Fitria Mega Wardani, S.Kep.Ns – Bayi dengan kelahiran prematur adalah bayi yang terlahir terlalu dini yaitu sebelum usia kehamilan ibu 37 minggu.1,2 Bayi Berat Lahir Rendah yaitu bayi yang terlahir dengan berat kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan usia kehamilan.3 Menurut Pantiwati menyatakan bahwa prevalensi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah.4 Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) kematian bayi pada tahun 2017 adalah sebesar 24 per 1.000 kelahiran hidup dengan kematian neonatal 15 per 1.000 kelahiran hidup.5 Kelahiran prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah adalah penyebab terbesar angka kematian bayi diikuti kejadian infeksi.6 Secara umum, bayi prematur dan BBLR membutuhkan perawatan dalam inkubator untuk mendapatkan respon fisiologis yang baik dalam menjalani masa transisi dari kehidupan dalam ke luar rahim, sehingga diperlukan infrastruktur yang mahal. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kematian BBLR dapat dicegah menggunakan intervensi yang tidak mahal, mudah dilakukan dan tepat guna yaitu dengan Perawatan Metode Kanguru (PMK).7,8

Perawatan Metode Kanguru (PMK)

Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan perawatan untuk bayi berat lahir rendah atau lahiran prematur dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu atau skin-to-skin contact, dimana ibu menggunakan suhu tubuhnya untuk menghangatkan bayi.9 PMK dilakukan dengan cara meletakkan bayi dalam keadaan telanjang (hanya memakai popok dan topi), diletakkan secara tegak / vertikal tengkurap di dada antara kedua payudara ibunya (ibunya telanjang dada) kemudian diselimuti. Dengan demikian, terjadi kontak kulit bayi dan ibu secara kontinyu dan bayi memperoleh panas (sesuai suhu tubuh ibunya) melalui proses konduksi. Perawatan metode kanguru dapat dilakukan dengan 2 cara.9 Pertama, secara terus-menerus dalam 24 jam atau yang disebut juga dengan secara kontinu dan kedua secara intermiten atau dengan cara selang-seling. PMK intermiten digunakan saat bayi masih dalam perawatan intensif di ruang rawat neonatologi dan masih memerlukan bantuan alat. Bayi dengan kondisi ini, PMK tidak diberikan sepanjang waktu tetapi hanya dilakukan jika ibu mengunjungi bayinya yang masih berada dalam perawatan di inkubator. PMK dilakukan dengan durasi minimal satu hingga tiga jam, secara terus-menerus setiap hari. PMK kontinu sangat dianjurkan kepada ibu bayi ketika bayi selesai perawatan di rumah sakit hingga berat badan bayi tercapai 2500 gram dalam perawatan di rumah.

Manfaat Perawatan Metode Kanguru (PMK)

PMK bermanfaat dalam menurunkan angka kematian neonatus atau bayi baru lahir secara bermakna,7 menghindari bayi berat lahir rendah dari kedinginan (hipotermia), menstabilkan bayi, mengurangi terjadinya infeksi, meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi, meningkatkan pemberian ASI, dan meningkatkan ikatan (bonding) antara ibu dan bayi.9 PMK di antaranya mampu sebagai stabilitas suhu tubuh, frekuensi denyut jantung dan menjadikan perilaku bayi lebih baik, misalnya tangisan bayi berkurang dan sewaktu bangun terlihat lebih waspada. Selama perawatan menggunakan metode kanguru, laju frekuensi denyut jantung bayi relatif stabil dan konstan. PMK mempunyai pengaruh posistif bagi bayi, karena bayi dapat merasakan detak jantung ibu, sehingga apabila bayi yang mengalami bradikardi (denyut jantung melemah) akan terstimulasi agar jantungnya kembali berdenyut mengiringi detak jantung ibu. Menurut penelitian Suradi dan Yanuarso, terjadinya kontak kulit bayi dan ibu saat PMK membuat suhu tubuh bayi lebih stabil, pola pernafasan bayi menjadi lebih teratur, denyut jantung bayi lebih stabil, frekuensi menangis berkurang, lebih sering minum ASI dan lama menyusui lebih panjang serta kenaikan berat badan lebih baik.10 PMK juga dapat menjaga kestabilan saturasi oksigen, penelitian menunjukkan bahwa PMK dapat meningkatkan saturasi oksigen BBLR.11 PMK secara bermakna mengurangi frekuensi napas dan meningkatkan saturasi oksigen. Hal ini dapat disebabkan oleh posisi bayi yang tegak, sehingga dipengaruhi oleh gravitasi bumi dan berefek pada ventilasi dan perfusi. Posisi tegak mampu mengoptimalkan fungsi respirasi. Kondisi bayi yang demikian, berdampak positif pada meningkatnya berat badan bayi secara signifikan dan juga berperan dalam meningkatkan perkembangan kognitif. Waktu tidur bayi menjadi lebih lama yang ditandai dengan jumlah waktu terbangun bayi lebih rendah. Selain bagi bayi, dampak PMK bagi ibu di antaranya adalah mempercepat pengeluaran ASI dan meningkatkan keberhasilan menyusui,12 stimulasi dini, kasih sayang antara ibu dan anak semakin meningkat, menurunkan infeksi nosokomial dan memperpendek masa rawat inap.13 Dengan adanya hal tersebut, akan menurunkan risiko kematian dini pada bayi, memperbaiki pertumbuhan pada bayi prematur dan memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan motorik bayi.14

