dr. Phitra Sekar Dianggra, SpGK – Jaringan limfoid terkait usus yang sering disebut dengan GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue), yang merupakan bagian dari sistem kekebalan terbesar tubuh yaitu The Mucosa Associated Lymphoid (MALT). Fungsi GALT sebagai sistem pertahanan / kekebalan tubuh berada di sistem pencernaan yaitu usus, dimana GALT memediasi mekanisme pertahanan tubuh baik spesifik maupun non spesifik.1 Maka dari itu sistem percernaan terutama usus merupakan salah satu sistem kekebalan tubuh. Hal tersebut membuktikan bahwa dengan memelihara kesehatan usus dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh kita.

Beberapa hal yang harus kita ketahui komponen dalam pemeliharaan sistem pencernaan. Komponenkomponen tersebut yaitu :

  1. Mikrobiota Usus (Gut Microbiota)

Mikrobiota Usus (Gut Mircobiota) adalah populasi atau kumpulan mikroba yang terdapat di usus kita. Mikrobiota usus pada orang dewasa normalnya terdiri dari bakteri anaerob (96-99%) dan bakteri aerob serta jamur (1-4%). Bakteri anaerob yang normal ada di usus, yaitu Bacteroides, khususnya Bacteroides fragilis; spesies Fusobacterium; laktobasil, misalnya Bifidobacterium; klostridia, misalnya Clostridium perfringens; dan bakteri anaerob berbentuk kokus bersifat Gram positif (spesies Peptostreptococcus), sedangkan bakteri aerob yang biasa ditemukan di usus yaitu : bakteri koliform Gram negatif (enterokokus, Proteus, Pseudomonas, laktobasil) serta jamur (Candida) dan mikrooganisme lainnya. Di antara kuman koliform aerob, hanya Escherichia coli yang menetap hanya beberapa hari saja. Beberapa studi terdahulu memperkirakan jumlah spesies mikroba yang ada di usus manusia bervariasi antara 500-1000 spesies, tetapi analisis terbaru menyatakan bahwa lebih dari 35000 spesies mikroba komensal terdapat di dalam usus.2

Fungsi Mikrobiota Usus berperan dalam fermentasi karbohidrat (polisakarida, oligosakarida yang tidak dapat dicerna, dan alkohol) menghasilkan asam lemak rantai pendek yang dapat mempengaruhi diferensiasi dan proliferasi sel, penyerapan ion (Ca, Mg, Fe) yang dapat menginduksi anti inflamasi, anti oksidatif, dan anti aging.3 Selain itu mikrobiota usus juga berfungsi mensintesa vitamin K, konversi pigmen-pigmen empedu dan asam-asam empedu, penyerapan zat-zat makanan dan hasil-hasil pemecahannya.2 Mikrobiota usus mampu memetabolisme peptida dan protein anaerobic (pembusukan makanan), sehingga menghasilkan zat beracun, seperti amonia, fenol, tiol dan indol.3 Perubahan mikrobiota usus tidak hanya dapat mempengaruhi perkembangan penyakit autoimun dan alergi saja, tetapi mempengaruhi banyak kesehatan lainnya, seperti pada obesitas dan penyakit hepar pada umunya. Perubahan kebiasaan makan merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi keragaman mikrobiota usus. Penelitian yang dilakukan oleh De Filippo C. et al, membandingkan mikrobiota usus pada sampel tinja anak dari Eropa dan Afrika. Anak Afrika diberi diet kaya serat, pati dan sayuran kaya polisakarida serta rendah lemak dan protein hewani, sedangkan diet untuk anak-anak Eropa diberi diet tinggi gula, pati dan lemak serta rendah serat. Hasil yang didapatkan ternyata pada kelompok Eropa terjadi peningkatan kelompok Firmicutes dan terjadi penurunan Bacteroidetes, sedangkan kelompok Afrika terjadi peningkatan Bacteroidetes dan molekul anti inflamasi SCFAs.4 Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Le Roy T. et al, menunjukkan bahwa adanya peran mikrobiota usus yang dapat mempengaruhi homeostasis glukosa dengan cara menfermentasi karbohidrat dan metabolisme lipid di hati menjadi pemicu perkembangan obesitas. 5

  1. Sinbiotik Terdiri dari Prebiotik dan Probiotik Dengan Komposisi Seimbang

Prebiotik

Prebiotik merupakan bahan makanan yang tidak dapat dicerna yang memberikan efek menguntungkan bagi inang dengan cara merangsang pertumbuhan dan atau aktifitas dari satu atau beberapa bakteri di dalam kolon sehingga dapat meningkatkan kesehatan inangnya. Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan tidak dapat diserap, biasanya dalam bentuk oligosakarida dan dietary fiber.6 Prebiotik hanya dapat dimanfaatkan oleh bakteri probiotik (Lactobacillus dan Bifidobacteria) dan tidak dapat dimanfaatkan oleh bakteri lain yang hidup di usus seperti E. coli dan Bateroides.7 Manfaat penggunaan prebiotik untuk meregulasi dan memodulasi mikro ekosistem populasi bakteri probiotik. Prebiotik dalam usus terutama usus besar yang difermentasi oleh bakteri probiotik menghasilkan Short Chain Fatty Acids (SCFAs) dalam bentuk asetat, propionat, butirat, L-laktat, karbondioksida, hidrogen. Mekanisme efek anti inflamasi dari SCFAs adalah menghambat butirat pada aktivasi NFkB yang diinduksi sitokin pro inflamasi.8

Probiotik

Probiotik berasal dari kata ‘hidup’ diambil dari Bahasa Yunani. Probiotik dapat didefinisikan sebagai mikrooragnisme non patogen (biasanya bakteri) yang bila diberikan dalam jumlah yang cukup dan dapat bermanfaat bagi host. Probiotik yang paling banyak tersedia adalah Lactobacillus dan Bifidobacterium, tetapi jenis bakteri Lactococcus, Streptococcus, dan Enterococcus serta beberapa strain non pathogen Escherichia coli juga dapat digunakan sebagai probiotik. Di dalam tubuh manusia bakteri Lactobacilli dan Bifidobacteria dapat ditemukan di dalam saluran pencernaan dan vagina. Probiotik bertindak sebagai bakteri komensal yang berperan dalam memelihara kesehatan usus.9

Probiotik meningkatkan fungsi imun mukosa usus halus. Bakteri komensal yang mengaktivasi sel dendritik, selanjutnya akan menginduksi respon imun lokal dengan aktivasi sel β spesifik untuk menghasilkan sekresi IgA. Bakteri komensal tidak seperti patogen yang secara efisien dihancurkan oleh makrofag saluran pencernaan, tidak menimbulkan respon inflamasi mukosa saluran cerna. 10,11

 

GIZI DAN IMUNITAS

Berdasarkan fungsi Sinbiotik (prebiotik dan probiotik), peran gizi bagi peningkatan imunitas (kekebalan tubuh) dengan cara memodulasi jumlah mikrobiota usus. Cara memodulasinya yaitu mengkonsumsi bahan makanan yang bersifat sebagai prebiotik dan mengandung probiotik.

  1. Prebiotik berfungsi membantu probiotik dalam berkembang biak dan dapat memaksimalkan fungsi probiotik dalam memodulasi mikrobiota. Beberapa contoh makanan yang mengandung prebiotik, yaitu :
  • Dietary fiber 8

Termasuk dietary fiber yang dapat ditemui di kehidupan sehari-hari yaitu sayur dan buah. Kebutuhan serat harian adalah 25-30 gram/hari.

  • Pisang, bawang putih → mengandung inulin dan oligofruktosa.12
  • ASI (Air Susu Ibu) → mengandung oligosaccharides.9
  • Susu formula yang mengandung FOS (Fructooligosaccarides), GOS (Galactooligosaccarides), Inulin, Lactulose, Lactitol.13
  1. Probiotik dapat ditemukan :
  • Makanan dan Minuman

a.   Yogurt 7

Ada 2 tipe yogurt menurut strain bakteri :

  • Classical Type, terdiri dari : Lactobacillus delbrueckii var bulgaricus dan Streptococcus salivarius var thermophillus.
  • “Bio” type, terdiri dari : Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacteria.

b.   Susu Fermentasi dan Jus buah 7

Mengandung : Lactobacillus casei, Lactobacillus plantarum, dan Lactobacillus reuteri.

