dr. Lucky Taufika Y., Sp.Onk-Rad – Tanggal 26 Juni merupakan hari yang diperingati sebagai Hari Anti Narkoba Sedunia, atau supaya lebih ear catching kita sebut HANI, Hari Anti Narkoba Internasional. Seluruh warga di dunia diharapkan ikut serta dalam segala upaya untuk mengatasi peredaran Narkoba di tengah-tengah masyarakat, karena dapat membahayakan generasi saat ini dan generasi penerus.

Tahun 2020 lalu, peringatannya mengambil tema “Better Knowledge for Better Care.” Peringatan HANI di Indonesia tahun 2020 tersebut diinisiasi oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) dengan taglineHidup 100%”, pesan ini mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk menjadi insan yang lebih baik secara fisik, mental, jasmani dan rohani serta dunia akhirat dengan menjauhi Narkoba. Dengan kata lain, HIDUP 100% SADAR, SEHAT dan PRODUKTIF serta BAHAGIA TANPA NARKOBA.

Di Indonesia terdapat BNN (Badan Narkotika Nasional) hasil Undang-undang No. 35 Tahun 2009 di jaman pemerintahan Bapak Presiden SBY. Yang merupakan lembaga pemerintah non-kementerian Indonesia yang bertugas melakukan pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, prekursor dan bahan aditif lainnya kecuali tembakau dan alkohol. Lembaga ini bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Peran serta masyarakat secara aktif untuk bersama-sama dan bekerja sama membantu BNN dalam rangka melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) sangat diperlukan.

Pada tahun 2021 ini, peringatan Hari Anti Narkoba Internasional mengambil tema “Share Facts on Drugs. Save Lives.” Yang berarti menekankan pentingnya kesadaran akan fakta mengenai Narkoba dan bahayanya serta upaya pencegahan, pengobatan dan perawatan berbasis bukti.

Salah satu pesan kunci yang disampaikan adalah “Cannabis has almost quadrupled in strength over the last two decades. However, the percentage of adolescents perceiving cannabis as harmful has decreased by as much as 40 per cent. We must work closer with youth and raise awareness about the potential health risks of drug use.”  Persentase remaja yang menganggap ganja berbahaya telah menurun hingga 40%, apalagi beberapa negara bagian di Amerika sudah melegalisasi penggunaan ganja secara medis. California menjadi negara bagian pertama di tahun 1996 yang melegalisasi ganja, saat ini tahun 2021 telah lebih dari 30 negara bagian yang turut serta. Dan saat ini terdapat 27 negara di Eropa dan Amerika yang sudah setuju dan 25 negara lainnya masih menolak.

Dahulu kita mengenal istilah NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif) saat ini yang sering muncul adalah Narkoba, yaitu Narkotika dan obat-obatan berbahaya. Dalam Narkoba terdapat senyawa / zat-zat yang jika diberikan tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan risiko ketergantungan dan kecanduan, mempengaruhi kemampuan berfikir dan dapat merusak organ tubuh serta kematian. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam undang-undang ini.

Dalam UU Narkotika No. 35 Tahun 2009, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan.

Yang termasuk Narkotika antara lain : papaver somniferum, opium mentah, opium masak, tanaman koka, daun koka, kokain mentah, kokaina, tanaman ganja. Garam dan turunan dari morfina dan kokaina serta campuran dan sediaan yang mengandung salah satu bahan diatas.

Tanaman ganja ada dalam kelompok Narkotika, yang mana memiliki efek utama sebagai halusinogen, membuat pemakainya memiliki daya persepsi yang berbeda dan mengakibatkan halusinasi.

Di Indonesia pernah terjadi, seorang ASN Kabupaten Sanggau di Kalimantan Barat kedapatan menanam ganja di rumah yang digunakan untuk “mengobati” istrinya yang kesakitan akibat penyakit pada saraf tulang belakang yang dideritanya. ASN tersebut berdalih hanya istrinya saja yang menggunakan, itupun karena untuk mengatasi nyeri yang diderita. Polisi tetap menindaknya karena ada peraturan perundang-undangan yang melarang seseorang menanam ganja.

Sebenarnya, rasionalisasi penggunaan ganja secara medis memang diperlukan melalui serangkaian uji penelitian klinis, morfin saja saat ini telah dipakai sebagi obat anti nyeri pada beberapa kasus nyeri berat maupun pada kasus serangan jantung. Mungkin nanti jika ada penelitian dari ahli farmasi maupun dokter di Indonesia yang dapat sebagai bukti ilmiah asas manfaat penggunaan ganja dalam dunia medis, maka ganja dapat dipertimbangkan untuk dipergunakan.

Sekali lagi untuk indikasi medis, obat golongan narkotik, psikotropik yang telah ada / tersedia saat inipun jika terjadi penyalahgunaan maka penegak hukum yang akan menindaknya.

Share Facts on Drugs. Save Lives…

#ShareFactsOnDrugs

#SaveLives

#WDD2021

#WorldDrugDay

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. https://bnn.go.id/
  2. https://www.unodc.org/drugs/en/campaign-tools/print.html
  3. https://trello.com/c/vaxNJgud/29-2021-overview-and-messaging
  4. https://www.voaindonesia.com/a/legalisasi-ganja-sebagai-obat-/3961479.html