dr. Hari Yusti Laksono, Sp.JP – Penyakit jantung koroner atau lebih tepatnya Penyakit Arteri Koroner (Coronary Artery Disease (CAD)), adalah penyakit yang disebabkan penyempitan pembuluh darah epikardial, arteri koroner, oleh plak atherosklerosis. Penyakit arteri koroner bersama dengan stroke dan penyakit arteri perifer, merupakan kumpulan utama penyakit sebagai satu kesatuan dengan istilah Penyakit Kardiovaskular (Cardio Vascular Disease (CVD)). Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di dunia, data WHO menunjukkan pada tahun 2016 Penyakit kardiovaskular menyebabkan 17.9 juta kematian setiap tahun, mewakili 31% dari total kematian dalam 1 tahun di seluruh dunia. Serangan jantung dan stroke merupakan 85% penyebab kematian penyakit kardiovaskuler.1 Angka kematian akibat penyakit kardiovaskular diperkirakan dapat meningkat hingga lebih dari 22.2 juta kematian setiap tahun pada tahun 2030.2

Pandemi COVID-19 yang ditetapkan WHO sejak Maret 2020 merupakan permasalahan baru dan tantangan baru di seluruh dunia. COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) yang merupakan penyakit menular melalui udara / airborne disebabkan oleh SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome-CoronaVirus gen.2) yang sangat mudah menular dan memiliki mortalitas 4-8%. Hingga akhir Agustus 2020 total kasus COVID-19 di seluruh dunia mencapai lebih dari 25 juta kasus, dengan total kematian lebih dari 800 ribu jiwa di seluruh dunia. Di Indonesia menjadi salah satu negara terdampak besar, hingga akhir Agustus 2020 mencapai 174.796 kasus, dengan jumlah kematian 4% kasus pada angka 7417 jiwa.3

COVID-19 memiliki perjalanan penyakit yang beragam, dari gejala Infeksi Saluran Nafas Atas (ISPA) yang asimptomatik, ringan, hingga berat dengan sesak terkait infeksi saluran nafas bawah sebagai pneumonia yang menyebabkan ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) yang fatal. COVID-19 juga menyerang dengan mekanisme inflamasi fatal dengan istilah badai sitokin (cytokine storm), yang mana virus SARS-CoV-2 mengaktifkan beberapa sitokin pro inflamasi seperti IL-1α, IL-1β, dan TNF-α yang mengganggu homeostatik endotel, menyebabkan peradangan berlebih salah satunya peradangan otot jantung (miokarditis). COVID-19 melalui mekanisme prokoagulan dengan produksi berlebih sitokin IL-6 menyebabkan hepatosit meningkatkan produksi fibrinogen, PAI-1, dan c-reactive protein yang memicu terjadinya thrombosis di berbagai pembuluh mikrovaskuler, vena maupun arteri dalam tubuh, yang kesemuanya fatal bagi pasien COVID-19.4

Penelitian oleh Baldi dan rekan5 di Italia menunjukkan selama pandemi COVID-19 secara signifikan terdapat peningkatan jumlah kasus henti jantung di luar rumah sakit (Out of Hospital Cardiac Arrest-OHCA). Dalam rentang waktu sama 2 bulan antara Februari-April terdapat peningkatan signifikan kasus OHCA pada tahun 2020 sebesar 52% (490 kasus pada tahun 2020 vs 321 kasus pada tahun 2019). Pasien henti jantung yang akhirnya meninggal di tempat signifikan lebih tinggi selama pandemi 2020, dengan 253 kasus pada 2020 dan 156 kasus pada 2019. Penelitian oleh Lai dan rekan6 juga menunjukkan adanya peningkatan kasus henti jantung di luar rumah akibat non-traumatik pada tahun 2020 sebesar 3x kejadian kasus dibanding pada tahun 2019 (3989 kasus pada tahun 2020 vs 1336 kasus pada tahun 2019, rentang waktu 1 Maret – 25 April). Temuan adanya penurunan 40.2% rujukan ke rumah sakit terkait serangan jantung STEMI dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang diikuti peningkatan signifikan panggilan kegawatdaruratan hingga 52%, mengarah pada kesimpulan adanya sejumlah besar pasien yang mengalami serangan jantung infark miokard di rumah yang menyebabkan peningkatan risiko kejadian henti jantung mendadak.5 Tingkat kematian di tempat, keberhasilan resusitasi, dan kesintasan (survival) pasien di era pandemi dibanding di tahun 2019 juga menurun signifikan, disebabkan antara lain meningkatnya angka henti jantung yang tidak disaksikan (unwitnessed), menurunnya angka bantuan resusitasi orang terdekat (bystander), angka bantuan hidup jantung lanjut. Beberapa faktor penyebabnya antara lain adanya kekhawatiran masyarakat untuk pergi ke fasilitas kesehatan terkait risiko infeksi, kekhawatiran masyarakat terhadap korban henti jantung terkait risiko infeksi, kurangnya kehadiran orang terdekat di saat dibutuhkan terkait physical distancing, dan kurangnya kesiagaan terhadap gejala-gejala penyakit kardiovaskuler sebagai salah satu penyebab henti jantung, dimana pasien dengan penyakit kardiovaskular juga memiliki risiko mortalitas yang lebih tinggi pada infeksi COVID-19.5

Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit yang bisa dicegah, selain faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia, genetik, dan kecenderungan risiko pada laki-laki, beberapa faktor risiko yang dapat dimodifikasi bisa dikendalikan untuk pencegahan penyakit kardiovaskular. Faktor risiko yang bisa dimodifikasi yaitu hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus, obesitas, dan merokok.7 Modifikasi gaya hidup / lifestyle yaitu menghindari sedentary atau kurang aktivitas fisik, dengan cara olahraga rutin (intensitas sedang, 30 menit sehari, minimal 5 hari dalam sepekan), pola makan sehat (mengurangi gula, karbohidrat, kolesterol, tinggi garam), stop merokok maupun vaporisator / vape dapat mencegah kejadian hipertensi, dislipidemia, DM, maupun obesitas.