c.   Soybean / whey 14

Mengandung : Bifidobacteria and some Lactobacillus.

d.   Tempe 15

Mengandung : Bifidobacteria

e.   White beet 14

Mengandung : Bifidobacteria

f.   Keju dan Kefir

  • Suplemen dalam bentuk kapsul, tablet maupun bubuk. Sebagian besar berisi Lactobacillus acidophilus, dan sering juga dikombinasikan dengan Bifidobacteria.49 Beberapa contoh produk yang dijual di pasaran yaitu : produk yang mengandung Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei, Lactobacillus salivarius, Lactobacillus lactis, Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium lactis, Bifidobacterium longum; ada produk yang mengandung Lactic Acid Bacterial, Lactobacilii, ditambah dengan karbohidrat, protein, lemak, vitamin C, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6 dan niacin; ada juga produk yang mengandung 1 (satu) strain mikrobiota (Lactobacillus sporogenes).

 

KESIMPULAN

Sistem kekebalan tubuh terbesar berada di sistem saluran pencernaan. Sinbiotik (prebiotik dan probiotik) dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuh dengan cara memodulasi jumlah mikrobiota usus sehingga dapat memperbaiki ‘tight junction’ usus. Peranan gizi dalam memodulasi jumlah mikrobiota usus yaitu dengan mengkonsumsi makan makanan yang mengandung probiotik dan makanan yang bisa menjadi prebiotik.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Collin J.K, Cashman S, Morgan J, O’Sullivan G. The Gastrointestinal Immune System : Recognising Microbes in the Gut. Annals of Gastroenterology and Hepatology. 2012.
  2. Sekirov I, Ruseel SL, Antunes LCM, Finlay BB. Gut Microbiota in Health and Disease. Physiol Rev. 2010;Vol 90.
  3. Compare D, Coccoli P, Rocco A, Nardone OM, Maria SD, carneti M, Nardone G. A gut liver axis : The impact of gut microbiota on non alcoholic fatty liver disease. Elsevier Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Disease. 2012;22:471-476.(38).
  4. Wu HJ, Wu E. The Role of Gut Microbiota in Immune Homeostasis and Autoimmun. Gut Microbes Landes Bioscience. 2012;3(1):4-14.(39).
  5. Dukowicz AC, Lacy BE, Levine GM. Small Intestinal Bacterial Overgrowth : A Comprehensive Review. Gastoenterology and Hepatology. 2007;3(2).
  6. O’Bryan CA, Pak D, Crandall PG, Lee SO, Ricke SC. The Role of Prebiotics and Probiotics in Human Health. J Prob Health. 2013;2329-8901.
  7. Hamilton JMT, Miller. Probiotics and Prebiotics in the elderly. Postgrad Med J. 2004;80:447-451.
  8. Andoh A, Tsujikawa T, Fujiyama Y. Role of Dietary Fiber and Short Chain Fatty Acids in the Colon. Bentham Science Publishers. 2013.
  9. Howarth GS, Wang H. Role of Endogenous Microbiota, Probiotics and Their Biological Products in Human Health. Nutrients. 2013;5:58-81.(48).
  10. Gratz SW, Mykkanen H, El-Nezami HS. Probiotics and Gut Health : A Special Focus on Liver Disease. World Journal of Gastroenterology. 2010;16(4):403-410.(44).
  11. Bolocan LV, Popescu F, Bica C. Probiotics and their Immunomodulatory Potential. Current Health Sciences Journal. 2013;39(4):1-6.(51).
  12. Quigley EMM, Quera R. Small Intestinal Bacterial Overgrowth : Roles of Antibiotics, Prebiotics, and Probiotics. American Gastroenterological Association. 2006;130:S78-S90.(47).
  13. Markowiak P, Slizewska K. Effects of Probiotics, Prebiotics and Synbiotics on Human Health. Nutrients Journal. 2017;9(1021).
  14. Bolocan LV, Popescu F, Bica C. Probiotics and their Immunomodulatory Potential. Current Health Sciences Journal. 2013;39(4):1-6.(51)
  15. Kuligowski M, Kuligowska I.J, Novak J. Evaluation of Bean and Soy Tempeh Influence on Bacteria and Estimation of Antibacterial Properties of Bean Tempeh. Journal of Microbiology. 2013;62(2):189-194.