Secercah Harapan Bayi Prematur dengan Surfaktan

dr. Samad, MSc, Sp.A(K) – Tangis keras pertama bayi saat lahir adalah anugerah yang sangat dinantikan oleh orangtua dan harapan tiap dokter yang membantu dalam persalinan. Namun beberapa kondisi dapat menyebabkan bayi lahir tidak langsung menangis, terutama bayi dengan berat lahir ekstrem rendah (BBLER) dan bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR). Periode segera setelah lahir merupakan awal kehidupan yang sulit bagi bayi. Hal tersebut karena terjadinya perbedaan antara lingkungan di dalam dan luar uterus. Bagi bayi prematur atau bayi yang lahir disertai penyulit atau komplikasi, tentunya adaptasi ini akan menjadi lebih sulit.

Bayi Prematur

Definisi dari prematur menurut WHO adalah bayi yang lahir sebelum usia gestasi 37 minggu. Penentuan usia gestasi tersebut berdasarkan New Ballard Score, beberapa terminologi yang berkenaan dengan kondisi prematur salah satunya yakni late preterm, very preterm dan ekstreem preterm, sedang berdasarkan berat bayi baru lahir dikategorikan menjadi bayi berat lahir rendah (BBLR) < 2500 gram, BBLSR < 1500 gram dan bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER) <1000 gram. Kondisi bayi prematur seringkali menjadi pemicu timbulnya komplikasi lain yang menyebabkan bayi tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupan ke fase lanjut (meninggal). Berdasarkan data Biro Pusat Statistik 2016, angka kematian bayi mencapai 25 kematian per 1.000 kelahiran, yang  sebagian besar masih didominasi oleh bayi prematur, dimana presentase angka kelahiran bayi prematur mencapai 675.700 dari sekitar 4.5 juta kelahiran bayi per tahun.

Gangguan Paru-paru Pada Bayi Prematur

Salah satu masalah utama yang sering terjadi pada bayi prematur adalah masalah paru-paru. Perkembangan paru-paru bayi biasanya dianggap matang setelah mencapai usia 36 minggu. Paru-paru yang belum matang bisa berbahaya bagi bayi, komplikasi paling sering terjadi yakni Sindrom Gangguan Pernafasan atau Respiratory Distress Syndrome (RDS). Kondisi tersebut diakibatkan akibat paru-paru yang tidak bisa mengembang sempurna bahkan ada yang sampai colaps akibat kekurangan zat yang disebut surfaktan yang berfungsi untuk mempertahankan kantong-kantong udara (alveoli) tetap mengembang. Akibatnya bayi yang awalnya lahir menangis beberapa saat kemudian terjadi sesak napas yang semakin hebat dan akhirnya akan mengalami kematian.

Apakah itu Surfaktan?

Surfaktan yang merupakan kepanjangan dari surface active agent adalah suatu senyawa kimia yang diproduksi oleh sel pneumatosit tipe II yang dapat mengaktifkan permukaan suatu zat lain yang awalnya tidak dapat berinteraksi. Surfaktan biasanya didapatkan jumlah yang cukup pada paru bayi aterm, sedangkan pada bayi prematur produksi surfaktan masih kurang. Hal inilah yang menyebabkan mengapa bayi-bayi prematur banyak yang mengalami gangguan pernafasan di awal kehidupannya yang apabila tidak segera mendapat terapi yang adekuat akan segera  meninggal dunia.

Terapi Surfaktan

Surfaktan sintesis pertama kali diproduksi tahun 1980, dengan komposisi terbaru saat ini mengandung campuran berbagai fosfolipid permukaan aktif dan zat spreading. Telah banyak dilakukan penelitian yang membandingkan efek terapi surfaktan dengan placebo atau tanpa terapi. Ternyata pemberian surfaktan sebagai terapi maupun profilaksis dapat menurunkan kebutuhan oksigen dan kebutuhan ventilasi mekanis, menurunkan insiden sindrom gangguan pernafasan serta menurunkan angka kematian.

Surfaktan sebagai terapi diartikan sebagai pemberian surfaktan pada bayi prematur yang telah terdiagnosis sindrom gangguan pernafasan, dimana surfaktan paling sering diberikan dalam 12 jam pertama kelahiran, idealnya diberikan kurang dari 2 jam pertama kehidupan. Secara teknis, saat pemberian surfaktan dapat terjadi hipoksia dan bradikardi tetapi hanya berlangsung beberapa saat. Namun pemberian surfaktan juga mengandung risiko di antaranya terjadi perdarahan, pneumothorak, dan lain-lain.

Metode MIST (Minimally Invasive Surfactant Therapy)

Beberapa teknik telah dikembangkan untuk pemberian surfaktan di antaranya adalah INSURE (Intubate-Surfactant-Extubate to CPAP), teknik ini telah terbukti bisa menurunkan penggunaan ventilator. Metode terbaru yang dikembangkan yakni MIST (Minimally Invasive Surfactant Therapy), dimana pemberian surfaktan dilakukan dengan menggunakan selang kecil NGT (nasogastric tube) ke dalam intratrakea dan bayi dapat bernafas spontan dengan CPAP. Metode ini menunjukan hasil lebih baik dibandingkan INSURE terutama untuk komplikasinya.

Harapan Hidup Bayi Prematur

Adanya terapi dan penemuan teknik terbaru dalam pemberian surfaktan dengan angka keberhasilan yang cukup tinggi memunculkan harapan baru untuk bayi-bayi yang lahir prematur. Pemberian surfaktan memerlukan kerjasama multidisipliner terutama dokter anak dan dokter radiologi dimana diagnosis sindrom gangguan pernafasan (RDS) ditegakan dengan pemeriksaan radiologi, dari hasil pemeriksaan radiologi dapat diketahui seberapa besar derajat kelainan paru-paru akibat kekurangan surfaktan atau yang dikenal dengan hyaline membrane disease (HMD) sehingga menjadi indikasi diberikannya surfaktan, selain dokter radiologis untuk bisa memberikan terapi surfaktan diperlukan fasilitas penunjang seperti alat X-ray portable dan ventilator. Hal inilah yang menyebabkan sampai saat ini mengapa kematian bayi prematur masih tinggi karena tidak semua rumah sakit mempunyai fasilitas yang memadai di samping itu harga surfaktan masih mahal.

Terapi surfaktan merupakan salah satu usaha yang dilakukan para dokter anak untuk membantu bayi prematur bertahan hidup sehingga dalam perjalannya bayi tersebut dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Dengan terapi surfaktan memberikan secercah kehidupan bayi-bayi prematur.