drg. Lydia Astari, Sp.Ort – Sumbing bibir dan lelangit mulut adalah kelainan bawaan yang sering ditemukan. Sumbing bibir dan lelangit adalah suatu pembukaan pada bibir atau langit-langit mulut dan suatu defek kelahiran di mana dua sisi rahang atas tidak dapat berfusi menjadi satu struktur. Prevalensinya pada populasi tergantung pada ras, etnis, faktor geografis dan sosial ekonomi. Defek ini terjadi sekitar 1:500 sampai 1:2500 kelahiran, di antaranya sumbing bibir terjadi 20-30%, sumbing lelangit 30-45% dan sumbing bibir dan lelangit 35-50% (Slayton dkk., 2003). Kondisi ini menyebabkan defisiensi fungsional berat pada kemampuan pengunyahan pasien, penampilan, dan kemampuan untuk berbicara (Regezzi dkk., 2003). Akibat  defek ini, pasien dapat memiliki masalah kompleks yang berhubungan dengan penampilan wajah, proses makan, pernafasan, pendengaran, dan bicara (Shetye, 2016).

Sumbing bibir dan lelangit terjadi karena adanya gangguan pada kehamilan trimester pertama yang menganggu proses tumbuh kembang janin. Faktor yang diduga menyebabkan kelainan ini akibat kekurangan nutrisi, obat-obatan, infeksi virus, radiasi, stres pada masa kehamilan, trauma dan faktor genetik (Marzoeki, dkk., 2002).

Sumbing bibir dan lelangit dapat segera didiagnosa pada saat kelahiran. Deteksi sumbing sebelum kelahiran sangat berguna dalam menyiapkan orangtua yang sedang mengandung akan adanya cacat / kelainan pada anak mereka dan penatalaksanaan bayi mereka setelah lahir. Adanya sumbing dapat  pula mengindikasikan kelainan bawaan lainnya, terutama pada kasus dengan sumbing yang lebih berat. Dalam hal ini, adanya cacat / kelainan kongenital berat  disertai sumbing, dapat dipertimbangkan untuk diakhiri (Mansyur, 2007 dan Hanikeri, dkk., 2006).

Dengan kemajuan pengetahuan dalam genetika medis dan teknologi diagnostik DNA, semakin banyak sumbing pada mulut dan wajah yang diidentifikasi sebagai sindrom. Fogh-Andersen merintis penelitian genetik membedakan 2 kategori dasar untuk sumbing yaitu bibir sumbing dengan atau tanpa celah langit-langit [CL/P] dan celah  langit-langit sendiri, yang sekarang dapat diklasifikasikan lebih akurat. Diagnosis sumbing penting untuk menentukan pengobatan, etiopatologi genetik yang lebih lanjut, penelitian, serta langkah-langkah pencegahan sumbing yang benar (Tolarova, 2010).

Masalah pada penderita sumbing bibir dan lelangit sudah muncul sejak penderita lahir. Derita psikis dialami keluarga dan kelak dialami pula oleh penderita setelah menyadari dirinya berbeda dengan yang lain. Secara fisik adanya celah akan membuat kesukaran minum karena daya hisap yang kurang dan gangguan bicara berupa suara yang sengau. Penyulit yang juga mungkin terjadi adalah infeksi telinga tengah, gangguan pendengaran serta gangguan pertumbuhan gigi dan rahang (Marzoeki, dkk., 2002).

Kemajuan dalam ilmu pengetahuan di bidang pertumbuhan dan perkembangan kraniofasial, perawatan bedah dan ortodonti, telah menghasilkan perawatan yang lebih baik pada pasien sumbing bibir dan lelangit dalam waktu yang lebih singkat (Resiberg, 2004). Perawatan prostodonti yang biasa dilakukan untuk pasien sumbing lelangit adalah penggantian gigi depan yang tidak ada sejak lahir, yang biasanya dilakukan setelah perawatan ortodonti untuk merapikan gigi yang ada. Di sisi lain, pasien celah bibir dan lelangit yang tidak menerima perawatan ortodonti dan prosedur cangkok adalah kandidat terbesar untuk perawatan prostodonti (Moore dan McCord, 2004).

Rehabilitasi pasien dengan sumbing bibir dan lelangit tergantung pada beratnya perubahan anatomi dan fungsi akibat malformasi dan usia pasien saat onset perawatan. Beberapa di antaranya melibatkan gigi karies, kehilangan beberapa gigi, malposisi, dan seringnya gigi yang tumbuh di langit-langit mulut (Gowri dan Shenoy, 2013). Menurut Shetye (2016), pasien dengan sumbing bibir dan lelangit idealnya dirawat melibatkan spesialisasi dari berbagai disiplin ilmu : dokter anak, ahli bedah plastik rekonstruksi, spesialis bedah maksilofasial, spesialis THT-KL, ortodontis, ahli genetika, pekerja sosial, perawat, ahli terapi wicara, prostodontis, dan psikolog.

Perawatan ortodonti dan bedah pada pasien sumbing bibir dan lelangit berlangsung lama, dimulai pada saat pasien lahir, dan terus berlanjut sampai dewasa saat pertumbuhan skeletal kraniofasial sempurna. Peran ortodontis pada saat dan tahap perawatan yang tepat adalah suatu hal yang penting dalam manajemen perawatan tim. Tujuan untuk rehabilitasi komplet pasien sumbing bibir dan lelangit adalah hasil yang maksimal dengan intervensi minimal (Shetye, 2016).

