Agus Suharto, S.Kep.Ners – Coronavirus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan sampai berat. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit jenis baru yang disebabkan oleh virus Sars-CoV-2. Pandemi COVID-19 mengubah tatanan masyarakat dunia, guna mencegah penularan wabah Virus Corona yang meluas, masyarakat diimbau bahkan dipaksa untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Pandemi COVID-19 yang terjadi begitu cepat berakibat menginfeksi populasi dan merenggut nyawa penduduk di seluruh dunia. Institusi kesehatan sebagai sarana penyelenggara kesehatan tidak luput dalam upaya penanganan pandemi COVID-19. Institusi kesehatan berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terpadu dan menyeluruh kepada masyarakat. Rumah sakit yang merupakan bagian dari institusi kesehatan sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan mau tidak mau harus terlibat dan turut andil dalam penanganan pandemi COVID-19. Pandemi COVID-19 membuat rumah sakit sebagai sarana fasilitas penyelenggara kesehatan harus merencanakan, mengorganisasikan, mengkoordinasikan, dan mengontrol sumber daya yang ada untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien dalam upaya penanganan pasien COVID-19. Rumah sakit harus menerapkan pelayanan kesehatan dengan hati-hati sesuai prosedur penanganan pasien serta harus melakukan manajemen dalam bidang pelayanan kesehatan untuk mengantisipasi terjadinya permasalahan dalam pelayanan kesehatan dan untuk meminimalkan proses penularan COVID-19.

Berdasarkan bukti ilmiah, COVID-19 dapat menular dari manusia ke manusia melalui percikan batuk / bersin (droplet). Orang yang paling berisiko tertular COVID-19 adalah orang yang kontak erat dengan pasien COVID-19 termasuk yang merawat pasien. Rekomendasi standar untuk mencegah penyebaran infeksi adalah dengan cara cuci tangan secara teratur menggunakan sabun dan air bersih, menerapkan etika batuk dan bersin, menghindari kontak langsung dengan ternak dan hewan liar serta menghindari kontak dekat dengan siapapun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan seperti batuk dan bersin. Selain itu juga perlu menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) saat berada di fasilitas kesehatan terutama Unit Gawat Darurat.

Gejala-gejala yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apapun dan tetap merasa sehat. Gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, rasa lelah, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, pilek, nyeri kepala, konjungtivitis, sakit tenggorokan, diare, hilang penciuman dan pembauan atau ruam kulit. Menurut data dari negara-negara yang terkena dampak awal pandemi, 40% kasus akan mengalami penyakit ringan, 40% akan mengalami penyakit sedang termasuk pneumonia, 15% kasus akan mengalami penyakit parah, dan 5% kasus akan mengalami kondisi kritis. Pasien dengan gejala ringan dilaporkan sembuh setelah 1 minggu. Pada kasus berat akan mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, gagal multi-organ, termasuk gagal ginjal atau gagal jantung akut hingga berakibat kematian. Orang lanjut usia (lansia) dan orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan paru, diabetes dan kanker berisiko lebih besar mengalami keparahan.

Pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit membutuhkan perawatan isolasi rata-rata lebih dari 14 hari. Isolasi membuat beberapa pasien berdampak pada psikologi. Salah satu mal-adaptasi adalah adanya perasaan depresi.

Pengukuraan tingkat depresi menggunakan kuesioner Patient Health Questionnaire (PHQ-9). Depresi adalah salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (affective/mood disorder), yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya (Hawari, 2013). Maslim berpendapat bahwa depresi adalah suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergik neurotransmitter (noradrenalin, serotonin, dan dopamine) pada sinaps neuron di sistem saraf pusat (terutama pada sistem limbik) (Maslim, 2013).  Depresi klinis adalah bentuk suasana hati negatif yang berbeda dari apa yang kita semua rasakan dalam keadaan biasa (Rebecca & Allan, 2010). Depresi merupakan gangguan psikologis yang sering dikaitkan dengan stresor jangka panjang seperti penyakit kronis, COVID-19, takut akan kematian.

Olahraga dapat melatih pernapasan, dan salah satu cara sederhana agar mampu menguasai emosi yaitu mengatur pernapasan secara perlahan (Aditya, 2015). Menurut Graha (2010), dengan olahraga teratur, meningkatkan jumlah oksigen dalam darah serta memperlancar aliran darah menuju otak. Menurut para ahli, hal tersebut sangat membantu meningkatkan fungsi otak. dengan melakukan olahraga, seseorang dapat mengatur emosinya. Aktifitas fisik seperti senam menyebabkan perasaan pasien menjadi senang sehingga tingkat depresi menjadi menurun.

Orang yang menderita depresi mengalami stres, kecemasan, galau, kebingungan dan kegelisahan yang berlarut-larut. Hal ini disebabkan oleh pikiran dan perasaan yang negatif. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan pikiran dan perasaan positif yang dapat menghalangi munculnya mood negatif adalah dengan berolahraga seperti melakukan senam. Olahraga khususnya senam adalah terapi yang disarankan bagi penderita yang mengalami masalah psikologis. Melalui senam dilatih untuk melakukan olah napas, melancarkan darah dan stimulasi syaraf, serta merangsang penurunan ketiga hormon yang dapat menurunkan depresi. Selain itu senam juga bisa menyebabkan perasaan senang karena bertemu dengan banyak teman sehingga penderita menjadi rileks dan nyaman.

 

 

 

 

 

Referensi        :

  1. Aditiya P.; Wiram I. K.; dan Fitria P.D. 2010. Pengaruh Senam Ergonomis Terhadap Skor Depresi Pada Penderita Diabetes Melitud Tipe II.
  2. Kemenkes. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MenKes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Kemenkes. 2020; 2019.
  3. Cascella M, Rajnik M, Cuomo A, Dulebohn SC, Di Napoli R. Features, Evaluation and Treatment Coronavirus (COVID-19). StatPearls. 2020.
  4. Hawari, D. 2013. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  5. Kemenkes RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). Germas. 2020;0-115.
  6. Rebecca F & Allan Y. 2010. Mengenali, Mengatasi, dan Mengatisipasi Depresi. Jakarta : Kompas Gramedia.
  7. Surveillances V. The Epidemiological Characteristics of an Outbreak of 2019 Novel Coronavirus Diseases (COVID-19) In China. Zhonghua Liu Xing Bing Xue Za Zhi. 2020;41(2):145-51.
  8. Backer JA, Klinkenberg D, Wallinga J. Incubation Period of 2019 Novel Coronavirus (2019-NCov) Infections Among Travellers From Wuhan, China, 20 28 January 2020. Eurosurveillance. 2020;25(5):1-6.
  9. Home C, Types HC. Human Coronavirus Types Common Human Coronaviruses Other Human Coronaviruses. 2020; 2 : 2020.