dr. Nur Dwita Larasati, M.Sc, Sp.DV – Pytiriais versicolor atau lebih sering disebut panu merupakan infeksi jamur superfisial pada kulit yang paling sering ditemukan dan disebabkan oleh Malassezia. Penyakit ini bersifat menahun, ringan, dan biasanya tanpa peradangan. Malassezia secara alami hidup di kulit manusia dan ketika tumbuh berlebih akan muncul di kulit sebagai bercak berwarna putih, coklat, atau merah muda. Meskipun tidak berbahaya bercak-bercak tersebut cukup menganggu penampilan.

Panu lebih banyak ditemukan pada orang yang tinggal di iklim subtropis yaitu pada cuaca yang panas, lembab, dengan keringat yang berlebih dan sering ditemukan pada remaja dan dewasa. Kelainan berupa bercak tidak teratur berwarna putih, coklat, atau merah muda disertai sisik yang halus, ditemukan di bagian atas dada dan meluas ke lengan atas, leher, punggung, dan tungkai atas atau bawah. Panu pada umumya tidak memberikan keluhan pada penderita atau jika gatal sangat ringan terutama saat berkeringat.

Penegakan diagnosis panu tidaklah sulit yaitu secara klinis ditemukan bercak berwarna putih atau coklat atau merah muda. Apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis KOH dan kultur. Beberapa pemeriksaan penunjang lain juga dapat dilakukan untuk membantu diagnosis seperti pemeriksaan dengan lampu Wood dan uji biokimia.

Pengobatan panu bisa dilakukan secara topikal / oles dan sistemik. Terapi oles menggunakan sampo ketokonazol 2% dioleskan pada daerah yang terinfeksi, 5 menit sebelum mandi, sekali/hari selama 3 hari berturut-turut, atau sampo selenium sulfida 2,5% dioleskan pada daerah yang terinfeksi, 15-20 menit sebelum mandi, sekali/hari selama 3 hari dan diulangi seminggu kemudian, atau sampo zinc pyrithione 1% dioleskan di seluruh daerah yang terinfeksi, 7-10 menit sebelum mandi, sekali/hari atau 3-4 kali seminggu, atau krim terbinafin 1% dioleskan pada daerah yang terinfeksi, 2 kali/hari selama 7 hari. Khusus untuk daerah wajah dan genital digunakan vehikulum solutio atau golongan azol topikal (krim mikonazol 2 kali/hari). Terapi sistemik untuk lesi luas atau jika sulit disembuhkan dapat digunakan ketokonazol tablet 200 mg/hari selama 10 hari, atau itrakonazol tablet 200 mg/hari selama 7 hari atau itrakonazol tablet 100 mg/hari selama 2 minggu, atau flukonazol tablet 400 mg dosis tunggal atau flukonazol tablet 300 mg/minggu selama 2- 3 minggu.

Obat dihentikan bila pemeriksaan klinis, lampu Wood, dan pemeriksaan mikologis langsung berturut-turut selang seminggu telah negatif. Pada kasus kronik berulang terapi pemeliharaan dengan topikal tiap 1-2 minggu atau sistemik ketokonazol 2×200 mg/hari sekali sebulan.

Penggunaan obat memang mampu menghilangkan panu, namun tidak jarang panu yang telah sembuh bisa muncul kembali. Keadaan tersebut terjadi karena jamur tersebut memang ada di kulit. Untuk mengurangi kekambuhan antara lain dengan menggunakan pakaian dengan bahan berserat alami (seperti katun), menghindari pakaian yang terlalu ketat, menghindari pemakaian produk yang bisa membuat kulit berminyak, mengurangi paparan sinar matahari berlebih.

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Wolff K, Goldsmith LA, Freedberg IM, Kazt SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editor. 2012 Dalam : Fitzpatrick’s Dematology In General Medicine. Edisi ke-8. New York : Mc Graw-Hill.
  2. Hu SW, Bigby M. 2010. Pityriasis versicolor : a systematic review of interventions. Arch Dermatol.
  3. Ely JW, Rosenfeld S, Seabury Stone M. 2014. Diagnosis and management of tinea infections. Am Fam Physician.
  4. Widaty S., dkk. 2017. Panduan praktik klinisbagi dokter spesialis kulit dan kelamin di Indonesia. Perdoski.