Kesimpulan

PMK mampu memberikan manfaat dalam peningkatan suhu, frekuensi denyut jantung dan saturasi oksigen namun tetap berada pada rentang normal. Hal tersebut dapat diartikan bahwa PMK dapat menjaga kestabilan respon fisiologis bayi premature dan BBLR. Selain itu juga bermanfaat dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi, meningkatkan pemberian ASI, dan meningkatkan ikatan (bonding) antara ibu dan bayi serta meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam merawat bayi. Oleh karena itu diharapkan PMK dapat dilakukan sebagai intervensi yang tidak mahal, mudah dilakukan dan tepat guna bagi perawatan bayi premature dan BBLR di Rumah Sakit dan dapat dilanjutkan sebagai perawatan bayi di rumah, hingga bayi mencapai berat 2500 gram.

Referensi                    :

  1. Cunningham FG. 2012. Obstetri William. Jakarta : EGC.
  2. Fraser, Diana M., dan Margareth A. Copper. 2013. Myles Buku Ajar Bidan. Jakarta : EGC.
  3. Triana A, Damayanti IP, Afni R, Yanti JS. 2015. Buku Ajar Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal : Penuntun Belajar Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Deepublish.
  4. Pantiawati. 2010. Bayi dengan BBLR. Yogyakarta : Nuha Medika.
  5. Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI). 2017. Jakarta : BKKBN, BPS, Kementerian Kesehatan, dan ICF International.
  6. Abdullah, Andi Zulkifli; Naiem, M. Furqaan; Mahmud, Nurul Ulmy. Faktor Risiko Kematian Neonatal Dini di Rumah Sakit Bersalin. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 6, No.6, Juni 2012.
  7. Conde-Aguedelo A., Díaz-Rossello JL. Kangaroo Mother Care to Reduce Morbidity and Mortality In Low Birthweight Infants (Review). Cochrane Database Syst Rev. 2016;(8):1-149.
  8. Trevisanuto D., Putoto G., Pizzol D., Serena T., Manenti F., Varano S., et al. Is a Woolen Cap Effective In Maintaining Normothermia In Lowbirth-Weight Infants During Kangaroo Mother Care? Study Protocol For a Randomized Controlled Trial. 2016;1-7.
  9. Endyarni, Bernie. IDAI. 2013. Perawatan Metode Kanguru (PMK). Meningkatkan Pemberian ASI. Diunduh 10 Desember 2021.
  10. Suradi R, Yanuarso PB. Metode Kanguru Sebagai Pengganti Inkubator Untuk Bayi Berat Lahir Rendah. 2000;2(1).
  11. Boundy EO, Dastjerdi R, Spiegelman D, Fawzi WW, Missmer SA, Lieberman E., et al. 2016. Kangaroo Mother Care and Neonatal Outcomes : a Metaanalysis. Pediatrics.
  12. Chan GJ, Valsangkar B, Kajeepeta S, Boundy EO, Wall S. What Is Kangaroo Mother Care? Systematic Review of The Literature. J Glob Health. 2016;6(1):1-9.
  13. Gregson S. Kangaroo Care In Pre-Term or Low Birth Weight Babies In a Postnatal Ward. Britsh J. Midwifery. 2011;19(9):568-7.
  14. Rangey PB, Sheth MS. Comparative Effect of Massage Therapy versus Kangaroo Mother Care on Physiological Responses, Chest Expansion and Body Weight in Low Birthweight Preterm Infants. Disabil CBR Incl Dev. 2014;25(3):103.