dr. Riana Herviati, Sp.KK, M.Kes – Penyakit Kusta atau Lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit menular, menahun yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang saraf tepi, kulit, dan jaringan tubuh lain, serta dapat menyebabkan kecacatan. Kuman lepra ditemukan pertama kali oleh Armauer Hansen pada tahun 1873.

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit tertua yang dikenal manusia. Ada pendapat, penyakit ini berasal dari Asia Tengah kemudian menyebar ke Mesir, Eropa, Afrika dan Amerika.

Pada tahun 1997, di Indonesia tercatat 33.739 orang penderita kusta. Merupakan negara ketiga terbanyak setelah India dan Brazil. Prevalensi kusta dan tingkat deteksi pada 11 negara endemik pada tahun 2000 untuk kasus baru yang terdeteksi, Indonesia menempati urutan ke-4 dengan 17.477 kasus.

Cara penularan penyakit lepra adalah melalui saluran pernafasan dan kulit. Namun timbulnya penyakit kusta bagi seseorang tidak mudah, tergantung dari beberapa faktor, antara lain :

  1. Faktor Sumber Penularan

Sumber penularan adalah penderita kusta multibasiler (kusta tipe basah). Apabila penderita multibasiler berobat secara teratur, maka kemungkinan penularan semakin kecil.

  1. Faktor Kuman Kusta

Kuman kusta dapat hidup di luar tubuh manusia antara 1 – 9 hari. Hanya kuman kusta yang utuh saja yang dapat menimbulkan penularan. Masa tunas kusta cukup lama, yaitu 2 – 5 tahun.

  1. Faktor Daya Tahan Tubuh

Tidak semua orang yang terpapar akan menderita kusta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 orang yang terpapar : 95 orang tidak menjadi sakit, 3 orang sakit namun sembuh sendiri tanpa obat, dan 2 orang menjadi sakit.

Diagnosa penyakit kusta ditetapkan dengan mencari tanda-tanda pokok atau 3 tanda kardinal, yaitu :

  1. Kelainan Kulit yang Matirasa

Dapat berupa bercak putih, bercak kemerahan, penebalan kulit ataupun benjolan. Jumlahnya bisa tunggal, beberapa, atau seluruh tubuh. Matirasa diartikan dengan hilangnya atau berkurangnya rasa raba, rasa nyeri atau suhu (tidak bisa membedakan sensasi dingin / panas) pada lesi kulit tersebut. Pada tipe yang berat, dijumpai matirasa pada kedua tangan dan kaki.

Bisa pula ditemukan gangguan pembentukan keringat sehingga kulit kering, dan kerontokan rambut.

  1. Penebalan Saraf Tepi
  2. Ditemukan Kuman Bakteri Tahan Asam (BTA) leprae pada Pemeriksaan Korekan Jaringan Kulit

 

Seseorang dinyatakan menderita kusta bila ditemukan sekurang-kurangnya 2 dari tanda kardinal di atas atau ditemukan BTA positif.

WHO mengklasifikasikan pasien kusta menjadi 3 tipe :

  1. Kusta Pausibasiler Lesi Tunggal

Kelainan kulit yang timbul berupa 1 buah lesi kulit, bisa bercak keputihan (hipopigmentasi), benjolan atau area kulit yang nampak kering. Tidak ada saraf tepi yang terkena.

  1. Kusta Pausibasiler (Tipe Kering)

Kelainan kulit berupa bercak keputihan atau kemerahan disertai matirasa. Jumlah berkisar 2 – 5, distribusi asimetris. Melibatkan 1 saraf tepi yang terkena.

  1. Kusta Multibasiler (Tipe Basah)

Sebagian besar kelainan kulit berupa bercak / penebalan kulit  kemerahan, matirasa. Jumlah lebih dari 5, distribusi biasanya simetris. Melibatkan beberapa saraf tepi.

Komplikasi yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya kecacatan. Cacat pada penyakit kusta dapat timbul secara primer dan sekunder.

Cacat primer : disebabkan langsung oleh aktivitas penyakitnya, meliputi kerusakan jaringan akibat kuman lepra.

Contoh : kulit mati rasa, kulit kering, kerontokan rambut (terutama pada alis = madarosis ), kerusakan jaringan tulang rawan (telinga, hidung), kerusakan tulang jari tangan dan kaki.

Cacat sekunder : cacat yang tidak langsung disebabkan oleh kuman kusta, melainkan akibat matirasa dan kelemahan saraf motorik.

Contoh :

  1. Luka bakar atau koreng dalam karena penderita tidak menyadari adanya trauma.
  2. Infeksi kornea mata karena kelopak mata tidak dapat menutup sempurna akibat kelemahan saraf.
  3. Tangan cakar (claw hand).

Penyakit kusta dengan gejala dini belum menderita cacat dan kalau segera diobati maka proses penyakitnya terhenti dan dapat sembuh tanpa cacat.

Pencegahan khusus penyakit kusta belum ada. Cara efektif yang saat ini dikerjakan adalah deteksi atau menemukan kasus yang masih dini dan segera diobati dengan MDT sehingga mengurangi penularan penyakit.

Pencegahan juga dilaksanakan dengan melakukan pemeriksaan berkala secara teratur pada anak-anak sekolah, pemeriksaan kontak serumah dengan penderita kusta.