Klaten – Asma adalah penyakit kronis dari sistem pernapasan yang ditandai oleh penyempitan saluran pernapasan kecil dan bronkiolus, meningkat bronkial sekresi atau lendir dan pembengkakan mukosa atau peradangan, sering dalam menanggapi satu atau lebih memicu. Asma ditandai  dengan  serangan  sesak  dada, batuk dan mengiakibatkan obstruksi jalan nafas (Gibbs, 2008).

Asma menjadi 5 penyakit terbesar yang menyumbang kematian di dunia  karena prevalensinya mencapai 17,4%. Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO),  pada tahun 2010 menunjukkan sebanyak 300 juta orang di dunia mengidap penyakit asma dan 225 ribu orang meninggal karena penyakit asma. Jumlah  ini  diprediksi meningkat hingga 400 juta pada tahun 2025. Prevalensi asma pada anak sebesar 8-10% dan pada orang dewasa 3-5%. Prevalensi asma di Indonesia merupakan 10 besar penyebab kesakitan dan kematian, diperkirakan 2-5% penduduk Indonesia menderita asma.

Pada masa lalu penderita asma dilarang melakukan olahraga karena dapat   menimbulkan   serangan   asma. Saat ini   konsep   tersebut   telah ditinggalkan, penderita dianjurkan untuk olahraga agar mendapatkan kesegaran jasmani, meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi ketergantungan terhadap lingkungan (Pompiniet al, 2005).

Olahraga yang dianjurkan  pada  penderita  asma  adalah  senam pernapasan  dan  berenang. Yayasan Asma  Indonesia(YAI) telah membakukan  bentuk  senam  bagi  penderita  asma  yaitu  pemanasan dan peregangan  (10-15  menit),  latihan  inti  A dan B (30 menit), aerobik (5 menit) serta pendinginan (5 menit) (Yunus, 2002).

Senam Asma muncul pertama kali tahun 1988 dengan nama yang berbeda-beda contohnya senam nafas segar dan belum ada ketentuan gerakan dan musik sehingga yang terjadi setiap klub berbeda cara senamnya. Pada tahun 1993 diadakan seminar mengenai Senam Asma yang bertempat di Cipayung menghasilkan kesepakatan untuk dibakukannya gerakan dan musik untuk Senam Asma untuk seluruh Indonesia.

Awal tahun 2000 dilakukan penelitian oleh dr. Joni Iskandar, Sp.P bahwa Senam Asma yang sudah ditentukan belum memenuhi standar karena kurangnya durasi waktu senam sehingga diadakan kembali seminar nasional Yayasan Asma Indonesia (YAI) yang bertempat di cabang RSUP Persahabatan dan dihadiri berbagai jenis profesi diantaranya dokter Spesialis Olahraga, dokter Spesialis Paru, dokter Rehab Medik, Fisioterapis dan instruktur senam dari seluruh Indonesia. Hasil dari seminar maka dibentuklah tim untuk membentuk Senam Asma versi baru yang terdiri dari Prof. dr. Faisal Yunus Ph.D, Sp.P(K), Prof. dr. Wiwien Heru Wiyono, Ph.D, Sp.P(K),  dr. Erlina Burhan, MSc, Sp.P, Dede Hidayat, SKM dan dr. Entin.

Pada Senam Asma ini pernah dilakukan penelitian oleh beberapa profesi yang terkait dengan kesehatan seperti fisioterapis dan kedokteran spesialis Paru, ada penelitian yang membandingkan senam Asma dengan seni bela diri silat Satria Nusantara dalam hal kaitannya untuk bagaimana memperbaiki pola nafas yang hasilnya lebih efektif pada senam Asma.

Berdasarkan hal tersebut di atas dan sebagai upaya tindak lanjut pelaksanaan program kerja unit PKRS sesuai standart PKRS No 3 tentang pemberdayaan masyarakat RS elemen 6 bahwa di rumah sakit harus melakukan program pemberdayaan masyarakat melalui organisasi kelompok dan standar 5 tentang kemitraan, Unit Kerja PKRS RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten (RSST) melaksanakan kegiatan Senam Klub Asma RSST melalui wadah Klub Senam Asma.

Klub Senam Asma sebagai wadah organisasi bagi seluruh masyarakat yang mempunyai tujuan dalam memasyarakatkan senam asma untuk mendukung program pemerintah dalam hal kesehatan masyarakat melalui upaya promotif dan preventif.

Klub Senam Asma Unit RSST merupakan wadah organisasi seluruh tenaga kesehatan dan masyarakat di Kabupaten Klaten dan merupakan perpanjangantangan dari Yayasan Asma Indonesia yang berupaya untuk lebih meningkatkan keberadaannya. Upaya yang dilakukan adalah dengan maksud untuk mendukung Klaten sehat. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain mensosialisasikan senam asma di lingkungan Kabupaten Klaten.

Kegiatan senam asma bersama di RSST sudah terlaksana sejak tahun 2017, akan tetapi belum dilaksanakan kegiatan pengukuhan klub asma di RSST ini oleh YAI Cabang Surakarta. Oleh sebab itu, pada Minggu, 24 November 2019 dilaksanakan kegiatan Pengukuhan Klub Asma RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro oleh Yayasan Asma Indonesia (YAI) Cabang Surakarta dan Senam Asma Bersama Se-Solo Raya pukul 06.00 – 11.00 WIB di Halaman Instalasi Rawat Jalan Terpadu (IRJT) RSST.

500 orang tamu undangan klub asma anggota YAI Cabang Surakarta, seperti Klub Asma BBKPM Surakarta, Klub Asma RSUD dr. Moewardi Surakarta, Klub Asma RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dan 20 Klub Asma lainnya hadir dan memeriahkan kegiatan ini.

Direktur Medik dan Keperawatan RSST, dr. Juli Purnomo, Sp.P, MPH dan Ketua Umum YAI Cabang Surakarta, Prof. DR. dr. Suradi, Sp.P (K) MARS, FISR memberikan sambutan dalam kegiatan ini.

Selanjutnya dilaksanakan kegiatan pengukuhan klub asma RSST oleh YAI Cabang Surakarta, dengan pembacaan SK pengurus, pengalungan medali kepada ketua I pengurus klub asma RSST yaitu dr. Zakiah Novianti, Sp.P, M.Kes serta diikuti pemakaian pin oleh seluruh pengurus klub asma RSST.

Setelah dilaksanakan kegiatan pengukuhan, dilanjutkan acara senam asma bersama selama kurang lebih 1 (satu) jam. Setelah senam usai, masih dilanjutkan acara ramah tamah, panggung hiburan, makan bersama, dan pengundian doorprize dengan grandprize 1 (satu) buah sepeda. Kegiatan berjalan lancar dan antusiasme seluruh peserta sangat luar biasa.