dr. Lucky Taufika Yuhedi, Sp.Onk.Rad – Ketika kita berbicara masalah tumor kadang bingung, apakah ini tumor atau kanker?

Tumor merupakan suatu benjolan yang bersifat jinak, mempunyai kapsul pembungkus, tidak menyebar dan tidak membahayakan jiwa, sedangkan kanker merupakan tumor yang bersifat ganas, tidak mempunyai kapsul pembungkus dan dapat menyebar ke organ lain serta dapat merenggut nyawa.

Berdasarkan rekapitulasi laporan penyakit tidak menular dari Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten tahun 2019, terdapat 1.323 kasus kanker, dengan urutan kasus mulai dari yang terbanyak yaitu kanker payudara (766 kasus), leukemia (154 kasus), kanker leher rahim / cervix (154 kasus), kanker kolorektal / saluran cerna bagian bawah (143 kasus) dan retinoblastoma (36 kasus). Di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro sendiri terdapat 304 kasus kanker yang ditangani, dengan 3 kasus terbanyak antara lain : kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker kolorektal.

Dalam dunia kedokteran terdapat tatalaksana utama keganasan (kanker) yaitu pembedahan, kemoterapi dan radioterapi (radiasi pengion). Radioterapi dapat sebagai suatu tatalaksana / terapi primer (kuratif), terapi adjuvan terkait pembedahan dan kemoterapi dan sebagai terapi paliatif (misal untuk mengurangi keluhan gejala seperti nyeri, mengatasi perdarahan tumor dan mengurangi sesak nafas akibat pembuluh darah yang terdesak oleh massa tumor).

Sejak lebih dari 100 tahun yang lalu, dimana Wilhelm Conrad Roentgen menemukan sinar X, lalu Marie Curie dan Henri Becquerel menemukan aktifitas dan sifat radioaktif, penggunaan radiasi sebagai salah satu cara pengobatan kanker telah berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan dan kemajuan tekhnologi yang semakin mutakhir. Penggunaan radiasi pada penyakit kanker dilakukan berdasarkan sesuai aspek-aspek onkologi, sehingga dalam penyebutannya sekarang disebut sebagai Radiasi Onkologi. Dokter yang berwenang dan berkompetensi dalam radioterapi disebut ahli onkologi radiasi (radiation oncologist). Aplikasi radiasi dan onkologi memerlukan pengetahuan terkait biologi yang mempelajari interaksi antara sinar yang diberikan dengan jaringan sehat, histopatologi jaringan serta onkologi itu sendiri, serta pengetahuan fisika medik yang berkaitan dengan sifat berbagai jenis sumber radiasi. Dan dalam dunia kedokteran saat ini akan sering dijumpai ahli bedah onkologi, ahli hemato-onkologi dan subspesialis lainnya terkait onkologi.

Dikenal beberapa kosakata seperti radioterapi, onkologi radiasi, dokter spesialis onkologi radiasi. Secara terminologi radioterapi adalah modalitas klinik yang berkaitan dengan penggunaan radiasi pengion dalam pengobatan tumor ganas dan pada tumor jinak. Onkologi radiasi adalah disiplin ilmu dalam kedokteran manusia yang mempelajari penyebab, pencegahan dan pengobatan kanker dan penyakit lainnya dengan menggunakan keahlian khusus dalam aplikasi radiasi pengion sebagai terapi. Sedangkan dokter spesialis Onkologi Radiasi (Sp.Onk.Rad) merupakan dokter ahli yang menggunakan radioterapi untuk mencoba mengobati kanker, mengendalikan pertumbuhan kanker dan mengurangi gejala-gejala penyerta pada kanker seperti nyeri dan perdarahan.

Radiasi pada penggunaannya dapat menghancurkan rantai DNA pada sel kanker, sehingga sel kanker tidak dapat tumbuh dan membelah kembali. Tetapi dalam suatu lapangan radiasi terdapat beberapa sel normal yang terkena efek radiasi pengion dan ikut rusak. Oleh sebab itu, dalam pemberian radioterapi, seorang dokter ahli onkologi radiasi akan berusaha memberikan dosis radiasi semaksimal mungkin terhadap target massa tumor (kanker) dan juga berusaha menghindari pemberian dosis kepada jaringan sehat yang normal sebanyak mungkin. Perkembangan tekhnologi yang semakin mutakhir saat ini dengan ditemukannya alat / mesin radioterapi yang disempurnakan, memungkinkan seorang dokter ahli radiasi onkologi memberikan distribusi dosis yang optimal terhadap massa tumor dan melindungi jaringan normal yang sehat disekitarnya sehingga tumor kontrol dan tingkat kesembuhan pasien tercapai lebih baik.

Sebelum melakukan tindakan radioterapi diperlukan pencitraan menggunakan CT (Computed Tomography) Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk mengetahui eksistensi dan ekstensi tumor dengan baik supaya dokter dapat menentukan metode pemberian radiasi, lapangan radiasi serta perencanaan dosis radiasi dapat dilakukan dengan tepat, jangan sampai dalam suatu terapi kuratif definitif malah memotong tumor.

