Agus Suharto, S.Kep.Ners – Stroke merupakan gangguan peredaran darah otak yang mendadak. Stroke menyebabkan fungsi otak mengalami penurunan. Gangguan pada otak berupa perdarahan pembuluh darah, emboli atau trombus. Gangguan yang disebabkan oleh adanya perdarahan di pembuluh darah otak disebut stroke hemoragik sedangkan gangguan akibat emboli atau trombus disebut stroke non-hemoragik. Pasien stroke non-hemoragik sering mengalami kecacatan berupa hemiparese, hemiplegi, afasia, kebutaan mendadak atau gejala lain sesuai daerah otak yang terganggu (Nasir, 2017).

Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga di dunia setelah jantung dan kanker. Setiap tahun sebanyak 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke. Stroke  non-hemoragik atau stroke iskemik merupakan 88% dari keseluruhan kasus stroke. Penderita stroke non-hemoragik, Sebanyak 5 juta di antaranya meninggal dunia dan yang  5 juta lagi menderita kecacatan permanen. Stroke saat ini banyak terjadi pada usia di bawah 40 tahun disebabkan oleh tingginya kejadian hipertensi.  The Anatomical Tracing of Lesions After Stroke (ATLAS) menyatakan bila terdapat  peningkatan kejadian stroke pada usia 25 tahun sampai 44 tahun dari 35,7 % meningkat menjadi 43,8%  (J. Mackay, 2018).

Penderita stroke meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Setiap penambahan usia 10 tahun sejak usia 35 tahun, risiko terjadi stroke meningkat dua kali lipat. Sekitar 5% orang yang berusia di atas 65 tahun pernah mengalami setidaknya satu kali serangan stroke. Penyakit Stroke di Indonesia mengalami kenaikan dari angka 7% pada tahun 2013 naik menjadi 10,9 % pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018).

Stroke masih menjadi masalah kesehatan penting di Indonesia terutama provinsi Jawa Tengah. Penderita stroke di Provinsi Jawa Tengah meningkat dari 9.5 % pada tahun 2013 naik menjadi 11.2% pada tahun 2018. Peningkatan penderita stroke berdampak negatif  pada ekonomi dan  produktifitas  bangsa. Pengobatan stroke memerlukan waktu lama dan biaya yang besar karena stroke menimbulkan kecacatan (Profil kesehatan provinsi Jawa Tengah, 2018).

Dampak dari penyakit  stroke non-hemoragik antara lain defisit motorik, defisit komunikasi, defisit persepsi sensori, defisit fungsi kognitif dan psikologi. Defisit kemampuan jangka panjang yang terjadi pada stroke non-hemoragik 80% berupa hemiparese atau kelemahan otot.  Hemiparese  biasanya terjadi pada ekstremitas atas dan ekstremitas bawah. Ekstremitas atas terutama jari-jari tangan merupakan bagian yang paling berfungsi dan teraktif dalam kegiatan sehari-hari (Nasir, 2017). Prevalensi pasien stroke non-hemoragik setiap tahun meningkat, stroke merupakan penyakit yang paling sering menyebabkan cacat berupa kelemahan wajah, lengan dan kaki pada sisi yang sama (hemiparese). Stroke non-hemoragik memberikan kecacatan terbanyak pada kelompok usia dewasa, termasuk yang masih produktif. Penderita stroke non-hemoragik yang mengalami hemiparese diperkirakan hanya 20% yang mengalami peningkatan fungsi motorik setelah dilakukan program rehabilitasi. Kelemahan yang terjadi pada ekstremitas atas terutama jari-jari tangan akan sangat menghambat penderita melakukan aktivitas sehari-hari. Salah satu penataksanaan stroke adalah rehabilitasi dengan melakukan ROM aktif asistif spherical grip, yaitu latihan fungsional tangan dengan cara menggenggam objek. Gerak pada jari tangan dapat distimulasi dengan latihan fungsi menggenggam, latihan tersebut dapat menimbulkan kontraksi otot dengan tenaga yang besar dan kontraksi yang lebih kuat sehingga menghasilkan peningkatan motor unit yang memproduksi asetilcolin dan meningkatkan kekuatan mengenggam pada pasien stroke.

Pemberian latihan menggenggam bola merupakan suatu modalitas rangsang sensorik raba halus dan tekanan pada reseptor ujung organ berkapsul pada ekstremitas atas. Respon akan disampaikan ke korteks sensorik di otak jalur sensorik melalui badan sel pada saraf C7-T1 secara langsung melaui sistem limbik. Pengolahan rangsang yang ada menimbulkan respon cepat pada saraf untuk melakukan aksi atas rangsangan tersebut. Mekanisme ini dinamakan feedback, rangsang sensorik halus dan tekanan akan diolah dalam korteks sensorik yang selanjutnya impuls disalurkan dalam korteks motorik. Impuls yang terbentuk di neuron motorik kedua pada nuclei nervi kranialis dan kornu anterius medulla spinalis berjalan melewati radiks anterior, pleksus saraf (di region servikal dan lumbosakral), serta saraf perifer dalam perjalanannya ke otot-otot rangka. Impuls dihantarkan ke sel-sel otot melalui motor end plate taut neuromuscular kemudian akan terjadi gerakan otot pada ekstremitas atas. Mekanisme ini dinamakan feed forward control sebagai respon terhadap rangsang tekanan dan sentuhan halus bola karet pada tangan.

