Tim Promkes RSST – Setiap orang tua pastinya mendambakan setiap anak tumbuh dengan baik. Pola asuh yang tidak tepat terhadap anak dapat ditunjukkan sebagai penyebab lingkungan yang menghalangi perkembangan kecerdasan pada anak dan kepribadiannya, selain itu kita ketahui bahwa anak mungkin akan merasa minder dengan orang lain atau minder dengan anak sebayanya oleh karenanya pola asuh pada anak sangat berpengaruh besar bagi tumbuh kembang anak.

Perkembangan ialah perubahan-perubahan psiko-fisik sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis fisik pada anak ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam passage waktu tertentu menuju kedewasaan.

Perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis otomatis. Sebab perkembangan tersebut sangat bergantung pada beberapa faktor secara stimulan, yaitu faktor herediter (bawaan), faktor lingkungan, kematangaan fungsi-fungsi psikis, akvitivas anak sebagai subjek bebas yang berkemauan, kemampuan seleksi, bisa menolak atau menyetujui, punya emosi, serta usaha membangun diri sendiri.

Masa kanak-kanak dimulai setelah melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni usia dua tahun sampai saat anak matang secara seksual. Perkembangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya herediter (keturunan / pembawaan) dan lingkungan perkembangan. Lingkungan perkembangan salah satunya adalah lingkungan keluarga. Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu sistem besar.

Seiring perjalanan hidup anak yang diwarnai faktor internal (kondisi fisik, psikis dan moralitas anggota keluarga) dan faktor eksternal (perubahan sosial budaya), maka setiap keluarga mengalami perubahan yang beragam. Apabila dalam suatu keluarga tidak mampu menerapkan atau melaksanakan fungsi keluarga, seperti saling memperhatikan dan mencintai, bersikap terbuka dan jujur, orang tua mau mendengarkan anak, menerima perasaaan dan menghargai pendapat anak dan lain-lain, keluarga tersebut mengalami stagnasi (kemandegan) atau disfungsi yang pada gilirannya merusak kekokohan konstelasi keluarga tersebut (terutama terhadap perkembangan kepribadian anak).

Pola asuh orang tua dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya pendidikan orang tua, lingkungan, dan budaya. Dalam lingkungan keluarga, anak akan mempelajari dasar-dasar perilaku yang penting bagi kehidupannya kemudian. Karakter dipelajari anak melalui memodel para anggota keluarga yang ada di sekitar terutama orang tua. Keberhasilan pembentukan karakter pada anak ini salah satunya dipengaruhi oleh model orang tua dalam melaksanakan pola asuh. Pola asuh orang tua terbagi menjadi tiga macam yaitu otoriter, permisif, dan otoritatif. Masing-masing pola asuh ini mempunyai dampak bagi perkembangan anak. Pola asuh otoritatif menjadi jalan terbaik dalam pembentukan karakter anak. Karena pola asuh otoritatif ini bercirikan orang tua bersikap demokratis, menghargai dan memahami keadaan anak dengan kelebihan kekurangannya sehingga anak dapat menjadi pribadi yang matang, supel, dan bisa menyesuaikan diri dengan baik.

Banyak orang tua berpandangan dengan memberikan makanan mahal dianggap cukup. Mereka hanya mengandalkan pengasuh untuk menstimulasi anak. Ini jelas tidak cukup, apalagi kalau pengasuh tidak mampu melakukan interaksi dengan anak. Nutrisi dibutuhkan untuk menunjang kemampuan otak dan daya tahan tubuh, sedangkan stimulasi dibutuhkan sebagai pengalaman dini anak dan juga proses tumbuh kembangnya.

Melalui kombinasi yang tepat antara nutrisi dan stimulasi sejak dini, maka anak dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal dan normal yang ditandai dengan kemampuan seimbang antara fisik, mental, emosi, kemampuan berbahasa, kecerdasan dan tingkah laku, sehingga menghasilkan generasi yang mumpuni.

Pola asuh orang tua merupakan segala bentuk dan proses interaksi yang terjadi antara orang tua dan anak yang merupakan pola pengasuhan tertentu dalam keluarga yang akan memberi pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak. Sehingga dalam hal ini dapat dilihat, bahwa dengan pola asuh yang tepat dan benar serta optimal, dapat mempengaruhi  keberlangsungan perkembangan anak. Menjadi sebuah tuntutan bagi kita semua dengan penerapan pola asuh yang baik tentunya hal itulah yang kita pilih, dan tentunya pilihan  pola asuh pada anak semua juga tergantung dari kemauan dari setiap orang tua dalam penerapannya.

Pola otoritatif mendorong anak untuk mandiri, tetapi orang tua harus tetap menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan anak yang konstruktif. Anak yang terbiasa dengan pola asuh otoritatif akan membawa dampak menguntungkan. Di antaranya anak akan merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stres, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa berkomunikasi, baik dengan teman-teman dan orang dewasa. Anak lebih kreatif, komunikasi lancar, tidak rendah diri, dan berjiwa besar.

Permisif biasanya menjadi anak yang ketegantungan. Ketergantungan dilukiskan sebagai kecenderungan umum untuk menyandarkan diri pada orang lain dalam hal mencari pembenaran, kasih sayang dan bimbingan.

Dalam sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak anak dari orang tua otoriter bisa menjadi pemalu, penuh ketakutan, menarik diri, dan berisiko terkena depresi. Mereka bisa jadi sulit membuat keputusan untuk diri mereka sendiri karena mereka sudah biasa diperintah apa yang harus mereka kerjakan. Orang tua otoriter tidak menoleransi perbedaan pendapat, jadi anak-anak mereka cenderung sulit mandiri. Hal ini akan berdampak pada perkembangan sosial dan motorik pada anak karena rasa takut yang tertanam pada dirinya. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Aprilia. 2010. http://staff.uny.ac.id
  2. Hadinoto, S. R. 2006. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada Univercity Press.
  3. Hurlock, E. B. 2012. Psikologi Perkembangan Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga.
  4. Lidyasari, A. T. 2010. Pola Asuh Otoritatif Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Anak Dalam Setting Keluarga.
  5. Rahman, U. 2009. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini.
  6. Suryani, E. & Widyasih, H. 2010. Psikologi Ibu dan Anak. Yogyakarta : Fitramaya.
  7. Yusuf LN, H. S. 2010. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
  8. ISBN 978-979-3541-50-1 IRWNS. 2015. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini.