Merupakan budaya membawa atmosfer “trust” sehingga anggota bersedia dan memilki motivasi untuk memberikan data dan informasi serta melibatkan pasien dan keluarganya secara adil dalam setiap pengambilan keputusan terapi. Perawat dan pasien diperlakukan secara adil saat terjadi insiden dan tidak berfokus untuk mencari kesalahan individu tetapi lebih mempelajari secara sistem yang mengakibatkan terjadinya kesalahan. Lingkungan terbuka dan adil akan membantu staf membuat pelaporan secara jujur mengenai kejadian yang terjadi dan menjadikan insiden sebagai pelajaran dalam upaya meningkatkan

  1. Budaya pelaporan (reporting culture)

Budaya dimana staf siap untuk melaporkan insiden atau near miss, sehingga dapat dinilai jenis error dan dapat diketahui kesalahan yang biasa dilakukan oleh staf serta dapat diambil tindakan sebagai bahan pembelajaran organisasi. Organisasi belajar dari pengalaman sebelumnya dan mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi faktor risiko terjadinya insiden sehingga dapat mengurangi atau mencegah insiden yang akan terjadi.

  1. Budaya belajar (learning culture)

Setiap lini dari organisasi baik sharp end (yang bersentuhan langsung dengan pelayanan) maupun blunt end (manajemen) menggunakan insiden yang terjadi sebagai proses belajar. Organisasi berkomitmen untuk mempelajari insiden yang telah terjadi, mengkomunikasikan kepada staf dan senantiasa mengingatkan staf.

 

  1. Budaya informasi (informed culture)

Organisasi mampu belajar dari pengalaman masa lalu sehingga memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan menghindari insiden yang akan terjadi karena telah belajar dan terinformasi dengan jelas dari insiden yang sudah pernah terjadi, misalnya dari pelaporan kejadian dan investigasi.

Konsep tentang pelaksanaan budaya keselamatan di sebuah rumah sakit membutuhkan sebuah kerangka pikir yang komprehensif terhadap elemen – elemen yang terlibat di dalamnya. Sammer ( 2010 ) melalui reviewnya menjelaskan bahwa terdapat tujuh subkultur yang terlibat dalam ruang lingkup budaya keselamatan pasien. Kerangka tersebut terlihat dalam gambar  1 yaitu :

  1. Kepemimpinan , dimana pemimpin mengakui lingkungan kesehatan adalah lingkungan berisiko tinggi dan berusaha untuk menyelaraskan visi / misi, kompetensi staf , dan sumber daya fiskal dan manusia
  2. Kerja sama tim , yaitu semangat kolegialitas, kolaborasi dan kerjasama ada di antara eksekutif, staf dan praktisi independen dengan hubungan yang berdasar keterbukaan , rasa aman , hormat dan fleksibel
  3. Evidence based memberikan kepastian bahwa pemberian layanan pada pasien berdasar pada bukti ilmiah. Standarisasi yang dilakukan akan mengurangi variasi sehingga reliabilitas tinggi dapat dicapai
  4. Komunikasi , yaitu sebuah penjaminan bahwa seluruh staf mempunyai hak dan kewajiban untuk berbicara tentang segala sesuatu tentang kepentingan pasien
  5. Pembelajaran terhadap kesalahan yang dilakukan dengan dilanjutkan dengan mencari peluang perbaikan. Hal ini berlaku bagi seluruh staf termasuk diantaranya adalah staf medik
  6. Keadilan yaitu setiap kesalahan diartikan sebagai kesalahan sistem dan bukan pada kesalahan indivisu
  7. Pelayanan berpusat pada pasien memberikan kesempatan pada pasien bukan hanya aktif dalam pengobatan dirinya namun juga berperan sebagai penghubung antara rumah sakit dan masyarakat

 

Gambar 1. Kerangka Subkultur Budaya Keselamatan Pasien

 

  1. Pengukuran Budaya Keselamatan Pasien

Telah diketahui dengan jelas bahwa pembentukan budaya keselamatan adalah elemen utama dalam peningkatan mutu dan keselamatan pasien ( Weaver et al, 2013). Namun saat ini organisasi pemberi layanan kesehatan masih mempunyai keterbatasan dalam pendekatan untuk memahami apakah budaya keselamatan di unitnya telah berubah. Nieva dan Sorra ( 2003 ) menyebutkan bahwa cara terbaik untuk mengetahui adanya transformasi budaya keselamatan  adalah dengan melakukan penilaian sebelum dan sesudah dilakukan intervensi program keselamatan pasien. Adanya  tren  dalam hasil survei budaya dari waktu ke waktu  menentukan perubahan dalam budaya keselamatan . Ini merupakan area yang penting sebagai fokus pada penilaian dan perbaikan di rumah sakit (AHRQ, 2009).

AHRQ telah mengajukan program Team SSTEPS dengan tujuan perubahan budaya keselamatan melalui penggunaan tim dan strategi dalam rencana aksi tiga fase (AHRQ, 2010). Pada awal proses ini, fokus organisasi adalah untuk menilai budaya keselamatan menggunakan sebuah  metode survei yang dipilih dan  diikuti dengan perencanaan dan tindakan lanjut . Pada tahap pemeliharaan , penilaian budaya berikutnya dilakukan dengan menggunakan alat yang sama untuk mengukur tingkat perubahan budaya keselamatan. Satu studi oleh Stead et al. (2009) yang mengikuti program Team SSTEPS dan evaluasi menemukan peningkatan yang signifikan pada dua  dari 12 skor komposit pada termasuk pelaporan acara dan pembelajaran organisasi. AHRQ (2009) menguraikan bahwa perubahan  sebesar 5% baik  positif atau negatif dalam survei pra dan pasca survei menunjukkan  adanya perubahan pada budaya keselamatan,

Beberapa alat ukur yang sering digunakan dalam penilaian budaya keselamatan pasien di rumah sakit adalah :

  1. Hospital Survey on Patient Safety Culture

Alat ukur berupa kuesioner ini dikembangkan oleh Agency for Healthcare Research and Quality Care ( AHRQ). Kuesioner terdiri dari 12 dimensi budaya keselamatan dan 42 item. Kekuatan dari alat ukur ini adalah:

  1. Dapat menilai budaya organisasi
  2. Dapat melihat perubahan budaya yang terjadi
  3. Dapat untuk melakukan evaluasi pasca intervensi
  4. Dapat menilai pada tingkat individu , unit dan organisasi
  5. Dapat membandingkan dengan data negara lain

Di samping kekuatan, kelemahan yang ada pada alat ukur ini adalah penggunaannya terbatas pada konteks rumah sakit dan adanya beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa tidak semua item valid, reliabel dan dapat digeneralisir. Alat ukur ini digunakan pertama kali di United States dan secara luas telah digunakan pada survei di berbagai negara. Terjemahan dalam berbagai bahasa telah divalidasi termasuk di antaranya ke dalam bahasa Indonesia.