ROM aktif asistif spherical grip yang dilakukan secara rutin dapat memperbaiki gangguan psikologis, meningkatkan kesehatan mental dan mengurangi emosi sebagai dampak dari imobilitas. Jenis rentang gerak terjadi saat anggota badan lemah dibantu melalui gerakan. Anggota tubuh yang lemah membantu namun tidak dapat melakukan semua pekerjaan dengan sendirinya. Contohnya adalah seseorang yang hanya dapat mengangkat sebagian lengan mereka dan seorang terapis membantu mereka untuk mengangkat lengan lebih jauh (atau mereka menggunakan lengan mereka yang kuat sebagai pembantu). Rangkaian latihan aktif membantu dalam memperkuat anggota badan yang belum memiliki rentang gerak penuh (Bo Norrving, 2014).

Latihan gerak aktif asistif spherical grip bertujuan untuk merangsang otot tangan dalam melakukan suatu gerakan menggenggam sehingga kemampuan motorik tangan yang hilang dapat kembali seperti sedia kala. Menurut peneliti asistif spherical grip bermanfaat untuk mempertahankan atau memelihara kekuatan otot, memelihara mobilitas persendian, merangsang sirkulasi darah di ekstremitas, mencegah terjadinya kontraktur, atrofi otot, meningkatkan kekuatan otot jari, pergelangan dan lengan tangan, menstimulasi titik akupresur pada tangan dan jari, mengurangi kelumpuhan vaskuler dan memberikan kenyamanan pada klien dalam memenuhi kebutuhan dan masalah yang dihadapi (Lois Elita, 2018).

ROM aktif assistif sperichal grip merupakan latihan fungsional tangan dengan cara menggenggam sebuah benda berbentuk bulat seperti bola karet pada telapak tangan (Oliviani et al, 2017). ROM aktif asistif spherical grip merupakan suatu modalitas rangsang sensorik raba halus dan tekanan pada reseptor ujung organ berkapsul pada ekstremitas atas. Respon akan disampaikan ke korteks sensorik di otak jalur sensorik melalui badan sel pada syaraf C7-T1 secara langsung melalui sistem limbik. Pengolahan rangsang yang ada menimbulkan respon cepat pada syaraf untuk melakukan aksi atas rangsang tersebut dan memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, di mana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif (Angliadi, 2016).

  1. Tujuan ROM aktif asistif spherical grip.
  • Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot.
  • Memelihara mobilitas persendian.
  • Merangsang sirkulasi darah di ekstremitas.
  • Mencegah terjadinya kontraktur, atrofi otot.
  • Meningkatkan kekuatan otot jari, pergelangan dan lengan tangan.
  • Menstimulasi titik akupresur pada tangan dan jari.
  • Mengurangi kelumpuhan vaskuler.
  • Memberikan kenyamanan pada klien dalam memenuhi kebutuhan dan masalah yang dihadapi.
  1. Langkah-langkah ROM aktif asistif spherical grip.

Rom aktif asistif spherical grip merupakan latihan menggenggam yang memerlukan latihan fungsional tangan melalui 3 tahap yaitu :

  • Membuka tangan
  • Menutup jari-jari untuk menggenggam objek (berupa bola pada telapak tangan).
  • Mengatur kekuatan otot menggenggam selama 4 hari dengan perlakuan 2 kali sehari pagi dan sore hari selama 45 – 60 menit.
  • Penggunaan bola pada latihan ini adalah yang memiliki ciri fisik bergerigi dengan sifat lembut / elastis sehingga menstimulus titik akupuntur tangan yang akan merangsang saraf sensorik di tangan dan disampaikan ke otak.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Angliadi, Prok W, Gessal J. 2016. Pengaruh Latihan Gerak Aktif Menggenggam Bola Pada Pasien Stroke Diukur Dengan Handgrip Dynamometer di Rehabilitasi Medik RSUP Prof. Dr. R.D Kandaou Manado. e-Clinic (Eci), 4, 71-75.
  2. Bo Norrving. 2014. Stroke and Cerebrovascular Disease. 1st Edition. United States : Oxford University Press. pp.9-18, 35-50, 124-139, 236-242
  3. Muhammad Arif. 2015. Efektifitas ROM aktif asistif spherical grip terhadap peningkatan kekuatan otot ekstremitas atas pasien stroke di Ruangan Neurologi Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi. Jurnal Kesehatan Perintis. Jilid 2. Sumatra Barat.
  4. Muttaqin, A. 2014. Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal Aplikasi Pada Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  5. Nasir. M. 2017. Global Health Science. Vol 2. issue 3. ISSN. 2503-5088. Journal. pp.283-290.
  6. Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC NOC Jilid 2. Jakarta : EGC
  7. Nursalam. 2013. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
  8. Notoatmodjo, S. 2012. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
  9. Oliviani, et al. 2017. Pengaruh Latihan Range Of Motion (ROM) Aktif-Asistif (Spherical Grip) Terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Ekstremitas Atas Pada Pasien Stoke Di Ruang Rawat Inap Penyakit Saraf (Seruni) RSUD Ulin Banjarmasin. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.
  10. Riskesdas, 2018. Hasil utama Riskesdas Kementrian Kesehatan RI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.
  11. Yustina Sri Maryanti. 2019. Pengaruh Terapi ROM Aktif Asistif Spherical Grip Terhadap Kekuatan Menggenggam Pada Pasien Stroke Non-Hemoragik di Ruang Melati 4 RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. STIKES Muhamaddyah Klaten.