dr. Kanina Sista, Sp.F, M.Sc – Stigma menurut Goffman (2003) merupakan tanda yang dibuat oleh tubuh seseorang untuk diperlihatkan dan menginformasikan kepada masyarakat bahwa orang-orang yang mempunyai tanda tersebut merupakan seorang budak, kriminal atau seorang penghianat serta suatu ungkapan atas ketidakwajaran dan keburukan status moral yang dimiliki oleh seseorang, jadi stigma ini mengacu kepada atribut yang memperburuk citra seseorang sehingga dapat mengurangi identitas sosial seseorang, mendiskualifikasi orang itu dari penerimaan seseorang.

Stigma sosial adalah sikap masyarakat umum terhadap suatu kelompok yang dibedakan atau dianggap abnormal. Stigma terjadi melalui beberapa proses yang saling berkaitan yaitu isyarat, stereotip yang mempertegas isyarat, prasangka yang mendukung stereotip negatif, diskriminasi sebagai manifestasi prasangka. Diskriminasi dimanifestasikan sebagai tindakan negatif terhadap orang-orang yang berada di luar kelompoknya (Varamitha et al, 2014).

Pandemi COVID-19 yang tengah terjadi menyebabkan ketakutan yang dialami oleh sebagian masyarakat. Perasaan takut dapat membuat seseorang menjadi tetap waspada tetapi ketika perasaan takut tersebut menjadi berlebihan, maka dapat menimbulkan kesan negatif. Ketakutan berlebihan terhadap COVID-19 menyebabkan munculnya stigma sosial terhadap orang atau tempat yang berhubungan dengan penyakit tersebut. Stigma sosial yang telah banyak terjadi adalah terhadap ras tertentu, penderita COVID-19 dan tenaga medis. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terdapat 3 (tiga) faktor utama yang menyebabkan munculnya stigma pada COVID-19 yaitu pertama karena COVID-19 merupakan penyakit yang baru dan masih banyak hal yang tidak diketahui tentang COVID-19, kedua karena ketidaktahuan dan ketiga adalah karena ketakutan mudah dikaitkan dengan “orang lain”.

Selama pandemi, muncul stigma sosial hampir di seluruh dunia, terutama kepada keturunan Asia, orang-orang dengan riwayat perjalanan dan tenaga medis. Terdapat beberapa laporan tentang terjadinya diskriminasi kepada pendatang dari Asia di Eropa, Amerika dan banyak negara. Selain itu, banyak penderita COVID-19 mengalami stigma sosial berupa penolakan dari warga sekitar tempat tinggalnya, ada pula yang sekitar rumahnya ditutup supaya tidak keluar rumah, serta warga yang menolak pemakaman jenazah COVID-19 di lingkungannya. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, di Ghana terdapat penyintas COVID-19 yang ditolak berbelanja ditoko setelah sembuh.

Tenaga medis yang merawat pasien COVID-19 pun tidak terhindar dari stigma sosial. Seperti yang dilansir dari inews.id terdapat 2.050 perawat di Indonesia telah mengikuti survei tentang stigma sosial yang dialami, dengan didapatkan hasil sebanyak 135 perawat pernah diminta pindah dari tempat tinggalnya, 66 perawat diancam dengan pengusiran, 160 perawat merasa orang-orang di sekitar tempat tinggal menghindarinya dan 71 perawat merasa warga ikut menjauhi keluarganya. Terdapat pula kasus dimana pemakaman tenaga medis ditolak oleh warga sekitar.

Munculnya stigma sosial berpotensi menjadi bahaya yang terselubung yaitu meningkatkan potensi penyebaran penyakit. Sebagai contoh dimana seorang penderita COVID-19 menjadi takut untuk ditolak oleh masyarakat sehingga menyembunyikan penyakitnya atau justru enggan datang ke pusat pelayanan kesehatan untuk memeriksakan diri serta mencegah mereka untuk mengadopsi perilaku sehat.

Kiat Melawan Stigmatisasi

Stigma sosial akan menghambat respon bagi penderita dan tenaga medis sehingga seperti yang dilansir oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berikut beberapa kiat untuk melawan stigmatisasi :

  • Menyebarkan Fakta. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit COVID-19 dapat memperburuk stigma sehingga harus dilakukan pengumpulan dan penyebaran informasi yang tepat dengan bahasa yang mudah dimengerti. Media sosial dapat digunakan untuk menjangkau lebih banyak orang dengan biaya yang relatif rendah. Penyebaran fakta dan informasi yang akurat tentang penyakit, menantang mitos dan stereotip serta memilih kata-kata dengan hati-hati diharapkan dapat penyebaran COVID-19.
  • Membuat gerakan dan lingkungan positif yang menunjukkan kepedulian dan empati untuk semua. Gotong royong sebagai solidaritas sosial dalam kehidupan bermasyarakat dapat digencarkan dalam masa pandemi seperti saat ini. Sebagai contoh, ketika ada penderita COVID-19 di lingkungan yang sedang melakukan isolasi, dapat dibantu mengirimkan makanan atau kebutuhan pokok lainnya.
  • Memberikan dukungan kepada penderita COVID-19. Mengirimkan pesan positif kepada penderita COVID-19 merupakan salah satu cara untuk memberi dukungan moral, terutama ketika menjalani isolasi mandiri. Dukungan moral dapat menjadi penyemangat bagi penderita COVID-19 untuk cepat pulih.
  • Lawan Hoax, rumor dan informasi yang salah. Diharapkan masyarakat dapat berkontribusi dalam meredam stigma sosial terhadap COVID-19 dengan cara membetulkan kesalahfahaman dan mempromosikan pentingnya pencegahan COVID-19.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Varamitha, S., Akbar, S.N., Erlyani, N. 2014. Stigma Sosial Pada Keluarga Miskin Dari Pasien Gangguan Jiwa. Jurnal Ecopsy, 1 (3), 106-114.
  2. Abdelhafiz, A.S., Alorabi, M. 2020. Social Stigma : The Hidden Threat of COVID-19. Front. Public Health 8 : 429. Doi : 10.3389/fpubh.2020.00429.
  3. Stigma Sosial Terkait Dengan COVID-19.
  4. https://www.inews.id/news/nasional/dokter-reisa-140-perawat-dipermalukan-karena-rawat-pasien-covid-19.