Radiasi dapat dilakukan pada hampir semua jenis kanker, misalnya kanker otak, payudara, leher rahim (cervix), nasofaring (rongga belakang hidung), paru-paru, pankreas, prostat, kulit, limfoma, leukemia dan lain-lain. Cara pemberian radiasi dan penentuan dosisnya sangat tergantung dengan jenis kanker, lokasi dan ekstensi nya. organ sehat penting yang ada di sekitar tumor, keadaan umum pasien dan riwayat medis pengobatan sebelumnya (komorbid) serta kemauan pasien (patient’s preferences).

Radioterapi juga berperan sebagai pengobatan pada kasus bukan keganasan (non malignancy), misalnya pada kasus keloid, Malformasi Arteriovenous (AVM), pseudolimfa orbital serta angiofibroma juvenille).

Dalam dunia radioterapi, dikenal sumber radiasi yang alami dan yang dibangkitkan. Dalam penggunaannya terdapat alat Cobalt-60 (alami) dan LINAC / Linear Acceleator (dibangkitkan), alat Cobalt-60 menggunakan bahan radioaktif cobalt alami yang terus menerus memancarkan radiasi hingga hasil peluruhan akhirnya berupa unsur baru Nickel-60, sedangkan alat LINAC menggunakan gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi untuk mengakselerasi elektron menjadi energi tinggi melalui tabung vakum linier.

Dikenal 3 (tiga) jenis terapi radiasi yaitu 1)  radiasi eksterna berupa penyinaran yang berasal dari sumber radiasi yang terletak di luar tubuh pasien, 2)  radiasi internal berasal dari sumber yang diletakkan di dalam tubuh pasien dengan cara pemasangan implant, dan 3)  radiasi sistemik yang menggunakan aliran darah ke seluruh tubuh. Dari ketiga jenis terapi radiasi tersebut yang paling banyak digunakan adalah terapi radiasi eksterna.

Teknik radiasi eksterna dari yang sederhana hingga paling mutakhir dapat berupa 2D konvensional, 3D CRT (Conformal Radiotherapy), IMRT (Intensity Modulated Radiotherapy), IGRT (Image Guided Radiotherapy), SRT (Stereoactic Radiotherapy), SRS (Stereotactic Radio Surgery) menggunakan alat LINAC atau Gamma Knife, serta  Heavy Ion (Proton, Carbon).

Untuk saat ini, sesuai kebutuhan dan perkembangan terkini, dalam satu instalasi radioterapi dapat menyediakan alat berupa 1 atau 2 LINAC dan 1 Brakiterapi. Brakiterapi merupakan metode terapi yang memasukkan sumber radioaktif melalui aplikator khusus selama periode waktu tertentu, pemasangan aplikator dilakukan di kamar tindakan / operasi dengan atau tanpa pembiusan kemudian dilanjutkan dengan perencanaan radiasi dan pelaksanaan radiasi.

Pelaksanaan radioterapi secara umum dapat dilakukan dengan setting pasien rawat jalan. Dosis radiasi konvensional sebanyak 1,8 – 2 Gy dapat diberikan 5 kali dalam seminggu, sabtu dan minggu libur untuk memberikan kesempatan sel-sel normal yang masuk area radiasi memperbaiki diri, kontrol ke dokter di poliklinik setiap 5 kali sinar radiasi untuk evaluasi keluhan dan gejala penyerta serta efek samping yang muncul dan hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin untuk mengevaluasi profil Hb, Lekosit dan Trombosit serta parameter lain yang diperlukan. Dalam kasus-kasus tertentu, untuk satu paket radioterapi memerlukan beberapa kali penyinaran, misalnya 33-35 kali radiasi pada kanker nasofaring, 16-25 kali pada kanker payudara, 25-30 kali pada kanker otak dan 25-28 kali pada keganasan ginekologi.

Efek samping yang terjadi akibat radioterapi dapat akut (acute effects) maupun lanjut  (late effects). Efek samping yang muncul tergantung pada daerah yang mendapat penyinaran seperti pada kepala dan leher yaitu mulut kering, air liur yang mengental, sakit tenggorokan, sukar menelan, mual, sariawan, kerusakan pada gigi dan gusi. Pada radiasi daerah tenggorokan, leher dan dada yaitu gangguan menelan, batuk, serak / perubahan suara. Pada radiasi daerah perut dan panggul yaitu mual, muntah, diare, cystitis, dan disfungsi seksual. Pada radiasi daerah kulit yaitu peradangan kulit (dermatitis radiasi) grade I-IV. Pada beberapa orang mungkin saja tidak mengalami efek samping sementara yang lainnya mengalami kejadian beberapa efek samping secara sekaligus, sebagian besar efek samping tersebut bersifat sementara dan mampu untuk dikendalikan dan yang terpenting akan segera hilang setelah terapi radiasi selesai.

Dokter Onkologi Radiasi di poliklinik akan memberikan pengobatan medikamentosa sesuai gejala dan keluhan yang muncul atau melakukan konsultasi rujukan kepada dokter ahli lainnya jika terdapat perburukan efek samping.

Di beberapa center layanan onkologi, secara periodik dilakukan pertemuan rutin (tumor board meeting) untuk membahas kasus-kasus sulit kanker, yang dihadiri oleh beberapa dokter ahli onkologi, dokter ahli patologi anatomi dan dokter ahli radiodiagnostik (tim multidsiplin). Hasilnya berupa rekomendasi tatalaksana terbaik pada pasien disesuaikan dengan kondisi dan keadaan umumnya.