Tetap menjaga fisik, makan, dan kebiasaan lainnya selama masa pandemi COVID-19 ini penting karena dengan aktivitas fisik berkurang cenderung mengarah pada sedentary sehingga perlu kendali seperti pengaturan waktu olahraga yang disiplin, pengukuran berat badan dan lingkar pinggang, pola diet sehat, dan pendampingan keluarga ketat bagi program berhenti merokok. Kontrol tekanan darah di puskesmas atau klinik terdekat, atau dengan alat pengukur tekanan darah otomatis yang dikalibrasi minimal 1 tahun sekali tetap disiplin dilakukan untuk menjaga tekanan darah di bawah 140/90 mmHg sebagai kendali Hipertensi. Pemeriksaan kolesterol darah perifer atau profil lengkap darah vena minimal 6 bulan sekali di laboratorium pemeriksaan atau rumah sakit, pemeriksaan gula darah puasa dan postprandial penting tetap dilakukan selama pandemi khususnya pada pasien rutin setiap bulan atau minimal 3 bulan.

Identifikasi atau pengenalan keluhan khas penyakit kardiovaskular seperti nyeri atau rasa tidak nyaman di dada, sesak nafas, mudah lelah, kaki bengkak, kaki nyeri jika berjalan lama atau mendadak nyeri merupakan beberapa tanda-tanda gangguan di pembuluh darah jantung atau pembuluh darah perifer yang harus ditindak-lanjuti segera. Pemeriksaan rekam jantung atau Elektrokardiografi (EKG), Echokardiografi, dan Treadmill Test merupakan beberapa modalitas pemeriksaan penunjang untuk mengetahui penyakit kardiovaskular. Faktor risiko tinggi penyakit kardiovaskular (hipertensi, dislipidemia, DM, obesitas, merokok) dengan atau tanpa keluhan khas, memerlukan screening dengan alat-alat penunjang tersebut untuk mencegah pemberatan atau serangan jantung sebagai salah satu penyebab henti jantung dan kematian. EKG dapat mengidentifikasi tanda-tanda iskemia jantung, pembengkakan, pemanjangan interval QT dan aritmia sebagai faktor risiko henti jantung. Echokardiografi dapat melihat adanya pembengkakan, penebalan dinding jantung, fungsi pompa jantung, katup jantung, kelainan sekat jantung, gerakan jantung yang iskemia atau infark, serta hemodinamik jantung. Treadmill Test selain dapat meilhat kebugaran tubuh juga dapat melihat respon iskemik jantung dan memperkirakan risiko penyakit kardiovaskular di kemudian hari, jika risiko tinggi akan dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan dengan kateterisasi jantung untuk melihat langsung ke pembuluh arteri koroner ada tidaknya penyempitan akibat plak atherosclerosis, yang jika indikasi dapat dilanjutkan dengan intervensi pada penyempitan plak hingga pemasangan stent atau istilah awamnya ring jantung untuk melebarkan dan stabilisasi pembuluh arteri koroner sehingga mengurangi iskemia dan mencegah serangan jantung yang fatal di kemudian hari.

Menjaga gaya hidup tetap sehat, kontrol rutin, serta mengenali tanda dan gejala gangguan terkait penyakit kardiovaskular secara dini dan memeriksakan ke fasilitas kesehatan, dengan tetap disiplin protokol kesehatan pandemi (memakai masker, alat pelindung diri lainnya, menjaga kebersihan tangan) penting dipahami bersama di masa pandemi ini untuk menjaga tetap sehat terhindar dari infeksi SARS-CoV-2 dan juga dari penyakit kardiovaskular.

 

 

 

 

 

Referensi :

  1. 2017. Cardiovascular diseases (CVDs). May 17th, 2017. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular-diseases-(cvds).
  2. 2020. Heart Disease and Stroke Statistics-2020 At-a-Glance. https://www.heart.org/-/media/files/about-us/statistics/2020-heart-disease-andstroke-ucm_505473.pdf?la=en.
  3. 2020. COVID-19 Coronavirus Pandemic. https://www.worldometers.info /coronavirus/country/indonesia/.
  4. Libby P., Luscher T. 2020. COVID-19 is, in the end, an endothelial disease. Eur Heart J (2020) 41, 3038-3044.
  5. Baldi E., Sechi GM., Mare C., Canevari F., Brancaglione A., et al. 2020. COVID-19 kills at home: the close relationship between the epidemic and the increase of out-of-hospital cardiac arrests. Eur Heart J(2020) 41, 3045-3054.
  6. Lai PH, Lancet EA, Weiden MD, Webber MP, Zeig-Owens R, et al.2020. Characteristics Associated With Out-of-Hospital Cardiac Arrests and Resuscitations During the Novel Coronavirus Disease 2019 Pandemic in New York City. JAMA Cardiol. doi:10.1001/ jamacardio.2020.2488.
  7. Piepoli MF, Hoes AW, Agewall S, Albus C., Brotons C., Catapano AL, et al. 2016. 2016 European Guidelines on cardiovascular disease prevention in clinical practice. Eur Heart J (2016) 37, 2315-2381.