Perawatan Ortodonti Pada Pasien Celah Bibir dan Lelangit

Tujuan dari pendekatan perawatan interdisipliner pada pasien sumbing adalah untuk mengusahakan kondisi wajah yang lebih estetik, fungsi bicara yang normal, dan kondisi gigi geligi yang secara estetik dapat diterima, dan perkembangan socio-psikologis yang dapat diterima. Tim interdisipliner yang melibatkan kasus sumbing adalah tim yang terdiri dari dokter anak, dokter bedah plastik, ortodontis. Tugas utama ortodontis adalah mengawasi pertumbuhan dan perkembangan tulang-tulang wajah, mengoreksi hubungan pada rahang, dan oklusi gigi-geligi. Adapun tahapan pada terapi sumbing terbagi menjadi lima tahapan, 1) infant orthopedics, 2) early mixed dentition treatment and facial orthopedics, 3) terapi ortodontik dengan penambahan bonegraft, 4) adolescent orthodontic treatment, 5) kombinasi terapi bedah ortho pada awal usia dewasa  (Krisnan dan  Vinod, 2011).

Menurut Shetye (2016), saat ini terjadi perkembangan pesat tentang konsep dan prinsip dalam perawatan pasien dengan sumbing bibir dan palatum. Urutan dan ketepatan waktu dalam perawatan ortodontik / ortopedi dan perawatan operasi pada masa bayi, periode gigi bercampur, dan setelah selesainya pertumbuhan wajah (dewasa) adalah sebagai berikut :

Perawatan Selama Bayi (0-4 Bulan)

Sebelum Operasi (Pre-Labioplasty)

Naso Alveolar Molding (NAM) / Pre-surgical orthopedic NAM adalah metode non-bedah yang dilakukan untuk mengarahkan tulang alveolar (gusi), bibir dan nostril (lubang hidung) sebelum dilakukan tindakan bedah pada pasien sumbing bibir dan lelangit.

Perawatan Selama Periode Gigi Bercampur (9-11 Tahun)

Pre-ABG (Alveolar Bone Graft)

Perawatan ortodonti Pre-Alveolar Bone Graft adalah perawatan ortodonti untuk mempersiapkan lengkung gigi dan rahang pasien sebelum dilakukan prosedur Alveolar Bone Graft (cangkok tulang) oleh dokter bedah.

Perawatan Usia Gigi Permanen / Dewasa

Post-ABG

Seperti halnya pre-ABG, post-ABG juga memerlukan perawatan yang seksama agar hasil operasi maksimal. Diperlukan kerjasama yang baik antara keluarga pasien, pasien, dan tim medis yang menangani.

Sumbing bibir dan atau lelangit merupakan permasalahan yang berhubungan dengan gangguan fungsi organ seperti makan, wicara dan pendengaran dan juga menyebabkan masalah psikis karena bentuk penampilan yang mengganggu estetik. Untuk menangani masalah tersebut diharapkan seorang ortodontis dapat menangani dengan pendekatan kooperatif terhadap anak dan orang tua pasien serta dapat bekerja secara team work dengan multidisiplin lainnya. Perawatan klinis maloklusi pada penderita sumbing bibir dan atau lelangit harus disesuaikan dengan tahapan periode perkembangan gigi dan usia pasien melalui pendekatan ortodonti interdisipliner untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Referensi        :

  1. Gowri S, Shenoy K. Prosthetic Rehabilitation of Cleft Palate Patient : a Case Report. Annals and essence of dentistry 2013; 5(2)10-12.
  2. Hanikeri M, Savundra D, Gillett M, Walters W, McBain. Antenatal Transabdominal Ultrasound Detection of Cleft Lip and Palate in Western Australia From 1996 to 2003. The Cleft Palate-Craniofacial Journal 2006 : Vol. 43, No. 1, pp. 61-66.
  3. Krisnan, Vinod, Davidovith, Ze’ev. 2011. Integrated Clinical Orthodontics. USA : Willey Blackwell, pp 153-65.
  4. Mansyur Romi. 2007. Preliminary Study on Congenital Anomaly In dr. Sardjito General Hospital Yogyakarta. Berkala Ilmu Kedokteran: Vol. 39, No. 4, p. 154-61.
  5. Marzoeki D, Jailani M, Perdanakusuma. 2002. Teknik Pembedahan Celah Bibir dan Langit-langit. Jakarta : Sagung Seto. pp. 1-8.
  6. Moore D, McCord JF. Prosthetic Dentistry and The Unilateral Cleft Lip and Palate Patient. The Last 30 Years. A Treatment Options. Eur J Prosthodont Restor Dent 2004;12:70-4.
  7. Regezzi JA, Sciubba JJ, Jordan RCK. 2003. Oral Pathology, Clinical Pathologic Correlations. St. Louise, Missouri, Elsevier Saunders. Pp 362- 363.
  8. Resiberg DJ. Prosthetic Habilitation of Patients With Clefts. Clin Plast Surg 2004; 31:353-60.
  9. Shetye PR. Orthodontic Management of Patients With Cleft Lip and Palate. APOS Trends Orthod 2016; 6:281-6.
  10. Slayton RL, Williams L, Murray J. Genetic Association Studies of Cleft Lip and or Palate With Hypodontia Outside The Cleft Region. Cleft Palate Craniofac J 2003; 4: 274-9.
  11. Tolarova MM. Cleft Lip and Palate. [online]. 2010  [cited 2009 March 23]: [1 screens]. Available from:http://www.emedicine.com.