Agus Suharto, S.Kep.Ners – Tuberkulosis (TBC) masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas communicable diseases setelah HIV di Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan beban TBC tertinggi ketiga setelah India dan China, memang sebuah prestasi fantastis namun tidak bisa dibanggakan. Merujuk pada Global Tuberculosis Report WHO 2019, Indonesia  merupakan negara dengan beban TBC tertinggi di dunia setelah India dan Tiongkok. Pada tahun 2018 diperkirakan terdapat 845.000 orang jatuh sakit dan 93.000 jiwa meninggal akibat TBC. Eliminasi pada tahun 2030 artinya pada tahun tersebut kasus TBC di Indonesia kurang dari 1 per 100.000 penduduk. Berdasarkan laporan global TBC dari WHO (World Health Organization), bahwa  lebih dari 500.000 orang terkena penyakit TBC di luar estimasi sebelumnya dan 9 juta orang telah terkena TBC pada tahun 2013 yang menyebabkan 1,5 juta orang meninggal, termasuk 360.000 orang terinfeksi HIV dan diperkirakan terdapat 480.000 kasus baru yang mengalami XDR (Extensively Drug Resistence) TB. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien dalam menelan obat adalah adanya PMO. Hakikatnya ketaatan pasien merupakan faktor kunci keberhasilan pengobatan. Salah satu panduan dari DOTS (Directly Observed Treatment Shortcouse) adalah panduan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) jangka pendek dengan pengawasan langsung. Keadaan yang menjamin keteraturan pengobatan diperlukan adanya pengiringan PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk menjamin keteraturan dan kepatuhan pengobatan penderita dengan standar pelayanan yang mengacu pada International Standart for Tuberculosis Care (ISTC) bertujuan mengendalikan tantangan baru yang ditimbulkan penyakit TBC seperti ko-infeksi TB/HIV, TBC yang resisten obat baik MDR atau XDR, Total DR (Total Drug Resistence) serta pencegahan dalam terjadinya penderita mengalami putus berobat (Loss to follow-up). Pengawas Menelan Obat (PMO) salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan Obat Anti Tuberkulosa (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperkukan seorang PMO.

Persyaratan PMO :

  1. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati pasien.
  2. Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.
  3. Bersedia membantu pasien dengan sukarela.
  4. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien.

Siapa yang bisa jadi PMO sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya, sanitarian, juru immunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota Persatuan Pemberantas Tuberkulosa Indonesia (PPTI), PKK, atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarganya.

Peran Seorang PMO (Pengawas Minum Obat) :

  1. Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.
  2. Memberikan dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
  3. Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan.
  4. Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan.

Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya :

  1. TB disebabkan kuman, bukan penyakit turunan atau kutukan.
  2. TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur.
  3. Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya.
  4. Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan).
  5. Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat teratur.
  6. Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. Amin, Zulkifli dan Bahar, Asril. 2009. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Kelima Jilid III. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
  2. Mutaqqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta : Salemba Medika.
  3. WHO. 2019. Global Tuberculosis Report 2018. Switzerland : WHO Press.
  4. Kementerian Kesehatan RI. 2016. TOSS TBC : Temukan TBC Obati Sampai Sembuh. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  5. Yoisangadji, A.S., Maramis F. R. R. & Rumaya A. A. 2016. Hubungan Antara Pegawas Menelan Obat (PMO) dan Peran Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Sario Kota Manado. Ilmiah Farmasi UNSRAT, 5 (2).