  1. Manchester Patient Safety Culture Assesment Tool

Alat ini dikembangkan di Inggris oleh National Patient Safety Agency ( NPSA ) untuk menilai kematangan budaya keselamatan di organisasi . Terdapat 10 dimensi penilaian meliputi perbaikan berkesinambungna, prioritas pada keselamatan, kesalahan sistem dan tanggung jawab individu, pelaporan insiden, evaluasi insiden, perubahan dari pembelajaran, komunikasi, manajemen, pendidikan staf dan kerjasama tim. Kekuatan dari alat ukur ini adalah

  1. Mampu menilai lima tingkat kematangan organisasi
  2. Dapat digunakan pada tingkat organisasi atau tim
  3. Dapat menunjukkan area prioritas untuk perbaikan

Beberapa item dalam kuesioner ini sulit untuk dinilai sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk melengkapi. Dan meskipun telah digunakan di Inggris ,namun tidak banyak penelitian yang melaporkan penggunaan dari kuesioner ini.

  1. Safety Attittude Questionare (SAQ)

Alat ukur ini merupakan derivat dari  Flight Attitude Management Questionare ( FAMQ) yaitu metode yang dikembangkan untuk mengukur faktor manusai dalam budaya di kokpit penerbangan komersial. Alat ini dapat digunakan pada semua unit di rumah sakit. Kelebihan yang sangat menonjol dari kuesioner ini adalah cara pengisiannya yang cepat dan singkat. Selain itu dapat digunakan sebagai alat evaluasi pasca intervensi. Saat ini SAQ baru digunakan di US. Kelemahan dari alat ukur ini adalah ketidak mampuannya untuk merinci perbedaan yang terjadi di antara staf klinis dan manajer.

Berikut adalah penjelasan mengenai dimensi-dimensi budaya keselamatan pasien dari AHRQ :

  1. Keterbukaan komunikasi

Dengan adanya keterbukaan komunikasi diharapkan staf medis dapat berkomunikasi dengan baik dan benar pada saat serah terima/pengoperan pasien yang meliputi keluhan pasien, terapi yang sudah maupun akan diberikan serta insiden terkait keselamatan pasien jika ada dan juga merasa bebas untuk bertanya kepada yang lebih berwenang. Keterbukaan komunikasi juga harus dilakukan antara manajer dengan staf selain diantara sesama staf untuk peningkatan keselamatan pasien

  1. Umpan balik dan komunikasi tentang kesalahan

Diartikan sebagai sejauh mana staf diberitahu tentang kesalahan yang dilakukan, menerima umpan balik masukan dari staf dan mendiskusikan upaya untuk mencegah kesalahan tidak terulang kembali.

  1. Respons non-punitive (tidak menghukum) terhadap kesalahan

Organisasi kesehatan harus mampu menciptakan lingkungan yang non punitive yang tujuannya adalah supaya setiap elemen staf tidak takut untuk melaporkan kejadian. Ketika sistem punishment dijalankan, maka staf akan enggan melaporkan insiden. Kejadian yang tidak dilaporkan membuat organisasi tidak belajar dari kesalahan dan kurang peduli terhadap pelayanan (Hamdani, 2007).

  1. Pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan

Organizational learning adalah kegiatan proaktif yang dapat menciptakan serta mentransfer pengetahuan dalam nilai-nilai organisasi (Kreitner, 2007). Diartikan sejauh mana kesalahan akan membawa perubahan positif yang selalu dievaluasi efektifitasnya sehingga menghasilkan perbaikan yang berkelanjutan.

  1. Staffing

Salah satu prinsip yang direkomendasikan IOM dalam laporannya ”To Err is Human” (2000) untuk implementasi patient safety di RS adalah mendesain pekerjaan dengan memperhatikan faktor manusia. Ini berarti dalam penataannya harus memperhitungkan jam kerja, beban kerja, rasio staffing dan juga sistem shift dengan memperhatikan faktor kelelahan, siklus tidur, dan lain-lain. Mendesain pekerjaan untuk safety juga termasuk melakukan training, memberi tugas pada orang yang tepat dan memposisikan seseorang pada posisi yang tepat.

  1. Harapan dan tindakan supervisor/manajer dalam promosi keselamatan

Diartikan sejauh mana supervisor/manajer mempertimbangkan saran staf untuk peningkatan keselamatan , tidak mengabaikan masalah keselamatan dan memberi penghargaan pada staf yang menerapkan pelaksanaan keselamatan .

  1. Kerjasama dalam unit

Diartikan sejauh mana staf saling mendukung satu sama lain dan bekerjasama sebagai sebuah tim untuk pelaksanaan keselamatan pasien

  1. Dukungan manajemen terhadap upaya keselamatan pasien

Diartikan sejauh mana manajemen RS menyediakan budaya kerja yang mempromosikan keselamatan pasien dan berpedoman bahwa keselamatan pasien  adalah prioritas utama.

  1. Serah terima dan transisi

Diartikan sejauh mana proses serah terima berjalan baik yang memuat penyampaian informasi penting yang berkaitan dengan keselamatan pasien  kepada staf lain.

  1. Kerjasama antar unit

Diartikan sejauh mana setiap unit dalam RS saling bekerjasama dan berkoordinasi antar unit dengan tujuan yang sama yaitu memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien.

  1. Frekuensi pelaporan kejadian

Diartikan sejauh mana kesalahan berikut dilaporkan . Kesalahan yang diketahui dan dikoreksi sebelum mempengaruhi pasien.Kesalahan yang tidak berpotensi membahayakan pasien. Kesalahan yang dapat merugikan pasien tetapi tidak terjadi

  1. Persepsi keseluruhan tentang keselamatan pasien

Diartikan persepsi dari seluruh staf berkaitan dengan KP termasuk pemahaman tentang prosedur dan sistem yang baik untuk mencegah kesalahan.

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. Rancangan Penelitian

Penelitian deskriptif dilakukan dengan menggunakan rancang potong lintang ( cross sectional ) untuk mencari gambaran budaya keselamatan pasien di RSST.

 

  1. Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai RSST tanpa memandang status kepegawaian yang terdiri dari Badan Layanan Umum (BLU) Pegawai Negeri Sipil (PNS), BLU non PNS dan PPPK.

 

  1. Kriteria Subyek Penelitian

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah  pegawai tersebut telah bekerja selama ≥ 6 bulan di RSST dan menandatangani surat persetujuan sebagai responden.

Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:

  1. Karyawan dengan jam kerja di RS ≤ 30 jam sesuai kebijakan , surat tugas maupun surat keputusan Direktur  yaitu : dokter tamu, pegawai yang menjalani pendidikan di luar RS, pegawai yang sedang menjalani cuti panjang ( cuti sakit > 3 bulan, cuti melahirkan, cuti besar )
  2. Tidak ada satu sesi kuesioner yang diisi dengan dengan lengkap
  3. Kuesioner terisi kurang dari separuh item penilaian
  4. Kuesioner diisi dengan jawaban yang sama

 

  1. Besar Sampel Penelitian

Sampel diperoleh dengan cara stratified random sampling  yaitu  pegawai di bagi berdasar unit kerja setingkat instalasi. Kelompok lain di luar instalasi adalah kelompok struktural , komite medis ( klinisi ), pegawai administrasi . Dengan menggunakan perbandingan proporsi jumlah pegawai di masing – masing unit tersebut didapatkan jumlah sampel di unit kerja. Stratifikasi dan randomisasi dilanjutkan di dalam unit kerja hingga diperoleh sampel yang mewakili masing – masing profesi di dalam unit kerja . Bila terdapat pegawai yang mempunyai tugas rangkap di beberapa unit, maka pegawai tersebut dikelompokkan ke dalam unit di mana pegawai tersebut bekerja dengan proporsi waktu terbesar. Pembagian unit kerja terlihat di tabel 1.

Estimasi besar sampel penelitian ini menggunakan  rumus untuk data deskriptif . Dengan menggunakan nilai α ( level of significance )= 0,5 , besar populasi 1206 dan dengan mempertimbangkan respon rate 90%, maka didapatkan estimasi besar sampel sebesar  331 orang.

 

  1. Variabel , Cara Pengukuran Variabel dan Definisi Operasional

Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner budaya keselamatan pasien dari Agency for Healthcare Research and Quality ( AHRQ) yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan disetujui penggunaannya oleh PERSI. Kuesioner yang terdiri dari 50 pertanyaan , yang mencakup 29 pertanyaan untuk dimensi tingkat unit, 11 pertanyaan untuk dimensi rumah sakit, 4 pertanyaan untuk dimensi output, dan 6 pertanyaan untuk variabel latar belakang responden. Kuesioner ini menggunakan skala Likert untuk 5 pilihan jawaban mulai dari “sangat tidak setuju”, sampai “ sangat setuju” atau mulai “tidak pernah” sampai “selalu”. Hasil skala Likert dalam kuesioner dibagi atas pernyataan positif ( “setuju” dan “sangat setuju” atau “ selalu” dan “sering” ) serta pernyataan negatif (“sangat tidak setuju” dan “tidak setuju” atau “ tidak pernah” dan “jarang” ). Dilakukan uji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu untuk kuesioner yang akan digunakan. Definisi operasional masing – masing variabel dari item penilaian kuesioner terdapat pada tabel 2.

 

Tabel 1. Jumlah dan proporsi sampel pegawai berdasar unit kerja

No Unit kerja Penggolongan profesi Jumlah pegawai Jumlah sampel
1 Direksi 4 1
2 Struktural Eselon III dan IV 24 7
3 Kelompok staf medis 66 18
4 Satuan pengawas internal 6 2
5 Staf kantor Pelayanan , USDMP, keuangan 165 46
6 Ins Hemodialiasis 19 5
7 IRNA A Ka Ruang , PN, AN, adm 103 28
8 IRNA B Ka Ruang , PN, AN, adm 57 16
9 IRNA C Ka Ruang , PN, AN, adm 29 8
10 Maternitas dan reproduksi Ka Ruang , PN, AN, adm 58 16
11 Ins Kesehatan Anak Ka Ruang , PN, AN, adm 66 18
12 Patologi Klinik 37 10
13 Ins rawat intensif Ka Ruang , PN, AN, adm 47 13
14 Ins Bedah Sentral 31 9
15 Farmasi 64 17
16 Radiologi 17 5
17 Ins Rawat jalan Ka Ruang , PN, AN, adm 62 17
18 Inst Gawat Darurat 62 17
19 Rekam Medis 46 13
20 Anestesi 19 5
21 Rehabilitasi medik 20 5
22 Gizi Nutrisionis , pemasak, pramusaji, administrasi 81 22
23 Kamtib 7 2
24 Ins Sterilisasi Sentral 7 2
25 Forensik dan Pemulasaraan Jenazah 9 2
26 IPSRS 28 8
27 Sanitasi 13 3
28 IP3 19 5
29 SIRS 13 4
30 Humas 16 4
31 TURP 11 3
Jumlah 1206 331

 

  1. Alur Penelitian

Penelitian dilakukan dengan cara paper-based survey pada bulan Agustus – September 2016.  Untuk meningkatkan response rate, maka survei dilakukan pada satu hari melalui undangan yang disampaikan kepada responden dengan disertai lembar persetujuan mengikuti penelitian. Pelaksanaan survei adalah sebagai berikut :

  1. Responden dibagi dalam 3 kelompok secara acak untuk menentukan waktu pengisian.
  2. Responden mengembalikan surat persetujuan mengikuti penelitian dan mengisi daftar hadir
  3. Pengisian kuesioner dilakukan bersama – sama oleh responden . Untuk menjamin independensi, jarak kursi antar masing – masing responden minimal 1 meter.
  4. Cara pengisian kuesioner sesuai dengan petunjuk dari HSoPSC.

 

  1. Analisis data

Data yang telah diperoleh dari penelitian dimasukkan dan diolah dengan menggunakan program pengolah data SPSS 20 dan Excell 2010. Jumlah respon positif dari digunakan untuk menilai budaya keselamatan pada masing – masing dimensi. Nilai budaya positif > 75% dianggap sebagai nilai budaya yang baik, sedangkan nilai < 50% berarti bahwa dimensi tersebut membutuhkan prioritas untuk perbaikan . Tes Chi-Square digunakan untuk menganalisis beberapa faktor yang berpengaruh terhadap nilai budaya keselamatan pasien.

 

 

 

 

Tabel 2. Definisi operasional dimensi Budaya Keselamatan Pasien (diadaptasi dari AHRQ Publication, 2007)

No Variabel Independen Definisi Alat Ukur Hasil Ukur * Skala
1. Keterbukaan Komunikasi Staf bebas berbicara bila melihat sesuatu yang dapat berdampak negative pada pasien, dan merasa bebas bertanya kepada mereka yang memiliki otoritas lebih tinggi Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
2. Umpan balik dan komunikasi tentang insidens keselamatan pasien Staf diinformasikan tentang kesalahan yang terjadi, diberikan umpan balik tentang implementasi perubahan, dan mendiskusikan cara untuk mencegah kesalahan. Kuesioner – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif<50 %

Ordinal
3. Dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien Manajemen RS menyediakan iklim kerja yang mempromosikan keselamatan pasien dan menunjukkan bahwa keselamatan pasien adalah prioritas utama. Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
4. Respons non – punitive terhadap kesalahan Staf merasa bahwa kesalahan dan laporan kejadian tidak dipakai untuk menyalahkan mereka dan tidak dicatat dalam dokumen pribadi mereka. Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
5. Pembelajaran organisasi dan perbaikan berkelanjutan Terdapat budaya belajar di mana kesalahan membawa perubahan positif dan dilakukan evaluasi terhadap efektivitas perubahan . Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
6. Staffing Terdapat staf dalam jumlah yang cukup untuk menangani beban kerja dan jumlah jam kerja yang sesuai untuk menyediakan pelayanan terbaik bagi pasien Kuesioner AHRQ – Baik : jika respons positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal

