PKRS RSST – Stop rokok, jauhi NAPZA, hindari pergaulan bebas… Jadilah remaja milenial yang tangguh…

Remaja, sebagai kelompok umur terbesar struktur penduduk Indonesia merupakan fokus perhatian dan titik intervensi yang strategis bagi pembangunan sumber daya manusia. Langkah paling penting yang harus diambil adalah makin ditingkatkannya perhatian kepada remaja, karena mereka menghadapi risiko lebih besar dan mereka lebih rentan menghadapi lingkungan sosial.

Perilaku dan kebiasaan pada generasi milenial mempunyai tingkat antusiasme terhadap penggunaan teknologi cukup tinggi, tetapi mempengaruhi terhadap sikap dan perilakunya. Dampak teknologi mempunyai dua pengaruh, pertama pengaruh positif yaitu memberikan manusia kemudahan untuk melakukan interaksi, mencari informasi lebih mudah, sedangkan yang kedua pengaruh negatif, manusia akan menjadi perilaku yang egois, serba instan dan interaksi terhadap lingkungan sekitar menjadi cukup buruk.

Lingkungan mengalami perubahan besar selama masa remaja dan sering memainkan peran yang berisiko pada status kesehatan masa remaja.

Remaja zaman now (milenial) merupakan masa yang dipengaruhi oleh kecanggihan ilmu dan teknologi sehingga adanya dorongan berperilaku kurang gerak atau kurang aktivitas fisik. Gaya hidup remaja yang kurang gerak atau kebiasaan tidak banyak melakukan aktivitas fisik merupakan gaya hidup yang santai, seperti duduk, berbaring, membaca, menonton televisi, bermain gadget dikenal dengan sedentary lifestyle ini banyak terjadi di daerah perkotaan dan lebih sering terjadi pada perempuan. Ini menjadi salah satu permasalahan kesehatan pada remaja milenial pada saat ini.

Selain itu, masa remaja merupakan salah satu periode yang menentukan pola pembentukan status kesehatan di masa dewasa. Mereka sering dianggap sebagai kelompok dengan kesehatan prima. Namun perilaku berisiko umumnya dimulai pada periode ini. Perhatian pada remaja merupakan salah kunci sukses keberhasilan program kesehatan.

Masa remaja merupakan salah satu fase kehidupan saat fungsi fisik hampir mencapai puncaknya. Pada periode ini kesehatan fisik mencapai titik optimal, akan membentuk pola kesehatan di masa dewasa. Dalam skala global, kesehatan remaja menempati posisi penting. Seperempat penduduk dunia berada dalam segmen remaja 10 – 24 tahun. Status kesehatan remaja masa kini akan menentukan gambaran status kesehatan penduduk dewasa dalam dekade berikutnya. Walaupun mereka mempunyai kesempatan memperoleh status kesehatan optimal, ternyata perilaku mereka tidak selalu mendukungnya. Penggunaan tembakau, penyalahgunaan NAPZA, termasuk alkohol diawali pada usia ini. Kematian karena kecelakaan menempati urutan tertinggi pada golongan usia remaja. Perilaku berisiko yang dilakukan pada masa remaja, sangat berpengaruh pada kejadian penyakit kronis dalam dekade berikutnya.

Studi global burden of diseases memperoleh hasil gangguan mental dan perilaku, penyakit sendi, dan penyakit tidak menular sebagai penyumbang terbesar beban penyakit remaja di Indonesia.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan pelayanan kesehatan, akan semakin banyak penduduk yang memasuki ‘usia risiko’ penyakit. PBB menyadari Penyakit Tidak Menular (PTM) tertinggi terkait dengan faktor risiko bersama, yaitu tembakau, alkohol, diet tidak sehat dan kurang aktivitas fisik berawal dari masa remaja.

Badan Kesehatan Dunia / WHO memperkirakan satu dari lima remaja di dunia akan mengalami distress emosional. WHO menyatakan 75% gangguan mental emosional terjadi sebelum usia 24 tahun, 50% timbul sebelum usia 14 tahun. Tidak kurang dari lima puluh persen dari non fatal Disability Adjusted Life Years (DALYs) di kalangan usia 10 – 24 tahun berasal dari kontribusi gangguan mental emosional, termasuk penyalah gunaan NAPZA.

Walaupun remaja diyakini sebagai kelompok dengan status kesehatan prima, namun laporan Riskesdas menunjukkan sebagian kecil sudah mengalami PTM. Definisi yang digunakan Riskesdas untuk PTM cukup longgar, yaitu pernah didiagnosa petugas kesehatan atau mengalami gejala. Hal ini bahkan lebih baik. Karena dapat mengantisipasi besarnya PTM di kalangan remaja bagi perancang kebijakan. Sehingga dapat dijadikan masukan bagi pengembangan pelayanan kesehatan remaja. Jika dideteksi sejak dini, PTM masih dapat diatasi dengan modifikasi perilaku dan faktor risiko. Namun penanganan PTM fase kronis pada remaja membutuhkan pemahaman perkembangan masa remaja bagi profesional kesehatan. Peningkatan prevalensi merokok dan usia perokok muda menyiratkan kurang berhasilnya pengendalian perilaku merokok di Indonesia. (Hn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. R. Willya Achmad W, Marcelino Vincentius Poluakan, Didin Dikayuana, Herry Wibowo dan Santoso Tri Raharjo. 2019. Potret Generasi Milenial Pada Era Revolusi Industri 4.0. Program Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran.
  2. Desmawati. 2019. Gambaran Gaya Hidup Kurang Gerak (Sedentary Lifestyle) dan Berat Badan Remaja Zaman Milenial di Tangerang, Banten. University of Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta.
  3. Santoso Soeroso. 2001. Masalah Kesehatan Remaja. Sari Pediatri, Vol. 3, No. 3, Desember 2001: 190 – 198.
  4. Siti Isfandari dan Dina Bisara Lolong. 2013. Analisa Faktor Risiko dan Status Kesehatan Remaja Indonesia Pada Dekade Mendatang. Jakarta.