dr. Zakiah Novianti, Sp.P, M.Kes – Akhir tahun 2019 tepatnya tanggal 29 Desember, di sebuah rumah sakit di Wuhan, Provinsi Hubei, China muncul penyakit pneumonia gawat yang tidak diketahui penyebabnya. Dalam tiga hari, pasien dengan kasus tersebut berjumlah 44 pasien dan terus bertambah hingga saat ini berjumlah ribuan kasus tersebar di seluruh dunia. Ditengarai penyakit ini muncul dari satu pasar seafood atau live market di Wuhan. Sampel isolat dari pasien diteliti dengan hasil menunjukkan adanya infeksi Coronavirus jenis betacoronavirus tipe baru, diberi nama 2019 novel Coronavirus (2019-nCoV). Tanggal 11 Februari 2020, World Health Organization (WHO) memberi nama virus tersebut Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS CoV-2) dengan penyakit yang kita kenal sebagai Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Penelitian SARS-CoV2, masih terus berlanjut untuk mengetahui karakteristik virus dan bagaimana penularan serta penyebarannya. Menurut WHO, penularan Virus Corona melalui droplets atau tetesan cairan yang berasal dari batuk dan bersin. Penularan melalui droplet ini bisa secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung terjadi saat orang batuk atau bersin, percikan dahak yang mengandung virus bisa berpotensi menyebar ke udara dan langsung terhirup orang yang 1-2 meter berada di dekatnya. Sedangkan penularan secara tidak langsung dikarenakan ukuran partikel percikan yang besar jatuh ke benda yang kemudian tanpa disengaja tersentuh tangan. Selain itu di saat batuk atau bersin, biasanya orang tersebut menutup mulut dengan tangan, sehingga virus bisa menempel ditangan dan mentransfer ke benda atau kontak langsung (misal berjabat tangan) dengan orang lain.

Berbagai macam cara penularan itulah yang kemudian menjadikan pemerintah menyarankan bagi masyarakat untuk melakukan social distancing atau mengurangi kontak langsung dengan orang lain. Physical distancing atau pembatasan fisik adalah salah satu langkah yang disarankan untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Tidak hanya saat di luar rumah, pemerintah bahkan menganjurkan agar cara ini juga dilakukan saat di dalam rumah. Dalam melakukan social distancing atau physical distancing, masyarakat tetap dianjurkan untuk rutin menjaga kebersihan diri terutama melakukan cuci tangan selama 20 detik dengan menggunakan sabun sebelum memegang mulut, hidung, mata serta setelah memegang instalasi publik serta disiplin memakai masker.

Ada berbagi macam jenis dan kegunaan masker dengan efektifitas filtrasi yang beragam.

  1. Masker kain lebih disarankan untuk orang yang masih sehat. Efektivitasnya hanya melindungi dari droplet besar, tidak melindungi dari droplet kecil maupun partikel aerosol (airbone). Untuk partikel droplet dengan ukuran 3 mikron, masker kain bisa efektif mencegah 10-60 persen. Masker ini bisa digunakan ketika berada di ruang terbuka atau fasilitas publik. Tetapi tetap harus tetap menjaga jarak kontak fisik 1 hingga 2 meter.
  2. Masker bedah umum dipakai semua orang dan mudah ditemui. Biasanya masker ini berwarna hijau atau biru. Masker ini lebih efektif mencegah Virus Corona tiga kali lipat dibandingkan dengan masker kain. Masker bedah memang dipakai untuk melindungi dari paparan droplet. Efektifitas masker bedah ini mencapai 30-95 persen untuk memfiltrasi partikel dengan ukuran 0 hingga 8 mikron. Kekurangan dari masker bedah ini adalah bagian samping kiri dan kanan tidak menutup secara sempurna sehingga menyebabkan kebocoran. Selain itu juga tidak bisa dipakai berulang kali. Hanya sekali pakai, dan durasi pemakaiannya tergantung kondisi. Apabila sudah basah, segera dilepas atau diganti. Masker bedah lebih dianjurkan untuk mereka yang sedang flu, batuk, bersin, hidung berair, demam, dan nyeri tenggorokan. Juga untuk tenaga medis yang bertugas di fasilitas Kesehatan.
  3. Masker N95 memiliki tingkat efektivitas pencegahan penularan terbaik karena memiliki kerapatan yang lebih padat dibandingkan masker kain dan masker bedah. Masker ini dikhususkan untuk tenaga kesehatan yang kontak langsung atau kontak erat dengan pasien yang memiliki risiko tinggi terinfeksi Virus Corona. Tidak untuk masyarakat umum. Masker ini mempunyai proteksi sangat baik terhadap droplet, sekaligus dengan partikel airbone. Efektifitasnya cukup tinggi karena bisa memfiltrasi partikel dengan ukuran 1 hingga 3 mikron sampai di atas 95 persen. Selain itu, tidak ada kebocoran apabila dipakai dengan benar.

Namun perlu diketahui bahwa penggunaan masker  bukanlah satu-satunya cara untuk memutus rantai penularan COVID-19 sehingga kita harus melakukan kombinasi dengan cara lain, seperti cuci tangan memakai sabun, berperilaku hidup bersih dan sehat, physical distancing, serta yang tak kalah penting adalah  memperkuat daya tahan tubuh sehingga tubuh kebal terhadap serangan penyakit termasuk Virus Corona.