 

Tabel 2. Definisi operasional dimensi Budaya Keselamatan Pasien (diadaptasi dari AHRQ Publication, 2007) [Lanjutan]

7. Harapan staf terhadap sikap dan tindakan supervisor/manajer dalam mendorong KP Sikap positif atau negatif dari supervisor/manajer terhadap upaya KP Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
8. Kerjasama dalam unit Staf saling mendukung, saling menghargai dan bekerja sebagai sebuah tim Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
9. Frekuensi pelaporan kejadian Tipe kesalahan yang dilaporkan : 1)kesalahan ditemukan dan dikoreksi sebelum mempengaruhi pasien 2)kesalahan tanpa potensi mencederai pasien 3)kesalahan yang dapat mencederai pasien namun tidak terjadi cedera Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
10. Persepsi keseluruhan tentang keselamatan Persepsi staf terhadap prosedur dan system dalam mencegah terjadinya kesalahan dan mengurangi masalah KP Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
11. Serah terima dan transisi Informasi penting tentang asuhan pasien disampaikan pada saat transfer pasien antar satu unit ke unit lain dan atau selama pergantian shift Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal
12. Kerjasama antar unit Unit-unit di RS bekerjasama dan berkoordinasi satu sama lain untuk menghasilkan pelayanan yang terbaik bagi pasien Kuesioner AHRQ – Baik : jika persepsi positif 75%

– Sedang : jika persepsi positif antara >50% dan <75%

– Kurang :jika persepsi positif <50 %

Ordinal

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

  1. Hasil penelitian

 

Sebanyak 311 dari 331 responden telah hadir dan mengisi kusioner (93,95%). Satu responden diesklusi karena mengisi kuesioner dengan melingkari lebih dari satu pilihan, sehingga total jumlah sampel adalah 310 orang. Alasan ketidakhadiran dalam survei adalah  dinas luar  7 orang (35%) , sakit 5 orang (25%) , cuti hamil 4 orang (20%), tanpa keterangan 4 orang (20%).  Dari tabel 1 terlihat bahwa sebagian besar responden berusia 25 – 35 tahun ( 40,65%), dengan perbandingan laki – laki : perempuan adalah 2 : 1. Sesuai dengan proporsi berdasar  peta kepegawaian sepertiga responden berprofesi sebagai perawat (38,1%) diikuti oleh staf administrasi ( 17,56%) dengan 42,1% telah bekerja  di unit kerja terakhir selama 1- 5 tahun.  Secara statistik responden dapat dianggap homogen ( p> 0,5 ) pada pengelompokan berdasar lama bekerja di unit, lama bekerja dalam seminggu , interaksi langsung dengan pasien dan lama bekerja dalam profesi yang terakhir.  Terhadap pertanyaan tentang penilaian terhadap tingkat keselamatan pasien di RS, 93 responden ( 36,0 %) menyatakan sangat baik, sedangkan 65 ( 21,03% ) menyatakan bisa diterima. Namun ternyata separuh responden tidak menjawab pertanyaan tersebut. Hal yang menarik lainnya adalah sebagian besar responden  ( 48 % ) belum pernah melaporkan tentang insiden keselamatan pasien selama 12 bulan terakhir ini dan hanya 7 orang ( 2,2% ) yang telah melaporkan lebih dari 10 kali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3. Karakteristik Sampel

Karakteristik n ( %) p
Umur ( tahun )  
-18 – < 25 31 (10 )  
-25 – 35 126 (40,65)  
-35 – < 45 63 (20,32)  
-45 – 57 90 (29,03)  
Jenis kelamin  
-Laki – laki 117 (37,74)  
-Perempuan 193 (62,26)  
Lama bekerja di RS ( tahun ) 0,03
-< 1 tahun 15 ( 5 )  
-1 – 5 72 (23,8 )  
-6 – 10 87( 28,7 )  
-11 – 15 25 ( 8,3 )  
-16 – 20 26 ( 9,6 )  
-21 atau lebih 75 ( 24,8 )  
Lama bekerja di unit (tahun) 0,64
-< 1 tahun 34 ( 11,2 )  
-1 – 5 128 ( 42,1 )  
-6 – 10 82 ( 27 )  
-11 – 15 14 ( 4,6 )  
-16 – 20 13 ( 4,3 )  
-21 atau lebih 33 ( 10,9 )  
Lama bekerja dalam seminggu 0,722
-< 20 jam 1 ( 3)  
-20 – 39 jam 128 ( 42,5 )  
-40 jam atau lebih 172 ( 57,1 )  
Interaksi  langsung dengan pasien 0,52
-Ya 206 ( 67,8 )  
-Tidak 98 ( 32,2 )  
Lama bekerja sesuai profesi saat ini 0,42
-< 1 tahun 22 ( 7,3 )  
-1 – 5 83 ( 27,5 )  
-6 – 10 86 ( 28,5 )  
-11 – 15 21 ( 7 )  
-16 – 20 30 ( 9,9 )  
-21 atau lebih 60 ( 19,9 )  
Posisi/Jabatan di RS 0,02
-Dokter 16 ( 5,2 )  
-Perawat 118 ( 38,1 )  
-Apoteker 4 (1,3 )  
-Asisten Apoteker 10 ( 3,2 )  
-Ahli Gizi 4 ( 1,3 )  
-Administrasi/Manajemen 53 ( 17,1 )  
-Fisioterapis 2 ( 0,6 )  
-Analis Laboratorium 8 ( 2,6 )  
-Sanitarian 3 ( 1 )  
-Tekhnisi 7 ( 2,3 )  
-Radiografer 3 ( 1 )  
-Satpam 2  ( 0,6 )  
-Lain-lain 72 ( 23.2 )  

 

Tabel 3. Karakteristik Sampel [Lanjutan]

Tingkat keselamatan pasien

-Sempurna

-Sangat baik

-Bisa diterima

-Jelek

 

5 ( 1,6 ))

93 ( 36,0  )

65 ( 21,03  )

1 ( 0,3 )

 
-Tidak menjawab 146 ( 47,1 )  
Jumlah kejadian yang dilaporkan

-Tidak ada

-1 – 2 kali

-3 – 5 kali

-6 – 10 kali

-11 – 20 kali

-> 20 kali

 

149 ( 48 )

61 ( 19,7 )

30 ( 9,7 )

11 ( 3,5 )

5 ( 1,6  )

2 ( 0,6 )

 

 

Sebanyak 12 dimensi telah ditanyakan kepada responden untuk menentukan area yang merupakan kekuatan RS  yaitu area yang mempunyai nilai positif lebih dari 75%  dan area yang memerlukan perbaikan yaitu yang mempunyai nilai positif kurang dari 50% . Gambaran budaya keselamatan pasien  di RSST menunjukkan  hasil kurang baik dengan diperolehnya nilai positif  sebanyak 63,47% . Dimensi yang menunjukkan nilai tertinggi adalah perbaikan yang berkelanjutan  ( 89,45% ) diikuti oleh kerjasama di dalam ( 81,57%) dan dukungan manajemen terhadap usaha peningkatan keselamatan pasien ( 77,93%) . Dimensi ini dapat dianggap sebagai salah satu sumber kekuatan RS. Sedangkan dimensi dengan nilai terendah adalah tentang kejadian yang dilaporkan ( 37,58 % ) dan  penempatan staf ( 36,39%).

