Stop Stigma pada Jenazah COVID-19

dr. Kanina Sista, Sp.F, M.Sc – Pada tanggal 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) menetapkan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh Virus Sars-CoV-2. Penambahan jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran antar negara. Sampai tanggal 28 April 2020, dilaporkan total kasus konfirmasi sebanyak 2.954.222 dengan 202.597 kematian (CFR 6,9%) dimana kasus dilaporkan di 213 negara. Di Indonesia sendiri dilaporkan terdapat 9.511 kasus konfirmasi dengan 773 kematian (CFR 8,1%).

Dengan terus bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia, memunculkan stigma di masyarakat yang berpotensi memperparah situasi. Stigma atau pandangan negatif merupakan pemberian label atau diskriminasi atau perlakuan yang berbeda terhadap sebuah penyakit. COVID-19 sebagai penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia dengan kasus konfirmasi dan kematian yang tinggi membuat masyarakat ketakutan sehingga memunculkan stigma sosial di masyarakat. Salah satu yang banyak diberitakan adalah stigma tentang penolakan terhadap jenazah terkait COVID-19.

Prinsip Penanganan Jenazah terkait COVID-19

Prinsip penanganan jenazah terkait COVID-19 adalah pencegahan penularan penyakit. Dimana harus dilakukan oleh petugas medis atau petugas yang telah dilatih, dengan menggunakan alat pelindung diri dan dilakukan dengan cepat yaitu kurang dari 4 (empat) jam. Pelaksanaan penanganan jenazah dilakukan dengan cepat untuk menurunkan risiko penularan dari cairan tubuh jenazah karena lebih dari 4 (empat) jam setelah meninggal mulai terjadi kerusakan sel.

Pemulasaraan Jenazah

Sebelum melakukan pemulasaraan jenazah, hal pertama yang dilakukan petugas adalah melindungi diri dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat dan benar cara pemakaiannya. APD yang digunakan di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro adalah APD level 3, dimana menggunakan cover all lengkap dengan masker N95, pelindung kepala, kacamata / pelindung mata, sarung tangan serta sepatu boot.

Jenazah COVID-19 dapat dimandikan sesuai agama dan kepercayaannya, jika tidak memungkinkan, dapat ditayamumkan. Pada jenazah COVID-19 harus melalui proses desinfeksi dan dekontaminasi dengan menggunakan klorin. Proses desinfeksi merupakan upaya untuk mengurangi virus pada tubuh jenazah, sedangkan dekontaminasi upaya menghilangkan virus pada diri dan benda-benda di sekitarnya. Jenazah akan dibungkus menggunakan kafan, plastik kedap air serta kantong jenazah kemudian dimasukkan peti dan dibungkus plastik kembali. Pada setiap pemasangan lapisan plastik dilakukan pembersihan dengan cairan desinfektan. Jenazah dibungkus dengan plastik berlapis dan kantong jenazah ini bertujuan untuk mencegah adanya kebocoran cairan tubuh jenazah sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar.

Peti yang digunakan untuk jenazah COVID-19 adalah peti yang terbuat dari kayu yang kuat dan tebal minimal 3 sentimeter. Setelah jenazah dimasukkan kedalam peti jenazah, peti ditutup rapat, disegel dan dipaku / disekrup. Peti kemudian dibungkus menggunakan plastik dan kembali disemprot atau dibersihkan dengan cairan desinfektan. Jenazah yang sudah terbungkus, tidak boleh dibuka kembali kecuali dalam keadaan mendesak seperti otopsi yang hanya dapat dilakukan oleh petugas  terlatih.

Shalat Jenazah

Pelaksanaan shalat jenazah terkait COVID-19 dilakukan di rumah sakit dan dapat dilaksanakan sekalipun oleh 1 (satu) orang. Shalat jenazah dilakukan sesegera mungkin dengan mempertimbangkan waktu yang telah ditentukan yaitu tidak lebih dari 4 (empat) jam.

Penguburan Jenazah

Jenazah terkait COVID-19 dapat dimakamkan di tempat pemakaman umum, namun tidak diperbolehkan masuk / keluar dari pelabuhan, bandar udara atau pos lintas batas darat negara. Lokasi penguburan jenazah terkait COVID-19 harus  berjarak minimal 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum. Untuk lubang makam, kedalamanya 1,5 meter dan timbunan tanah setinggi 1 meter. Penguburan jenazah terkait COVID-19 dilakukan dengan cara memasukkan jenazah bersama petinya ke dalam liang kubur, tanpa membuka peti, plastik dan kafan.

Setelah prosedur penguburan jenazah dilaksanakan dengan baik, pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah dengan tetap menggunakan masker dan menjaga jarak satu sama lain. Jumlah pelayat dibatasi untuk menghindari kerumunan para pelayat, sehingga meminimalkan risiko penularan virus antar pelayat yang berkumpul dalam jumlah besar.

Stop stigma terhadap jenazah COVID-19 karena prosedur penanganan jenazah terkait COVID-19 telah dilakukan dengan proses yang ketat, mulai dari proses desinfeksi, dekontaminasi, pembungkusan dengan plastik serta kantong jenazah hingga pemetian sehingga pemakaman jenazah COVID-19 risiko penularan virus dari jenazah ke masyarakat sangat minimal. Mari tidak menambah duka mereka dengan menolak jenazah keluarga mereka.