Tim Promkes RSST – Pingsan dan mimisan merupakan satu keadaan dimana sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan dari individu pernah mengalami pingsan setidaknya sekali dalam seumur hidupnya. Dalam sebuah kegiatan upacara bendera misalnya, hal ini sering terjadi pada siswa mengalami pingsan. Penyebabnya pun sangat beragam, bisa kondisi tubuh yang kurang fit atau karena fisiknya yang lemah.

Pingsan atau dalam bahasa medis disebut sinkop adalah suatu kehilangan kesadaran sesaat akibat hipoperfusi serebal global  yang ditandai dengan onset (kejadian) yang cepat, jangka waktu pendek dan recovery penuh secara spontan (setyohadi, 2015). Sedangkan mimisan atau dalam bahasa medis sering disebut epistaksis merupakan kejadian keluar darah dari hidung biasanya dialami oleh anak TK-SD, kejadian yang disebabkan oleh pembuluh darah yang masih tipis dan peka karena benturan atau trauma akibat mengkorek korek hidung, bersin yang terlalu kuat, perubahan cuaca yang terlalu ekstrim (panas, kering), dan tekanan udara juga dapat menyebabkan mimisan yang terjadi secara spontan. Sehingga perlu penanganan yang cepat dan tepat dari kejadian tersebut.

Dampak dari orang yang sering pingsan memiliki mortalitas yang lebih tinggi dan mengalami penurunan kualitas hidup jika dibandingkan dengan seseorang yang tidak pernah pingsan. Sinkop memiliki morbiditas tinggi yang sering kambuh dan disertai  cedera fisik (Ntusi, et al, 2015) sedangkan epitaksis biasanya dialami oleh anak TK-SD (Soepardi DKK, 2007). Sedangkan komplikasi yang terjadi jika terjadi epistaksis yang berlangsung lama berakibat perdarahan hebat kemudian dapat terjadi syok dan anemia. Seringkali seseorang yang mengalami mimisan dibawa ke unit rawat jalan karena perdarahan berlangsung terus menerus atau berulang, tidak peduli tingkat keparahan perdarahan akan tetap menimbulkan kecemasan bagi orang tua (Lubis & saragih, 2007).

Dalam hal ini pertolongan yang harus dilakukan pada korban pingsan, sebenarnya cukup sederhana : buka jalan napas, periksa pernapasan lalu naikan tungkai 15-30 cm kemudian longgarkan pakaian yang ketat. Jika korban terjatuh, periksa adanya cedera (Thygerson, 2011), sedangkan untuk penanganan mimisan : duduk tegak, menjepit hidung dengan jempol dan jari telunjuk dan bernapas menggunakan mulut, kemudian menjepit selama 5-10 menit, untuk mencegah berlanjutnya perdarahan yaitu jangan menghembuskan napas dari hidung atau membungkukan badan sampai beberapa jam setelah perdarahan dan pertahankan posisi kepala lebih tinggi dari posisi jantung dan jangan mengkorek hidung (Hagen, Milman, 2013).

Dengan demikian mungkin perlu diadakan suatu pelatihan keterampilan kesehatan di sekolah yang mungkin bisa diikuti oleh siswa atau guru dan khususnya petugas kesehatan sekolah, jika sewaktu waktu terjadi kejadian pingsan dan mimisan pada siswa sehingga dengan harapan dapat ditangani dengan sigap dan benar.

Sebagai langkah Untuk antisipasi kejadian yang tidak diinginkan pada anak kita, sebaiknya kita harapkan setiap anak sebisa mungkin untuk sarapan sebelum berangkat sekolah, sebagai antisipasi agar tidak pingsan dikarenakan kurangnya asupan makanan pada anak. Selain itu, langkah yang tepat untuk antisipasi kejadian mimisan pada anak pastikan kuku anak selalu dalam kondisi bersih dan tidak terlalu panjang agar ia tidak melukai dirinya sendiri saat sedang membersihkan kotoran hidung. Ajarkan pula anak untuk tidak terbiasa mengorek hidung. Kita juga bisa mengajarinya mengenai pentingnya menjaga keamanan diri sendiri. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Hagen, Philip, Millman. 2013. Kitab Sehat Mayo Clinic. Jakarta : Mizan Publika.
  2. Ntusi, N. A. B.; Coccia C. B. I.; Cipido B.J.; Chin A. 2015. An Approach to The Clinical Assesment and Management of Syncope In Adults. Continuing Medical Education.
  3. Saragih, F. S. 2010. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Makanan Sehat dan Gizi Seimbang di Desa Merek Raya Kabupaten Simalungun Tahun 2010. Skripsi . Universitas Sumatera Utara (USU).
  4. Setyohadi, B. 2015. Kegawatdaruratan Penyakit Dalam. Jakarta : Interna Publishing.
  5. Soepardi, dkk. 2007. Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke enam Jakarta : FKUI.