Dalam penilaian dimensi  mengenai perbaikan yang berkelanjutan seluruh poin menunjukkan hasil nilai positif >80% baik mengenai keaktifan tindakan untuk meningkatkan keselamatan pasien , adanya evaluasi setelah melakukan perubahan peningkatan keselamatan pasien dan adanya perubahan positif setelah terjadinya kesalahan . Meskipun secara total penilaian dimensi di atas 80%, namun satu poin yang harus ditingkatkan dalam dimensi kerja sama  adalah budaya saling membantu antar pegawai  di dalam satu unit ( 56,77%).  Hal yang sama juga tampak pada dimensi dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien, di mana sebanyak 61,93% menyatakan bahwa manajemen RS hanya tertarik setelah terjadi insiden keselamatan pasien. Terdapat kesesuaian antara rendahnya penilaian dimensi budaya pelaporan dengaan rendahnya jumlah pelaporan insiden dalam 12 bulan terakhir.

 

Tabel 4. Gambaran dimensi budaya keselamatan pasien

Dimensi Skor positif
Kerjasama dalam satu unit ( cronbach )

–         Saling mendukung antar staf di dalam unit

–         Bekerja sama saat beban kerja meningkat

–         Saling menghargai

–         Saling membantu

 

81,57

90,97

89,35

88,39

56,77

Ekspektasi dan tindakan supervisor dalam meningkatkan keselamatan pasien

–         Dipuji saat melakukan sesuatu untuk meningkatkan keselamatan pasien  ( KP)

–         Mempertimbangkan masukan staf untuk meningkatkan KP

–         Kepatuhan terhadap prosedur saat tekanan pekerjaan meningkat

–         Atasan menghadapi permasalahan KP yang terjadi berulang

 

74,50

66,45

80,65

60,65

90.32

Perbaikan yang berkelanjutan

–         Aktif melakukan sesuatu untuk meningkatkan KP

–         Kesalahan yang terjadi membawa perubahan positif

–         Melakukan evaluasi setelah melakukan perubahan peningkatan KP

 

89,45

91,29

88,06

88,71

Dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien

–         MRS menyediakan iklim kerja yang mempromosikan KP

–         Tindakan MRS menunjukkan bahwa KP adalah prioritas

–         MRS tertarik tentang KP hanya terjadi setelah insiden

 

77,93

82,9

88,71

61,93

Persepsi umum mengenai keselamatan pasien

–         KP tidak pernah dikorbankan untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan

–         Prosedur dan sistem baik untuk mencegah kesalahan terjadi

–         Hanya karena kebetulan saja kesalahan – kesalahan yang lebih serius tidak terjadi

–         Kami memiliki masalah keselamatan pasien di unit ini

 

70,24

80,46

77,67

71,48

51,46

Umpan balik dan komunikasi mengenai kesalahan

–         Umpan balik tentang perubahan diberikan sesuai dengan laporan insiden

–         Unit diberitahu mengenai insiden yang terjadi dalam unit tersebut

–         Cara – cara untuk mencegah insiden dibahas di dalam unit

 

59,55

42,86

53,55

81,94

Keterbukaan komunikasi

–         Kebebasan berbicara saat melihat sesuatu yang berdampak negatif

–         Kebebasan berpendapat kepada seseorang dengan otoritas lebih tinggi

–         Staf takut untuk bertanya ketika sesuatu tampak tidak benar

 

51,35

43,55

46,13

63,87

Frekuensi melaporkan bila  ada insiden keselamatan pasien

–         Seberapa sering melaporkan ketika terdapat KNC

–         Seberapa sering melaporkan ketika terdapat KTC

–         Seberapa sering melaporkan ketika terdapat KPC

 

37,58

32,69

35,92

44,30

Kerjasama antar unit

–         Ada kerjasama yang baik antar unit rumah sakit yang harusnya bekerja sama

–         Unit RS bekerja sama dengan baik untuk memberikan perawatan terbaik

–         Unit RS tidak berkoordinasi dengan baik satu sama lain

–         Bekerja sama dengan staf dari  unit lain seringkali tidak menyenangkan

 

70,41

75,16

84,79

60,97

60,32

 

Tabel 4. Gambaran dimensi budaya keselamatan pasien [Lanjutan]

Penempatan staf / kepegawaian

–      Jumlah staf cukup untuk menangani beban kerja

–      Jam bekerja lebih lama daripada waktu kerja yang optimal utk pelayanan

–      Lebih banyak menggunakan staf temporer dibandingkan jumlah yang optimal

–      Bekerja dalam mode krisis , melakukan dengan terburu – buru

 

36,39

44,84

25,48

26,45

48,06

Operan dan transisi

–      Terdapat hal – hal yang terabaikan ketika memindahkan pasien dari unit

–      Informasi penting mengenai perawatan pasien seringkali terlupakan pada saat pergantian giliran

–      Sering kali terjadi masalah dalam pertukaran informasi antara unit – unit di RS

–      Pergantian giliran merupakan masalah bagi pasien di RS ini

 

53,11

60,65

44,52

 

43,87

63,22

Respon yang tidak menghukum terhadap suatu kesalahan

–         Staf merasa ditekan bila melakukan kesalahan

–         Ketika ada insiden yang dilaporkan, seolah terasa bahwa orang yang terlibatlah yang dilaporkan, bukan pada masalahnya

–         Staf khawatir terhadap kesalahan yang mereka buat tersimpan dalam data personel mereka

 

54,47

44,84

66,67

 

33,55

 

Tabel 5 menunjukkan gambaran budaya keselamatan pasien di unit kerja yang langsung berhubungan dengan pasien. Sebanyak 15 dari 17 unit kerja mempunyai budaya keselamatan pasien yang rendah dengan rerata 65,34%, tampak menyerupai gambaran budaya di RS. Nilai tertinggi didapatkan pada Instalasi Radiologi ( 76,04% ) dan Instalasi Rehabilitasi Medik  (75,44%). Sedangkan instalasi dengan nilai positif terendah dan perlu mendapatkan prioritas untuk perbaikan adalah Instalasi Laboratorium ( 49,53%).

