Fera Indah S., AM.Keb – Kehamilan ektopik terganggu merupakan salah satu komplikasi kehamilan dimana sel telur yang dibuahi tidak berpindah ke rahim melainkan menempel dan bertumbuh di tuba fallopi.

Penyebab :

Penyebab pasti dari kehamilan ektopik belum diketahui, tapi dapat terjadi karena kerusakan pada tuba fallopi.

Tuba fallopi sendiri fungsinya adalah sebagai saluran yang mengantarkan sel telur hasil pembuahan. Sel telur nantinya akan bergerak menuju dan berkembang di dalam rahim.

Beberapa kondisi yang mungkin menjadi penyebab kehamilan ektopik, di antaranya yaitu :

  1. Peradangan dan jaringan parut pada tuba fallopi dari kondisi medis sebelumnya, infeksi, atau akibat tindakan bedah.
  2. Faktor hormon
  3. Kelainan genetik (bawaan).
  4. Cacat lahir, mungkin disebabkan oleh gangguan pertumbuhan ketika masih menjadi janin dalam kandungan.

Faktor Risiko :

Kehamilan ektopik dapat dialami oleh setiap wanita yang telah aktif berhubungan intim. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik, yaitu :

  1. Berusia 35 tahun atau lebih saat hamil.
  2. Memiliki riwayat radang panggul dan endometriosis.
  3. Menderita penyakit menular seksual, seperti gonore dan chlamydia.
  4. Mengalami kehamilan ektopik pada kehamilan sebelumnya.
  5. Mengalami keguguran berulang.
  6. Pernah menjalani operasi pada area perut dan panggul.
  7. Pernah menjalani pengobatan terkait masalah kesuburan.
  8. Memiliki kebiasaan merokok.

Gejala Kehamilan Ektopik :

Kehamilan ektopik cenderung tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Tanda awal kehamilan ektopik mirip dengan kehamilan biasa, seperti mual, payudara mengeras, dan menstruasi terhenti.

Sedangkan pada tahap lanjut, ada beberapa gejala yang sering dirasakan penderita kehamilan ektopik, yaitu nyeri perut dan perdarahan dari vagina. Gejala-gejala tersebut akan terasa semakin parah seiring waktu.

Segeralah periksakan diri ke dokter bila muncul sejumlah gejala berikut saat sedang hamil :

  1. Sakit seperti tertusuk di perut, panggul, bahu, dan leher.
  2. Nyeri pada salah satu sisi di bagian bawah perut, yang memburuk seiring waktu.
  3. Nyeri di dubur saat buang air besar.
  4. Perdarahan ringan hingga berat dari vagina, dengan warna darah yang lebih gelap dari darah menstruasi.
  5. Pusing / lemas
  6. Diare

Diagnosis Kehamilan Ektopik :

Dokter akan melakukan pemeriksaan dengan USG transvaginal untuk memastikan terjadinya kehamilan ektopik. Selain membantu dokter kandungan melihat kondisi organ reproduksi pasien, prosedur ini dapat memastikan lokasi kehamilan secara akurat.

Tes lain yang dapat dilakukan adalah tes darah, guna mengukur kadar hormon hCG dan progesteron. Pada kehamilan ektopik, kadar kedua hormon tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan kehamilan normal.

Pencegahan Kehamilan Ektopik :

Kehamilan ektopik tidak bisa dicegah, tetapi risiko untuk mengalami kondisi ini dapat diturunkan. Ada sejumlah cara yang bisa dilakukan, di antaranya :

  1. Hindari perilaku seks yang berisiko, misalnya bergonta-ganti pasangan seks dengan tidak menggunakan kondom.
  2. Hindari merokok, sejak sebelum hamil.

Ibu hamil juga dianjurkan untuk melakukan tes darah dan USG rutin. Selain untuk memantau perkembangan kehamilan, pemeriksaan rutin dapat mendeteksi kehamilan ektopik lebih awal, sehingga bisa segera ditangani.