dr. M. Fakhri Raiyan P., Sp.BS, M.Ked.Klin – Otak adalah organ pada tubuh manusia yang sangat penting dan paling sensitif, yang berfungsi pusat pengaturan segala sistem tubuh. Begitu pentingnya sehingga hampir 20% peredaran darah yang membawa oksigen dan gula darah di tubuh adalah untuk metabolisme otak. Bahkan jika otak tidak mendapat pasokan ini dalam waktu >8 menit dikatakan sel otak akan mengalami gangguan fungsi hingga kematian sel. Segala kejadian yang mengakibatkan otak tidak mendapat pasokan nutrisi inilah yang dinamakan stroke.

Secara umum stroke terbagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu stroke sumbatan dimana, pembuluh darah yang menuju ke otak terhalangi akibat penyempitan pembuluh darah ataupun adanya gumpalah darah yang menutup saluran pembuluh darah. Yang kedua adalah stroke perdarahan yaitu kejadian dimana pembuluh darah otak mengalami kebocoran atau pecah sehingga darah tidak sampai ke jaringan otak, dan menumpuk di dalam kepala jika jumlahnya cukup banyak bahkan mendesak jaringan otak yang sehat. Stroke perdarahan ini adalah tipe yang lebih fatal karena berpotensi menyebabkan gangguan otak secara menyeluruh akibat proses pendesakan tadi. Oleh karena itu, sering sekali pasien datang dengan kondisi penurunan kesadaran atau koma bahkan meninggal.

Beberapa tahun yang lalu pasien bedah saraf didominasi oleh pasien perdarahan otak akibat kecelakaan, namun saat ini mengalami pergeseran dimana pasien stroke perdarahan menjadi lebih banyak yang datang ke rumah sakit. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengevaluasi perubahan epidemiologi penyakit ini. Kemungkinan terbesar karena semakin banyaknya orang dengan penyakit kronis Hipertensi yang tidak terkontrol. Rentang usia pasien yang mengalami stroke perdarahan ini lebih banyak pada usia tua sehingga membuat perawatan jauh lebih sulit.

Bidang Spesialisasi Saraf (Neurologi) dan Bedah Saraf (Neurosurgeon) adalah yang utama dalam menangani pasien-pasien stroke perdarahan ini. Saat pertama kali datang pasien yang diduga mengalami stroke dipastikan dahulu dengan pemeriksaan CT Scan Kepala, lalu selanjutkan diberikan terapi sesuai lesi kelainan yang ditemui. Selain pemberian obat-obatan juga ada tempat untuk penanganan dengan pembedahan, yang tujuannya adalah mengeluarkan gumpalan darah yang menumpuk di otak dan menghentikan perdarahan yang masih aktif. Teknik yang dapat digunakan pun bermacam-macam tergantung kondisi pasien. Yang paling umum adalah Craniotomy yaitu operasi pembukaan tulang kepala untuk mengambil langsung gumpalan darah, selain itu juga bisa dengan teknik endoskopi sehingga luka operasi bisa lebih minimal karena hanya butuh bukaan kecil skeitar 1,5-2 cm saja. Ada juga teknik stereotakik namun, peralatannya tidak umum di Indonesia.

Gb. 1 Contoh CT Scan kepala pasien yang mengalami stroke perdarahan.

Mengingat bahayanya kondisi pasien stroke ini, perawatan yang cepat dan tepat adalah kunci keberhasilan pengobatan, maka penting sekali agar masyarakat mengetahui apa saja gejala pasien yang mengalami stroke. Metode termudah adalah memahami FAST :

F     Untuk Face drooping (wajah tidak simetris atau orang jawa sering menyebutnya merot).

A    Untuk Arm Weakness (kelemahan anggota gerak tubuh atau lumbuh sebelah).

S     Untuk Speech Difficulity (sulit untuk berbicara secara normal).

T     Untuk Time is critical (jika ada 3 gejala di atas segera menghubungi rumah sakit terdekat).

Memang ada gejala stroke yang lainnya tetapi 3 (tiga)  gejala inilah yang paling sering dan jika ada gejala ini sering kali lanjut mengalami perburukkan berupa tidak sadar atau koma, bahkan meninggal. Untuk itu besar harapannya agar masyarakat dapat berperan serta untuk cepat tanggap dalam membantu pasien stroke sehingga kemungkinan terburuk bisa dihindarkan.