Gambaran nilai positif untuk masing – masing dimensi di seluruh unit yang berhubungan langsung dengan pasien ditunjukkan pada tabel 5. Dari tabel tersebut terlihat bahwa didapatkan  hampir seluruh unit memiliki nilai positif < 50% pada dua dimensi yang memiliki nilai positif terendah, kecuali IRNA C untuk dimensi penempatan pegawai ( 66,67% ) dan Instalasi Bedah Sentral untuk frekuensi melaporkan bila  ada insiden keselamatan pasien ( 66,67% ). Di Instalasi Laboratorium meskipun secara keseluruhan memiliki nilai budaya positif paling rendah (49,53%) namun terlihat memiliki dua dimensi dengan nilai > 75% yaitu dimensi Perbaikan yang berkelanjutan dan kerjasama dalam satu unit. Hal ini merupakan satu kekuatan yang dapat digunakan untuk perbaikan dan peningkatan selanjutnya . Dari keseluruhan nilai yang tercatat, nilai terbawah terdapat pada dimensi frekuensi melaporkan insiden di Instalasi Laboratorium (11,11%), Instalasi Anestesi ( 11,11%) dan Instalasi Farmasi ( 18,20%). Hal penting lain yang harus dicatat adalah bahwa terdapat dua dimensi dimana hampir seluruh unit mempunyai nilai budaya positif < 75% yaitu dimensi mengenai keterbukaan komunikasi dan respon tidak menghukum bila didapatkan kesalahan.

 

Tabel 5. Budaya keselamatan pasien di unit kerja yang berhubungan langsung dengan pasien

Unit Skor positif
Instalasi hemodialisis 56,50
Instalasi Rawat Inap A 68,28
Instalasi Rawat Inap B 64,60
Instalasi Rawat Inap C 67,23
Maternitas dan reproduksi 68,21
Instalasi Kesehatan Anak 65,22
Instalasi Laboratorium 49,53
Instalasi Rawat Intensif 73,20
Instalasi Bedah Sentral 67,87
Instalasi Farmasi 55,69
Instalasi Radiologi 76,04
Instalasi Rawat Jalan 65,28
Instalasi Gawat Darurat 66,31
Instalasi Anestesi 65,86
Instalasi Rehabilitasi Medik

Instalasi Gizi

Kelompok Staf Medis

75,44

64,71

62,53

 

Gambaran nilai positif untuk masing – masing dimensi di seluruh unit yang berhubungan langsung dengan pasien ditunjukkan pada tabel 5. Dari tabel tersebut terlihat bahwa didapatkan  hampir seluruh unit memiliki nilai positif < 50% pada dua dimensi yang memiliki nilai positif terendah, kecuali IRNA C untuk dimensi penempatan pegawai ( 66,67% ) dan Instalasi Bedah Sentral untuk frekuensi melaporkan bila  ada insiden keselamatan pasien ( 66,67% ). Di Instalasi Laboratorium meskipun secara keseluruhan memiliki nilai budaya positif paling rendah (49,53%) namun terlihat memiliki dua dimensi dengan nilai > 75% yaitu dimensi Perbaikan yang berkelanjutan dan kerjasama dalam satu unit. Hal ini merupakan satu kekuatan yang dapat digunakan untuk perbaikan dan peningkatan selanjutnya . Dari keseluruhan nilai yang tercatat, nilai terbawah terdapat pada dimensi frekuensi melaporkan insiden di Instalasi Laboratorium (11,11%), Instalasi Anestesi ( 11,11%) dan Instalasi Farmasi ( 18,20%). Hal penting lain yang harus dicatat adalah bahwa terdapat dua dimensi dimana hampir seluruh unit mempunyai nilai budaya postif < 75% yaitu dimensi mengenai keterbukaan komunikasi dan respon tidak menghukum bila didapatkan kesalahan.

Jumlah pelaporan insiden keselamatan sedikit banyak menggambarkan tingkat kematangan unit kerja dalam proses peningkatan budaya keselamatan pasien. Tabel 7 menggambarkan faktor – faktor yang berhubungan dengan jumlah pelaporan insiden keselamatan pasien. Satu – satunya faktor yang berpengaruh secara statistik adalah faktor profesi, di mana jumlah pelapor terbanyak adalah perawat bila dibandingkan dengan profesi yang lain ( p 0,002 ). Sedangkan faktor lama bekerja di RS, lama bekerja di unit kerja,  lama bekerja dalam profesi, jumlah jam kerja dalm seminggu serta adanya kontak langsung dengan pasien terlihat tidak berhubungan dengan jumlah insiden yang dilaporkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 6. Dimensi budaya keselamatan pasien di unit kerja yang berhubungan langsung dengan pasien

HD IRNA

A

IRNA B IRNA C IMR INSKA LAB IRI IBS FARM RAD IRJ IGD Anest Rehab Gizi KSM
Kerjasama antar unit 85.0 77.38 62.5 75.0 75.0 71.42 39.13 72.73 75.0 73.81 62.52 78.57 86.54 50.0 87.51 71.87 78.47

 

Operan dan transisi 60.0 70.24 56.25 75.0 63.04 60.71 29.16 63.63 56.25 54.55 43.75 64.29 42.86 66.66 75.0 84.44 50.12

 

Ekspektasi dan tindakan supervisor dalam meningkatkan keselamatan pasien 50.0 79.76 77.08 83.3 67.00 82.14 58.33 86.36 68.75 68.19 93.75 82.14 94.64 66.66 87.52 79.64 50.68

 

 

 

 

Perbaikan yang berkelanjutan

 

73.0 96.83 88.8 94.4 97.22 92.53 100 97.71 91.67 96.96 100 86.36 88.09 100 100 97.91 95.24
Kerjasama dalam satu unit

 

65.0 86.75 85.42 91.62 87.91 78.57 78.26 86.36 100 65.92 93.75 85.72 94.23 91.67 91.67 79.69 88.89
Keterbukaan komunikasi

 

46.67 70.97 47.22 44.41 55.52 61.90 38.38 76.76 50.0 30.31 75.0 54.54 45.24 55.56 72.23 41.67 33.33
Umpan balik dan komunikasi mengenai kesalahan

 

46.67 63.49 63.89 72.22 69.44 76.19 22.22 69.66 66.67 42.42 83.33 59.10 57.14 88.89 66.67 56.25 76.19
Respon yang tidak menghukum terhadap suatu kesalahan 40.0 53.92 61.1 66.67 52.88 45.23 50.0 69.66 58.32 39.42 83.33 50.0 54.82 66.72 72.23 62.5 61.92
Penempatan staf / kepegawaian 40.0 30.89 33.3 66.67 45.88 21.43 29.22 36.43 31.24 27.91 56.22 35.22 36.43 33.33 33.33 31.22 53.63

 

Tabel 6. Dimensi budaya keselamatan pasien di unit kerja yang berhubungan langsung dengan pasien [Lanjutan]

Dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien 86.71 77.78 80.6 77.78 80.61 83.32 64.71 81.82 83.31 84.83 91.73 77.32 88.12 88.92 94.44 85.43 76.22
Frekuensi melaporkan bila  ada insiden keselamatan pasien 20.0 60.23 25.0 33.3 38.92 40.54 11.11 54.52 66.72 18.22 41.73 45.43 45.22 11.11 50.0 48.91 19.0
Persepsi umum mengenai keselamatan pasien 65.0 71.12 70.8 83.3 85.41 66.12 73.9 81.13 66.72 65.91 87.52 64.82 62.51 75.0 75.0 73.44 85.73

 

 

 

Tabel 7 . Faktor berpengaruh terhadap pelaporan insiden keselamatan pasien

Faktor n (%)  

p

0 1 – 2 3 – 5 6 – 10 11- 20 >20
Kontak langsung dengan pasien

–       Ya

–       Tidak

 

 

104(40,47)

45(17,51)

 

 

41(15,96)

19(7,39 )

 

 

20(7,78)

10(3,89)

 

 

7(2,72)

4(1,56)

 

 

2( 0,78)

3(1,16)

 

 

1(0,39)

1(0,39)

 

 

0,78

Lama bekerja di RS

–       < 5 tahun

–       5 tahun atau lebih

 

55(21,40)

94(36.57)

 

15(5,84)

44(17,12)

 

7(2,72)

23(8,94)

 

2(0,78)

9(3,50)

 

1(0,38)

4(1,56)

 

0

2(0,78)

 

0,29

Profesi

–       Dokter

–       Perawat

–       Apoteker

–       Radiografer

–       Analis laboratorium

–       Petugas gizi

–       Fisioterapis

 

8(3,11)

57(22,18)

3(1,16)

0

0

 

4(1,56)

1(0,38)

 

6(2,33)

22(8,56)

0

2(0,78)

3(1,16)

 

0

0

 

0

10(3,89)

1(0,38)

1(0,38)

2(0,78)

 

0

0

 

0

3(1,16)

0

0

0

 

0

0

 

0

1(0,38)

0

0

0

 

0

0

 

0

1(0,38)

0

0

0

 

0

0

 

 

 

 

0,002

Jam kerja dalam seminggu

–       < 20 jam

–       20 – 39 jam

–       ≥ 40 jam

 

 

1(0,38)

67(26,07)

80(31,12)

 

 

0

24(9,33)

35(13,61)

 

 

0

12(4,67)

18(7,0)

 

 

0

7(2,72)

4(1,56)

 

 

0

3(1,16)

2(0,78)

 

 

0

0

2(0,78)

 

 

0,88

 

Lama bekerja di unit

–       <5 tahun

–       5 tahun atau lebih

 

85(33,07)

64(24,90)

 

35(13,62)

25(9,72)

 

15(5,84)

15(5,84)

 

5(1,94)

6(2,33)

 

2(0,78)

3(1,17)

 

2(0,78)

0

 

0,06

Lama bekerja dalam profesi

–       < 5 tahun

–       5 tahun atau lebih

 

 

54(21,01)

95(36,96)

 

 

22(8,56)

25(9,72)

 

 

10(3,89)

19(7,39)

 

 

4(1,57)

7(2,72)

 

 

2(0,78)

3(1,17)

 

 

1(0,39)

1(0,39)

 

 

0,88

 

  1. Pembahasan

Survei  ini  merupakan penelitian mengenai gambaran budaya keselamatan pasien yang pertama kali dilakukan di RSUP dr SoeradjiTirtonegoro. Kuesioner yang digunakan diadopsi dari Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSoPSC) yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.  Sebelumnya , telah dilakukan uji validitas terhadap kuesioner ini pada 60 orang sampel. Dengan probabilitas sebesar 0,05 , didapatkan hasil bahwa seluruh item soal pada kuesioner ini valid (r > 0,2542 ). Pada penelitian  ini didapatkan response rate sebesar 93,95% di mana dari 331 responden yang diundang, telah hadir sebanyak 311 orang. Hasil ini terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian lain sebelumnya . Beberapa penelitian menyebutkan response rate mereka sekitar 77 – 87,5%. Beberapa  faktor yang menyebabkan  tingkat kehadiran cukup tinggi adalah cara pengisian kuesioner dengan berbasis paper survey dan  dengan menghadirkan responden dalam waktu yang telah ditentukan. Untuk semakin meningkatkan kepatuhan, undangan dalam survei ini dimintakan persetujuan dan tanda tangan Direktur Utama. Namun demikian seluruh responden telah menyatakan mengikuti survei secara sukarela melalui sebuah surat persetujuan . Selain itu tidak dipungkiri juga bahwa adanya tali asih berupa tas , alat tulis dan makanan ringan merupakan daya tarik yang cukup efektif .

Responden yang ikut dalam penelitian ini berasal dari seluruh komponen unit kerja yang ada di rumah sakit, baik yang berhubungan langsung dengan pasien maupun tidak. Sesuai dengan proporsi berdasarkan profesi, dari 310 responden , profesi terbanyak adalah perawat ( 37,24% ) diikuti oleh staf administrasi ( 17,87%) dan dokter ( 5,37%). Penelitian yang dilakukan di Ryadh menunjukkan hasil yang serupa yaitu adanya keikutsertaan seluruh elemen yang ada di unit kerja rumah sakit dengan perawat dan administrasi merupakan responden terbanyak . Sedangkan penelitian serupa di Cina ( Nie Y et al,2013) , Taiwan (Chie C, 2010 ) Kairo ( Abdoul-Futuh, 2012) dan Iran ( Davoodii, 2013) mempunyai responden yang lebih spesifik yaitu pegawai yang memberi pelayanan langsung ke pasien seperti dokter, perawat, nutrisionis .

Nilai total budaya positif di RSST sebesar 63,47% yang berarti budaya keselamatan pasien di RSST belum baik . Hasil tersebut didukung oleh data masing – masing dimensi. Dari 12 dimensi yang diukur, sembilan diantaranya mempunyai nilai positif > 75% dengan keseluruhan  respon positif berkisar pada angka 25,48% – 91,29 %. Dimensi yang mempunyai nilai sangat kurang adalah adalah mengenai mengenai frekuensi pelaporan bila terjadi insiden keselamatan pasien dan penempatan pegawai.

Rendahnya nilai dimensi frekuensi pelaporan bila terjadi insiden didukung oleh data mengenai rendahnya jumlah pelaporan insiden selama 12 bulan terakhir. Sebanyak 47% responden menyatakan belum pernah melaporkan insiden keselamatan pasien. Budaya melapor yang rendah didapatkan juga pada penelitian yang dilakukan di Saudi Arabia ( Alahmadi , 2010)  yaitu sebanyak 43%, di Iran sebanyak 53% ( Davoodii, 2013) dan di Turki sebanyak 84%. Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya angka tersebut tercermin dari subdimensi bahwa  66,35% staf khawatir  bahwa kesalahan yang dilakukan akan disimpan dalam catatan kepegawaian mereka dan mereka akan ditekan bila melakukan kesalahan ( 44,8% ). El Jardali ( 2014) menyebutkan bahwa ketakutan untuk melaporkan merupakan sebuah halangan untuk terbentuknya budaya positif. Lingkungan di mana karyawan merasa bebas dan percaya diri dalam pelaporan insidenn akan meningkatkan kematangan suatu unit dalam melakukan pelayanan berpusat pada pasien. Sejalan dengan hal itu  WHO ( 2008) menjelaskan bahwa tiga dimensi budaya yaitu budaya adil, budaya pelaporan dan budaya belajar merupakan komponen penting dalam pembentukan budaya positif keselamatan pasien .

