Tim Promkes RSST – Musim hujan… Banyak wilayah juga yang terdampak banjir… Puncak kejadian Leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan banjir. Apa sih Leptospirosis?

Leptospirosis adalah infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini juga disebut Weil disease, Canicola fever, Hemorrhagic jaundice, Mud fever, atau Swineherd disease.

Penyakit ini paling sering ditularkan dari hewan ke manusia ketika orang dengan luka terbuka di kulit melakukan kontak dengan air atau tanah yang telah terkontaminasi air kencing hewan. Bakteri juga dapat memasuki tubuh melalui mata atau selaput lendir. Hewan yang umum menularkan infeksi kepada manusia adalah tikus, musang, opossum, rubah, musang kerbau, sapi atau binatang lainnya. Karena sebagian besar di Indonesia penyakit ini ditularkan melalui kencing tikus, oleh sebab itu Leptospirosis popular disebut penyakit kencing tikus.

Penyakit ini kebanyakan ditemukan di wilayah tropis dan sub tropis pada musim penghujan. Gejala dan tanda yang timbul tergantung kepada berat ringannya infeksi, maka gejala dan tanda klinik dapat berat, agak berat atau ringan saja. Penderita mampu segera membentuk antibodi (zat kekebalan). Sehingga mampu menghadapi bakteri Leptospira, bahkan penderita dapat menjadi sembuh.

Gejala klinis dari Leptospirosis pada manusia bisa dibedakan menjadi 3 (tiga) stadium, yaitu :

Stadium Pertama (Leptospiremia)

  1. Demam, menggigil
  2. Sakit kepala
  3. Bercak merah pada kulit
  4. Malaise dan muntah
  5. Konjungtivis serta kemerahan pada mata
  6. Rasa nyeri pada otot terutama otot betis dan punggung.

Gejala-gejala tersebut akan tampak antara 4-9 hari.

Stadium Kedua

  1. Pada stadium ini biasanya telah terbentuk antibodi di dalam tubuh penderita.
  2. Gejala-gejala yang tampak pada stadium ini lebih bervariasi dibanding pada stadium pertama antara lain ikterus (kekuningan).
  3. Apabila demam dan gejala-gejala lain timbul lagi, besar kemungkinan akan terjadi meningitis.
  4. Biasanya fase ini berlangsung selama 4-30 hari.

Stadium Ketiga

Menurut beberapa klinikus, penyakit ini juga dapat menunjukkan gejala klinis pada stadium ketiga (konvalesen phase). Komplikasi Leptospirosis dapat menimbulkan gejala-gejala berikut :

  1. Pada ginjal, renal failure yang dapat menyebabkan kematian.
  2. Pada mata, konjungtiva yang tertutup menggambarkan fase septisemi yang erat hubungannya dengan keadaan fotobia dan konjungtiva hemorrhagic.
  3. Pada hati, jaundice (kekuningan) yang terjadi pada hari keempat dan keenam dengan adanya pembesaran hati dan konsistensi lunak.
  4. Pada jantung, aritmia, dilatasi jantung dan kegagalan jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak.
  5. Pada paru-paru, hemorhagic pneumonitis dengan batuk darah, nyeri dada, respiratory distress dan cyanosis.
  6. Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah (vascular damage) dari saluran pernapasan, saluran pencernaan, ginjal dan saluran genitalia.
  7. Infeksi pada kehamilan menyebabkan abortus, lahir mati, prematur dan kecacatan pada bayi.

Penderita leptospirosis pada manusia bisa tanpa keluhan. Akan tetapi ditemukan memperlihatkan gejala antara lain :

  1. Demam biasanya dengan menggigil
  2. Sakit kepala yang berat
  3. Nyeri otot
  4. Muntah-muntah
  5. Kuning kulit dan putih mata
  6. Mata merah
  7. Nyeri perut
  8. Diare dan bercak merah pada kulit

Bila tidak segera diobati, penyakit bisa berlanjut dengan gejala :

  1. Gangguan ginjal
  2. Radang selaput pembungkus otak dan sumsum tulang belakang
  3. Gangguan pernafasan
  4. Kematian

Bagaimana upaya pencegahan?

Pengontrolan lingkungan rumah dan penggunaan alat pelindung diri terutama di daerah endemik dapat memberikan pencegahan pada penduduk berisiko tinggi. Imunisasi hanya memberikan sedikit perlindungan karena terdapat serotipe kuman yang berbeda.

Beberapa upaya lain yang bisa dilakukan untuk mencegah terjangkit penyakit Leptospirosis, di antaranya :

  1. Jauhi binatang yang rentan terinfeksi bakteri, terutama tikus liar yang paling banyak membawa bakteri Leptospira.
  2. Hindari air yang sudah terkontaminasi dan pastikan kebersihan air sebelum mengonsumsinya.
  3. Gunakan disinfektan jika perlu.
  4. Gunakan pakaian yang melindungi tubuh dari kontak langsung dengan hewan pembawa bakteri Leptospira, serta bersihkan dan tutup luka dengan penutup tahan air agar tidak terpapar air yang terkontaminasi bakteri.
  5. Mandi secepatnya setelah berolahraga / beraktivitas dalam air.
  6. Jaga kebersihan dan cuci tangan setelah melakukan kontak dengan hewan atau sebelum makan.
  7. Vaksinasi hewan piaraan atau ternak supaya terhindar dari Leptospirosis. (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. https://www.instagram.com/p2ptmkemenkesri/
  2. Novie H. Rampengan. 2016. Leptospirosis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal Biomedik (JBM), Volume 8, Nomor 3, November 2016, hlm. 143-150.
  3. Muhammad Mustafa. Patogenesis dan Virulensi Leptospira Pada Manusia. Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta.
  4. Wening Widjajanti. 2019. Epidemiologi, Diagnosis, dan Pencegahan Leptospirosis. Salatiga.