Tim Promkes RSST – Kita ketahui bahwa semua jenis buah memiliki kandungan gizi, vitamin, mineral dan serat yang sangat perlu untuk dikonsumsi setiap hari. Keanekaragaman warna pada buah bukanlah sekedar pembeda jenis antar buah yang satu dengan yang lainnya. Warna buah merupakan sumber informasi dari kandungan nutrisinya. Kandungan dan jenis phytonutrient dalam buah diindikasikan oleh warna buah. Masing-masing mempunyai manfaat tersendiri untuk tubuh sesuai dengan warnanya.

Masalah yang berkaitan dengan perilaku makan adalah kurangnya mengkonsumsi buah. Banyak orang yang tidak mengetahui manfaat yang terkandung di dalam berbagai macam buah, sehingga mereka jarang mengkonsumsi buah setiap hari. Berdasarkan hasil Riskesdas dan Studi Diet Total (SDT) tahun 2014 konsumsi penduduk terhadap buah dan olahannya masih rendah. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa rendahnya konsumsi buah berperan dalam 1,7 juta kematian dari penyakit-penyakit kronis pertahun. Sehingga WHO merekomendasikan setiap orang mengkonsumsi buah dan sayur minumal 400 gram/kap/hari untuk mencegah penyakit kronis seperti jantung, kanker, diabetes, obesitas dan mengurangi beberapa defisiensi mineral. Berdasarkan UU Kesehatan No. 41 Tahun 2014 dianjurkan untuk mengkonsumsi buah 2-3 porsi buah dalam Tumpeng Gizi Seimbang.

Konsumsi buah dalam jumlah yang cukup sangat penting bagi kesehatan manusia, data dari berbagai sumber menunjukkan bahwa tingkat konsumsi buah-buahan penduduk Indonesia masih jauh di bawah tingkat kecukupan konsumsi buah-buahan yang direkomendasikan oleh WHO. Rendahnya konsumsi buah penduduk Indonesia sangat disayangkan mengingat potensi buah di Indonesia yang sangat banyak dan beragam.

Hasil penelitian Andika dan Siti (2015), mengenai konsumsi buah dan sayur anak usia sekolah dasar di Bogor, menunjukkan bahwa pengetahuan anak tentang buah serta kandungan gizinya dan pendidikan orang tua, berhubungan positif dengan konsumsi buah dan sayur anak. Perlu perbaikan dan peningkatan pengetahuan tentang buah pada anak.

Hasil ini sesuai dengan Hasil penelitian Lock et al. (2005) yang dilakukan dibeberapa negara bagian Afrika, Amerika, dan Asia yang terdiri atas 14 wilayah bagian menyebutkan bahwa anak usia 5-14 tahun memiliki kecenderungan 20% mengonsumsi buah dan sayur lebih rendah bila dibandingkan dengan orang dewasa 30-59 tahun. Rata-rata konsumsi buah dan sayur pada anak usia 5-14 tahun di Asia Tenggara memperlihatkan hasil yang sangat rendah yaitu 182 g/hari. Hasil tersebut berbeda jauh dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh WHO, bahwa konsumsi buah dan sayur adalah 400 g (5 porsi) per hari untuk semua kelompok usia (WHO 2003).

Berbagai faktor berpengaruh terhadap pola dan perilaku konsumsi buah dan sayur di masyarakat. Vereecken et al. (2004) menyatakan bahwa ketika anak memasuki usia sekolah, anak mulai mendapat pengaruh dari lingkungan luar, seperti guru, teman sebaya dan satu grup, orang lain di sekolah, dan juga adanya pengaruh dari media. Pengaruh tersebut dapat dikelompokkan ke dalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri atas faktor-faktor yang berpengaruh positif dan negatif terhadap konsumsi buah dan sayur yang berasal dari pengetahuan dan sikap. Faktor eksternal merupakan peluang dan hambatan yang berpengaruh terhadap konsumsi sayuran dan buah yang berasal dari luar diri seperti ketersediaan pangan buah dan sayur, pendidikan ibu (orang tua), pendapatan keluarga, dan media sosialisasi (Aswatini et al. 2008).

Hasil penelitian Bahria dan Triyanti (2010), konsumsi buah dan sayur pada remaja di 4 SMA Jakarta Barat menunjukkan bahwa sebesar 92,1% remaja, kurang mengkonsumsi buah dan terdapat kecenderungan presentasi remaja yang berpengetahuan tentang buah dan gizi buah, lebih banyak mengkonsumsi buah dibanding dengan yang pengetahuannya kurang.