Nilai terendah dari seluruh dimensi yang ada adalah mengenai penempatan staf/ staffing . Hal ini berarti bahwa hampir seluruh responden menyatakan bahwa alokasi dan penempatan staf tidak adekuat bila dibandingkan dengan beban kerja menangani pasien dengan aman,  yang terlihat dari rasio pasien : pegawai tidak seimbang. Hasil yang sama didapatkan pada penelitian di Cina dan Taiwan

Persepsi terhadap budaya keselamatan pasien terlihat mempunyai kesesuaian dengan nilai total di rumah sakit. Dalam penelitian diambil sub analisis hanya terhadap unit kerja yang berhubungan langsung dengan pasien , dimana seluruhnya berada di bawah Direktorat Medik dan Keperawatan. Dengan rentang nilai positif berkisar antara 49,53 % – 76,04% memberikan arti bahwa budaya positif di unit masih membutuhkan pengawasan dan perbaikan khususnya bagi Instalasi Laboratorium yang mempunyai nilai di bawah 50%.  Hubungan antara staf dengan atasan terlihat kurang baik terlihat dari rendahnya nilai positif pada keterbukaan komunikasi dan respon tidak menghukum bila didapatkan kesalahan. Demikian pula  budaya kerjasama antar unit belum terbentuk dengan baik di semua unit. Budaya kerjasama antar unit dan operan atau transisi masih berada di bawah 75%.

Selain dimensi yang belum sesuai dengan standar , dari penelitian ini menunjukkan bahwa RSST mempunyai kekuatan yang dapat digunakan sebagai modal dalam melakukan perbaikan dalam budaya keselamatan pasien. Dimensi – dimensi  Kerjasama staf dalam satu unit, Dukungan manajemen terhadap upaya keselamatan pasien dan Perbaikan yang berkesinambungan itulah yang harus dioptimalkan. Smits ( 2009) menyebutkan bahwa  budaya keselamatan pasien di unit kerja merupakan  faktor utama yang menggambarkan budaya keselamatan di rumah sakit dan tinggi rendahnya insiden keselamatan  pasien. Dimensi yang menggambarkan budaya di tingkat menejemen rumah sakit hanya tiga yaitu, Kerjasama antar unit, Penempatan pegawai, dan Dukungan manajemen terhadap upaya peningkatan keselamatan pasien. Selebihnya dimensi yang lain menggambarkan aktifitas budaya di unit kerja.

Melakukan investasi dalam praktek – praktek yang memperkuat  upaya keselamatan pasien merupakan hal yang krusial bagi rumah sakit untuk meningkatkan kinerja dan kualitas layanan kesehatan. Keselamatan pasien harus diintegrasikan dalam program pendidikan bagi para profesional kesehatan dan tertulis di dalam visi dan misi pelayanan dan struktur organisasi. Selain itu dukungan manajemen dalam bentuk kebijakanm tata kelola dan struktur pelaporan akan menjamin kelangsungan upaya ini. Dengan adanya dukungan dari standar – standar akreditasi, perlu dilakukan penilaian dan evaluasi secara berkala terhadap segala upaya yang telah dilakukan . Penilaian dapat menunjukkan daerah yang membutuhkan perbaikan dan bantuan upaya yang terfokus pada target.  Perlu dicatat bahwa menilai survei ini hanya langkah awal dalam sebuah proses panjang perbaikan. Wujud perbaikan akan diimplementasikan dalam bentuk rencana dan evaluasi secara berkala.

Kekuatan penelitian ini antara lain adalah pada tingkat respon kehadiran yang cukup tinggi dengan  cara pengambilan sampel  secara stratified random sampling dan melibatkan seluruh unit kerja. Selain itu penggunaan kuesioner HSoPSC yang sudah terstandarisasi merupakan poin penting dalam penilaian. Sedangkan kelemahan pada penelitian ini terletak pada uji reliabilitas dengan Cronbach’s alpha yang telah dilakukan . Uji reliabilitas pada kedua belas dimensi menujukkan variasi yang sangat lebar, antara reliabilitas sangat rendah pada 4 dimensi ( penilaian umum keselamatan pasien, ekspektasi supervisor, umpan balik dan komunikasi dan kerjasama antar unit ) sampai reliabilitas tinggi pada 4 dimensi ( kejadian yang dilaporkan, perbaikan yang berkelanjutan, kerjasama dalam unit dan dukungan manajemen ).

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN RENCANA TINDAK LANJUT

 

  1. Kesimpulan
  2. Nilai positif budaya keselamatan pasien di RSUP dr. Soeradji Tritonegoro Klaten masih di bawah standar yaitu 63,47 %
  3. Dimensi budaya keselamatan pasien yang mempunyai nilai yang baik (>75%) adalah :
  4. Kerjasama dalam satu unit
  5. Perbaikan yang berkelanjutan
  6. Dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien
  7. Dimensi budaya keselamatan pasien yang harus mendapat prioritas untuk perbaikan adalah :
  8. Frekuensi melaporkan bila ada insiden keselamatan pasien
  9. Penempatan staf/kepegawaian
  10. Sebanyak 88% unit kerja yang berhubungan dengan pasien di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten mempunyai nilai budaya keselamatan pasien yang rendah <75%. Unit kerja yang mempunyai budaya keselamatan pasien baik adalah instalasi radiologi dan rehabilitasi medic
  11. Jenis profesi adalah faktor yang berhubungan dengan pelaporan insiden (p 0,023)

 

  1. Rencana Tindak Lanjut
  2. Mengadakan acara pencanangan ulang gerakan  “Budaya Keselamatan Pasien”  di RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten dengan tujuan menyamakan persepsi dan menyatukan langkah untuk membudayakan keselamatan pasien sebagai budaya kerja
  3. Melakukan sosialisasi kembali mengenai “Budaya Keselamatan Pasien” melalui berbagai media di rumah sakit
  4. Mengaktifkan audit klinis dan audit medik secara rutin untuk menekan terjadinya insiden keselamatan pasien
  5. Membuat penilaian rutin dan memberi penghargaan terhadap unit kerja yang secara aktif memberikan laporan insiden keselamatan pasien, serta diundangkan di media informasi di lingkup RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
  6. Mengevaluasi kembali penempatan staf dengan lebih cermat sesuai dengan kompetensi staf dan beban kerja unit