Agus Suharto, S.Kep.Ners – Kondisi sakit dan hospitalisasi sering menimbulkan krisis pada kehidupan anak dimana akan menimbulkan stres pada anak karena menghadapi lingkungan yang asing dan terjadi gangguan pada gaya hidup mereka. Stresor utama hospitalisasi pada anak adalah perpisahan dengan keluarga, kehilangan kendali, cidera tubuh dan nyeri (Wong, 2008). Nyeri merupakan pengalaman yang umum dialami oleh anak. Salah satu sumber nyeri yang dirasakan oleh anak pada saat hospitalisasi adalah ketika pelaksanaan prosedur invasif, yaitu meliputi tindakan medis, tindakan keperawatan dan prosedur diagnostik. Salah satu kondisi sakit pada anak yang menimbulkan krisis pada kehidupan anak adalah post operasi. Tindakan pembedahan pada pasien menimbulkan dampak psikologi dan fisiologi yang disebabkan oleh nyeri pada luka operasi, lingkungan yang kurang nyaman, kecemasan karena rasa nyeri post operasi (Sudarsono, 2013). Rasa nyeri tersebut biasanya timbul setelah operasi. Salah satu dari perawatan klien post operasi untuk mengurangi nyeri. Untuk meminimalkan rasa nyeri dapat dilakukan dengan cara non-farmakologis seperti distraksi. Teknik distraksi sangat efektif untuk mengalihkan rasa nyeri pada anak, yang salah satu bentuknya dengan story telling atau teknik bercerita (Winahyu, 2013). Melalui cerita perasaan atau emosi anak dapat dilatih untuk merasakan atau menghayati berbagai peran kehidupan, dengan bercerita anak melepaskan ketakutan, kecemasan, rasa nyeri. Bercerita merupakan cara yang paling baik mengalihkan rasa nyeri (Winahyu, 2013). Story telling adalah kegiatan menyampaikan cerita dari seorang storyteller kepada pendengar dengan tujuan memberikan informasi bagi pendengar sehingga dapat digunakan untuk mengenali emosi dirinya sendiri dan orang lain serta mampu melakukan problem solving (Ayuni, 2013). Terapi bermain story telling termasuk dalam distraksi yang merupakan salah satu penatalaksanaan nyeri non-farmakologis (Wong, 2008). Menurut gate control theory, nyeri pada luka operasi apendiktomi merangsang serabut syaraf kecil (reseptor nyeri) sehingga menyebabkan in-hibitory neuron tidak aktif dan gerbang terbuka sehingga merasakan nyeri. Pada saat diberikan story telling, anak mendengarkan cerita yang disampaikan dan melihat gambar yang ada pada buku cerita sehingga mendistraksi dan mengalihkan perhatian anak. Sementara pada saat  yang bersamaan diberikan teknik distraksi berupa story telling, yang merangsang serabut syaraf besar, menyebabkan in-hibitory neuron dan projection neuron aktif. Tetapi in-hibitory neuron mencegah projection neuron mengirim sinyal ke otak, sehingga gerbang tertutup dan stimulasi nyeri ke otak tidak diterima dan tidak terjadi nyeri (Sarfika, 2015). Penuturan cerita dapat menyebabkan anak memperhatikan dan mendengarkan, sehingga menstimulus daya imajinasi anak selanjutnya anak teralihkan perhatiannya terhadap nyeri, menyebabkan nyeri yang dirasakan menjadi berkurang bahkan hilang (Iswara, 2014). Terapi bermain dalam bentuk bercerita sangat efektif untuk menurunkan respon mal-adaptif yang dialami anak usia pra-sekolah yang mengalami hospitalisasi. Melalui pendekatan terapi bermain mampu membantu mengurangi ketegangan yang dialami oleh anak, sehingga dapat mengalihkan rasa sakitnya (Aini dan Susilaningsih, 2016). Konsep nyeri pada usia sekolah mengatakan nyeri sebagai pengalaman fisik yang konkret, anak berfikir hilangnya nyeri secara magis, anak dapat memandang nyeri sebagai hukuman untuk kesalahan, serta cenderung membuat seseorang untuk bertanggung jawab atas nyerinya dan dapat memukul orang lain (Wong, 2008). Usia pra-sekolah kemampuan dalam menggambarkan bentuk dan intensitas nyeri belum berkembang. Anak usia pra-sekolah tidak dapat mendefinisikan ruang lingkup tubuh dengan baik dan sedikit pengetahuan mengenai anatomi internalnya. Melalui cerita perasaan atau emosi anak dapat dilatih untuk merasakan atau menghayati berbagai peran kehidupan, dengan bercerita anak melepaskan ketakutan, kecemasan, rasa nyeri. Bercerita merupakan cara yang paling baik mengalihkan rasa nyeri (Winahyu, 2013). Story telling adalah kegiatan menyampaikan