Dalam penelitian ini diasumsikan bahwa dengan pengetahuan gizi yang baik dapat mendukung mereka untuk mengkonsumsi buah dan sayur yang cukup. Menurut Thomas, 1994 dalam Gracey, 1996, pengetahuan tentang makanan yang sehat menjadi faktor predisposing dalam menerapkan diet sehat salah satunya dengan konsumsi buah dan sayur yang cukup. Menurut Rickert (1996) bahwa pengetahuan gizi merupakan suatu landasan kognitif untuk terbentuknya sikap, termasuk sikap dan perilaku seseorang dalam pemilihan makanan. Selain itu menurut Spear (1993) individu yang berpengetahuan gizi baik lebih mudah dalam memilih dan mengolah makanan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Terpaparnya seseorang dengan informasi tersebut, maka pengetahuan seseorang akan lebih terbuka sehingga pemilihan makanan sehat khususnya buah dan sayur akan lebih baik. Menurut Fisher dan Diane (2003), media bisa berpengaruh positif dalam mempromosikan informasi kesehatan dan peningkatan kesadaran atas pemilihan makanan yang sehat. Menurut Schlenker (2007), perkembangan teknologi dan media massa juga mempunyai peran dalam pemilihan makanan.

Kita ketahui remaja tergolong mudah menerima informasi sehingga dengan terpapar informasi tentang buah dan sayur dapat mendorong mereka untuk mengkonsumsi buah dan sayur, dengan demikian secara tidak langsung harapan golongan remaja untuk mengkonsumsi buah dan sayur menjadi suatu kebiasaan yang baik untuk dilakukan.

Warna pada buah bukanlah sekedar pembeda jenis antara buah yang satu dengan lainnya. Lebih dari itu, warna buah merupakan sumber informasi kandungan nutrisinya (Ida A K, 2010).

Buah-buahan berwarna mengandung ratusan jenis fitokimia yang berbeda satu sama lain. Senyawa fitokimia (fito = tumbuhan) adalah senyawa kimia yang terdapat di dalam tanaman yang memberikan rasa, aroma, atau warna khas pada tanaman tersebut. Warna putih mempunyai manfaat pencegah penyakit sistemik (jantung, hipertensi, diabetes mellitus, antibiotik, sumber vitamin C, sumber kalsium, hingga melawan sel kanker). Salah satu contoh buah yang berwarna putih adalah bengkuang. Bengkuang mengandung fitoesterogen yang dapat dimanfaatkan tubuh sebagai cadangan esterogen. Cadangan fitoesterogen dapat digunakan setelah masa menopause, sehingga tulang dan fisik wanita tetap fit meski telah berusia senja (Setioko, 2010).

Warna merah membantu mengurangi risiko beberapa jenis kanker, membantu melindungi otak, jantung, hati, dan sistem kekebalan tubuh (The Institute for Functional Medicine, 2014). Buah berwarna merah mengindikasikan kandungan antosianin dan likopen. Antosianin berguna untuk mencegah infeksi dan kanker kandung kemih, sedangkan likopen menghambat fungsi kemunduran fisik dan mental agar tidak mudah pikun, selain itu likopen juga mencegah bermacam-macam penyakit kanker, sedangkan warna merah pada sayuran menandakan bahwa sayuran itu mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai anti kanker. Buah berwarna merah adalah semangka, stroberi, tomat, dan jambu biji merah, sedangkan sayur berwarna merah adalah kol merah dan bayam merah (Setioko, 2010).

Warna ungu seperti pada anggur, blackberry, raspberry dan cranberry kaya akan antosianin pigmen pemberi warna merah ungu. Antosianin yang berfungsi sebagai anti inflamasi juga mampu menurunkan risiko alergi. Warna hijau mengandung asam alegat yang ampuh menggempur berbagai bibit sel kanker. Kekurangan sayuran berwarna hijau menyebabkan kulit jadi kasar dan bersisik. Buah berwarna hijau adalah alpukat, melon, anggur hijau, sedangkan sayuran berwarna hijau adalah bayam, sawi hijau, bokcoi, brokoli, dan daun singkong (Setioko, 2010). Makanan berwarna hijau sehat karena mengandung senyawa anti kanker, anti inflamasi, dapat melindungi otak, jantung, pembuluh darah, hati, dan kulit. Keunikan dari makanan berwarna hijau adalah membantu hati untuk bekerja dan membantu menjaga keseimbangan hormon. Buah berwarna hijau mengandung banyak klorofil, karotenoid, kalsium, zat besi dan belerang. Contohnya melon hijau, apel, sirsak, srikaya, avokat, dan anggur hijau (Budiana, 2013).

