Tho’atun Ma’rufah, S.Farm, Apt – Penyakit infeksi seperti infeksi saluran nafas bagian atas akut, diare dan gastroentritis (dengan penyebab infeksi tertentu), pneumonia, demam typhoid merupakan beberapa penyakit infeksi dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan dan rawat inap rumah sakit Indonesia tahun 2009. Bahkan jumlah kasus penyakit infeksi saluran bagian atas akut hampir 4 (empat) kali lipat lebih banyak dibanding hipertensi primer pada pasien rawat jalan rumah sakit sedangkan jumlah kasus diare dan gastroentritis (dengan penyebab infeksi tertentu) juga hampir 4 (empat) kali lipat lebih banyak dibanding hipertensi primer pada pasien rawat Inap rumah sakit pada tahun 2009. Jumlah kematian akibat penyakit diare dan gastroentritis (dengan penyebab infeksi) lebih banyak yaitu 1.747 jiwa dibanding dengan hipertensi dengan jumlah kematian 935 jiwa pada tahun 2009 (1). Dari data tersebut penyakit infeksi haruslah mendapatkan perhatian khusus.

Salah satu tata laksana untuk penyakit infeksi oleh bakteri adalah dengan pemberian antibiotik. Dengan semakin luasnya pemakaian antimikroba, khususnya antibiotik, telah menyebabkan timbulnya masalah resistensi terhadap antibiotik.

Resistensi adalah kemampuan mikroorganisme seperti bakteri, virus dan beberapa parasit untuk menghentikan efek dari obat antibiotik, antivirus untuk bekerja membunuh mikroorganisme tersebut. Hal ini dapat menyebabkan pengobatan menjadi tidak efektif. (2) Di Eropa sendiri, kasus resistensi antibiotik telah menimbulkan 25.000 kematian per tahun  dan menambah biaya berobat dan berkurangnya produktivitas setidaknya 1,5 milyar EUR per tahun (3).

Dari paparan di atas, resistensi antibiotik adalah suatu ancaman kesehatan serius yang dapat menimbulkan kematian dan meningkatkan biaya pengobatan rumah sakit. Lalu, apa penyebabnya? Bagaimana kita mencegahnya? Penyebab resistensi antibiotik adalah penggunaan antibiotik tidak tepat seperti pasien tidak menggunakan antibiotik sesuai resep dari dokter, pasien tidak menghabiskan antibiotik yang diberikan oleh dokter, pasien membeli sendiri antibiotik tanpa memeriksakan diri ke dokter dan tanpa resep; penggunaan antibiotik yang tidak perlu kepada hewan; dan tidak terjaganya sanitasi dan higienitas lingkungan (4). Dari data Riskesdas tahun 2013, sebanyak 86,1% rumah tangga Indonesia (dari 103.860 sampel rumah tangga) menyimpan antibiotik yang diperoleh tanpa resep di rumah (5). Hal ini menandakan pengobatan swamedikasi (pengobatan sendiri) tidak tepat karena penggunaan antibiotik seharusnya sesuai dengan indikasi dan resep dokter (5). Sedangkan cara untuk mencegahnya adalah dengan menggunakan antibiotik dengan tepat seperti pasien meminum antibiotik sesuai resep dari dokter dan menghabiskannya, tidak memberikan antibiotik yang sedang diminum kepada orang lain walau pun memiliki gejala penyakit yang sama, tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter, dan tidak memberikan antibiotik kepada hewan ternak apabila tidak perlu; serta ikut menjaga sanitasi dan higienitas, misalnya dengan melakukan cuci tangan. Dengan melakukan hal-hal pencegahan tersebut, masyarakat bisa ikut mencegah timbulnya resistensi antibiotik

 

Daftar Pustaka

  1. Anonim, 2010, Profil Kesehatan Indonesia tahun 2009, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  2. www.who.int/antimicrobial-resistance/en/
  3. The Bacterial Challenge : Time to react. ECDC (European Centre For Disease Prevention and Control) / EMEA (European Medicines Agency) Joint Technical Report 2009.
  4. Riset Kesehatan Dasar 2013, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI 2013
  5. (www.cdc.gov/globalhealth/infographics/antimicobial-resistance/ antimicobial_resistance_global_threat.htm).