cerita dari seorang storyteller kepada pendengar dengan tujuan memberikan informasi bagi pendengar sehingga dapat digunakan untuk mengenali emosi dirinya sendiri dan orang lain serta mampu melakukan problem solving (Ayuni, 2013). Terapi bermain story telling termasuk dalam distraksi yang merupakan salah satu penatalaksanaan nyeri non-farmakologis (Wong, 2008). Menurut gate control theory, nyeri pada luka operasi merangsang serabut syaraf kecil (reseptor nyeri) sehingga menyebabkan in-hibitory neuron tidak aktif dan gerbang terbuka sehingga merasakan nyeri. Pada saat diberikan story telling, anak mendengarkan cerita yang disampaikan dan melihat gambar yang ada pada buku cerita sehingga mendistraksi dan mengalihkan perhatian anak. Sementara pada saat  yang bersamaan diberikan teknik distraksi berupa story telling, yang merangsang serabut syaraf besar, menyebabkan in-hibitory neuron dan projection neuron aktif. Tetapi in-hibitory neuron mencegah projection neuron mengirim sinyal ke otak, sehingga gerbang tertutup dan stimulasi nyeri ke otak tidak diterima dan tidak terjadi nyeri (Sarfika, 2015). Menurut Pellowski (dalam Nurcahyani, 2010) mendefinisikan storytelling sebagai sebuah seni atau seni dari sebuah keterampilan bernarasi dari cerita-cerita dalam bentuk syair atau prosa, yang dipertunjukkan atau dipimpin oleh satu orang di hadapan audience secara langsung dimana cerita tersebut dapat dinarasikan dengan cara diceritakan atau dinyanyikan, dengan atau tanpa musik, gambar, ataupun dengan iringan lain yang mungkin dapat dipelajari secara lisan, baik melalui sumber tercetak, ataupun melalui sumber rekaman mekanik.  Berbicara mengenai story telling sungguh banyak manfaatnya. Tak hanya bagi anak-anak tetapi juga bagi orang yang mendongengkannya. Menurut Hibana (dalam Kusmiadi, 2008), manfaat dari kegiatan mendongeng ini antara lain adalah mengembangkan fantasi, empati dan berbagai jenis perasaan lain, menumbuhkan minat baca, membangun kedekatan dan keharmonisan dan media pembelajaran. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dilakukan dapat dilakukan dengan teknik distraksi. Teknik distraksi sangat efektif untuk mengalihkan rasa nyeri pada anak, yang salah satu bentuknya dengan teknik bercerita (Winahyu, 2013). Melalui cerita, perasaan atau emosi anak dapat dilatih untuk merasakan atau menghayati berbagai peran dalam kehidupan, dengan bercerita anak melepaskan ketakutan kecemasan, rasa nyeri, mengekspresikan kemarahan. Bercerita merupakan cara yang paling baik untuk mengalihkan rasa nyeri (Winahyu, 2013). Pada saat diberikan story telling  anak mendengarkan cerita dan melihat gambar yang ada pada buku cerita sehingga mendistraksi dan mengalihkan perhatian anak. Sementara pada saat yang bersamaan diberikan story telling, yang merangsang serabut syaraf besar menyebabkan in-hibitory neuron dan projection neuron aktif. Terapi in-hibitory neuron mencegah projection neuron mengirim sinyal ke otak, sehingga gerbang tertutup dan stimulasi nyeri ke otak tidak diterima dan tidak terjadi nyeri (Sarfika, 2015).

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Iswara. 2014. Pengaruh Metode Bercerita dalam Menurunkan Nyeri pada Anak Prasekolah yang Terpasang Infus di Rumah Sakit Islam. Surabaya. http://stikeshangtuah-sby.ac.id.
  2. Aini, A.P, & Susilaningsih, Z.E. 2016. Pengaruh Terapi Bermain Walkie Talkie Terhadap Tingkat Kecemasan Akibat Hospitalisasi Pada Anak Pra-sekolah di RSUD dr. Moerwardi. http://eprints.ums.ac.id.
  3. Ayuni, D.R., Siswati & Rusmawati, D. 2013. Pengaruh Story Telling Terhadap Perilaku Empati Anak. http.//undip.ac.id.
  4. Rini Mastuti.R. 2019. Pengaruh Story Telling Terhadap Respon Nyeri Pada Anak Dengan Post Operasi Apendiktomi di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Stikes Muhammadyah Klaten.
  5. Sarfika R., Yanti, N. & Winda, R. 2015. Pengaruh Teknik Distraksi Menonton Kartun Animasi Terhadap Skala Nyeri Anak Usia Prasekolah Saat Pemasangan Infus di Instalasi Rawat Inap Anak RSUP dr. M. Djamil Padang. http.//unandalas.ac.id diunduh tanggal 30 Juni 2019.
  6. Wong. 2012. Buku  Ajar Keperawatan. Jakarta : EGC.