Warna oranye terkandung zat warna yang disebut beta karoten. Beta karoten memiliki banyak manfaat bagi tubuh, salah satunya yang paling di kenal adalah sebagai antioksidan yang merawat saraf penglihatan, selain itu beta karoten juga mampu mencegah terjadinya plak dan timbunan kolesterol di dalam pembuluh darah sehingga menurunkan risiko penyakit jantung (Setioko, 2010). Warna kuning kaya akan kalium, unsur nutrisi yang sangat bermanfaat untuk mencegah stroke dan jantung koroner. Buah berwarna kuning adalah belimbing, nanas, pisang. Bahan pangan berwarna kuning mengandung pigmen beta cryptoxanthin, lutein, dan zeaxanthin. Beta cryptoxanthin terbukti berperan sebagai pencegah osteoporosis terutama pada wanita pasca menopause. Konsumsi pisang dapat membantu tubuh menjadi lebih segar dan menurunkan risiko terjadinya stroke (Setioko, 2010). Warna jingga atau atau kuning berfungsi untuk menghambat proses penuaan dan meremajakan sel-sel tubuh, selain itu juga beta karoten yang ada di dalam tubuh berubah menjadi vitamin A yang akan memacu sistem kekebalan, sehingga tidak mudah terserang penyakit. Jenis buah berwarna jingga adalah melon jingga, pepaya, aprikot, mangga, dan jeruk (Budiana, 2013). Warna biru / ungu / hitam mengandung senyawa anti kanker, anti inflamasi, dan dapat melindungi otak, jantung, serta pembuluh darah (The Institute for Functional Medicine, 2014).

Kandungan dan jenis phytonutrient dalam buah diindikasikan oleh warna buah. Masing-masing mempunyai manfaat tersendiri bagi tubuh sesuai warnanya sebagai berikut :

  1. Kelompok buah warna putih untuk menjaga kesehatan tulang dan sendi.
  2. Kelompok buah warna kuning-jingga untuk menjaga kesehatan mata.
  3. Kelompok buah warna merah untuk menjaga kesehatan jantung.
  4. Kelompok buah warna ungu untuk menjaga kesehatan otak.
  5. Kelompok buah warna hijau untuk menjaga kesehatan sel. (Global Phytonutrient Reports dari Nutrilite, 2014)

Kandungan phytonutrient yang diindikasikan oleh warna buah sangat penting untuk kesehatan. Penduduk dunia yang mengkonsumsi buah dan sayuran sangat sedikit, baik dari segi jumlah maupun keanekaragamannya sehingga berpotensi rendahnya asupan phytonutrient. Fakta penting tentang phytonutrient di dunia, 1,7 juta kematian di dunia setiap tahun disebabkan oleh kekurangan konsumsi buah dan sayuran setiap harinya. Data menunjukkan 75% penduduk dunia tidak mengkonsumsi buah dan sayuran seperti yang telah direkomendasikan WHO. WHO merekomendasikan 5-9 porsi (400-600 gram) buah dan sayuran untuk dikonsumsi setiap harinya (Kemenkes RI, 2014). Perlu diperhatikan ukuran porsi serta variasi warna (5-7 warna buah / sayur) yang dikonsumsi setiap hari untuk memaksimalkan manfaat bagi kesehatan. Dengan demikian buah dan sayur bagi tubuh kita manfaatnya sangat luar biasa, sehingga dengan konsumsi buah dan sayur secara rutin dapat menjadikan tubuh sehat dan bugar. Dan kita ketahui keanekaragaman buah dan sayur yang melimpah saat ini tentunya menjadi kebanggan bagi kita bersama, dan menjadikan suatu kerugian jika kita kurang dalam mengkonsumsinya. (Dn)

 

 

 

 

 

Referensi               :

  1. Aswatini, Noveria M, Fitranita. 2008. Konsumsi Sayur dan Buah di Masyarakat Dalam Konteks Pemenuhan Gizi Seimbang. Jakarta : Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPK-LIPI).
  2. Bahria, Triyanti. 2010. Faktor-faktor yang Terkait Dengan Konsumsi Buah dan Sayur Pada Remaja di 4 SMA Jakarta Barat. Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 4 No 2 : 63-71.
  3. Budiana, N.S. 2013. Buah Ajaib Tumpas Penyakit. Jakarta Timur : Swadaya.
  4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Studi Diet Total Potret Pola Makan Penduduk Indonesia.
  5. Ida Ayu Eka. 2010. Manfaat Buah-buahan dan Sayur-sayuran.
  6. Lock K, Pomerleau J, Causer L, Altmann DR, Mckee M. 2005. The Global Burden of Disease Attribute to Low Consumption of Fruit and Vegetables: Implications For The Global Strategy On Diet. Bull World Organ 83(2):100-8.
  7. Mohammad, Andika. Madanijah, Siti. 2015. Konsumsi Buah dan Sayur Anak Usia Sekolah Dasar di Bogor.
  8. Nurtilite. 2014. Global Phytonutrient Report. Majalah Amagram. 11 Januari. Jakarta.
  9. Vereecken CA, Keukelier E, Maes L. 2004. Influence of Mother’s Educational Level on Food Parenting Practices and Food Habits of Young Children. Appetite 43:93-103.
  10. World Health Organization. 2003. Report of a Joint WHO/FAO Expert Consultation : Diet, Nutrition, and the Prevention of Chronic Disease Geneva. Geneva : WHO.
  11. Sawitri Komarayanti Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Jember. Jurnal Biologi dan Pembelajaran Biologi Volume 2 Nomor 1Tahun 2017 (p-ISSN 2527-7111; e-ISSN 2528-1615).